OUR NETWORK

David Villa dan Ambisi Sir Alex Ferguson yang Tidak Kesampaian

Kompetisi tertinggi Jepang, J1 League, akan berakhir pada 7 Desember 2019. Saat itu terjadi, maka karier seorang David Villa di dunia sepakbola juga akan berhenti. Pada Rabu (13/11), mantan penggawa timnas Spanyol ini memutuskan untuk pensiun setelah musim ini berakhir.

“Setelah 18 tahun menjadi pemain profesional, saya memutuskan akan pensiun dari bermain sepakbola akhir musim ini. Terima kasih kepada semua tim, pelatih, dan rekan satu tim yang mengizinkan saya menikmati karier impian saya,” tulis David Villa dalam akun Twitter resminya.

El Guaje adalah salah satu pemain sepakbola terbaik yang pernah dimiliki oleh Spanyol. Ia adalah tulang punggung La Furia Roja dalam enam turnamen internasional. Hanya Euro 2012 satu-satunya turnamen ketika Villa absen karena menderita cedera patah tulang ketika membela Barcelona pada Piala Dunia Antar Klub enam bulan sebelumnya.

Sejauh ini, Villa masih tercatat sebagai pencetak gol terbanyak tim nasional dengan 59 gol dari 98 pertandingan dengan sembilan diantaranya dicetak pada tiga Piala Dunia yang pernah dia ikuti (2006, 2010, dan 2014). Dari kontribusinya tersebut, ia memberikan dua gelar berupa Euro 2008 dan Piala Dunia 2010 yang menjadi gelar Piala Dunia pertama Spanyol.

Striker identik dengan gol, dan Villa adalah salah satu pencetak gol terbaik yang pernah ada. Bagaimana tidak, ketajamannya seolah belum mau berakhir sebelum dia benar-benar ingin mengakhiri kariernya. Ada 380 gol yang sudah dibuat bersama sembilan kesebelasan berbeda. Sejak namanya mulai mencuat, hanya satu kali perolehan golnya tidak sampai dua digit yaitu ketika memperkuat Barcelona pada musim ketika ia cedera patah tulang.

Dibekali postur yang tidak terlalu tinggi, Villa mengakalinya dengan kelincahan dan penempatan posisi yang baik. Kecepatannya juga merepotkan bagi bek-bek lawan. Vicente Del Bosque, pelatih Villa di timnas Spanyol menyebut kalau mantan pemain Sporting Gijon ini adalah sosok yang tenang ketika berada di depan gawang. Sementara Johan Cruyff pernah berujar kalau Villa tidak hanya pandai berurusan dengan gawang melainkan juga sosok yang siap untuk membuka ruang demi pemain lain.

Hasrat Sir Alex Ferguson yang Tidak Kesampaian

Valencia merupakan tempat yang paling berkesan bagi seorang David Villa. Di Mestalla, sinar David Villa semakin berkilau setelah menjalani perkembangan yang cukup mantap bersama Sporting Gijon dan Real Zaragoza. Meski hanya mendapat satu gelar berupa Copa Del Rey, namun ia selalu menjadi top skor klub di akhir musim dan total membuat 129 gol dari 225 pertandingan. Torehan yang kemudian membuka pintu untuk Villa menancapkan tajinya bersama tim nasional.

Saat itu, Valencia diisi oleh pemain-pemain muda yang diprediksi menjadi pemain hebat suatu saat nanti. Selain Villa ada pula David Silva dan Juan Mata. Beberapa nama lain seperti Pablo Hernandez dan Ever Banega juga masuk dalam daftar. Ini yang kemudian membuat banyak klub besar ramai-ramai mencari pemain dari El Che.

Villa adalah salah satu target besar di pasar pada saat itu. Terutama setelah ia membawa Spanyol juara Piala Dunia 2010. Dua nama yang santer diberitakan akan menggaet Villa adalah Manchester United dan FC Barcelona. Dunia pun tahu siapa yang akhirnya memenangi perburuan tersebut.

Sir Alex Ferguson mengaku kalau ia kalah start dari Barcelona dalam merekrut Villa. Si pemain sendiri bergabung ke Blaugrana pada 19 Mei atau tiga hari setelah kompetisi La Liga 2009/10 berakhir. 35 juta paun disebut-sebut merupakan harga yang harus ditebus Barcelona saat itu.

“Kami mencari beberapa opsi penyerang. Kami memang mempertimbangkan David Villa tetapi dia nampaknya hanya ingin pergi ke Barcelona,” tutur Sir Alex seperti dikutip Daily Mail.

Sektor penyerang menjadi target United jelang musim 2010/11 dimulai. Musim sebelumnya, United terlalu bergantung kepada Wayne Rooney yang kemudian mengalami cedera pada pekan-pekan krusial yang berpengaruh terhadap lepasnya gelar Premier League ke tangan Chelsea. Permainan Dimitar Berbatov dan Michael Owen juga tidak terlalu mentereng.

Rumor kalau Setan Merah memilih irit menjadi topik pemberitaan pada saat itu. Sesuatu yang sempat membuat keluarga Glazer menjadi sasaran cemoohan penggemar United karena tidak mau mengucurkan uang. Saat itu, membeli pemain mahal mulai menjadi tradisi bagi kesebelasan yang ingin unjuk kekuatan di Eropa. Namun Ferguson membela Glazer dengan menyebut kalau uang bukan masalah United gagal mendatangkan Villa.

“Keuangan kami tidak ada batasnya. Jika saya tidak yakin dengan nilai uang di pasar, kami baru akan melakukan sesuatu. Saya melihat sekeliling dan hanya ada satu pemain yang akan saya bawa ke sini (Villa). Tapi langkah itu ditutup lebih awal oleh klub yang benar-benar hanya ingin ia datangi,” kata Ferguson menambahkan.

Setan Merah pun pada akhirnya hanya mengeluarkan 25 juta paun saat itu untuk membeli trio Javier Hernandez, Chris Smalling, dan pemain yang kontribusinya bisa dihitung jari yaitu Bebe. Ferguson merasa kalau tiga pemain ini sudah cukup untuk membuat United kembali berjaya di liga dan kembali meraih Liga Champions. Namun Fergie juga seolah memberi ultimatum kalau dia juga butuh pemain top.

Skuad yang dirasa bisa bersaing di Liga Champions itu ternya hanya mampu membuahkan satu trofi saja yaitu Premier League. Pada kompetisi tertinggi di benua Eropa, mereka sebenarnya bisa juara namun kalah 1-3 di Wembley dari Barcelona, yang menurut Fergie adalah tim terbaik yang pernah ia hadapi. Apes bagi dirinya, karena satu gol saat itu dicetak oleh Villa.

Comments

Loading...