OUR NETWORK

20 Oktober 1996: Pembalasan Dendam Newcastle pada Manchester United

Musim 1995/1996 menjadi musim yang sensasional bagi Manchester United. Bagaimana tidak, Setan Merah berhasil menutup musim tersebut dengan meraih gelar ganda berupa Premier League dan Piala FA. Sir Alex Ferguson bahkan meraih dua piala tersebut dengan anak-anak yang dikenal sebagai Class of ’92.

Yang patut dikenang dari musim tersebut adalah kesuksesan mereka di Premier League. United mengejar ketertinggalan 12 poin dari Newcastle United yang sudah memimpin klasemen sejak awal musim. Pada bulan April, Setan Merah menyalip The Magpies dan bertahan hingga akhir musim sebagai juara.

Hal tersebut tentu saja membuat kubu Newcastle kecewa. Mereka sudah tidak pernah lagi merasakan gelar liga sejak 1927. Bahkan dalam perjalanannya saat itu, mereka dikalahkan oleh United di kandang sendiri yang menjadi titik balik kebangkitan Setan Merah. Mereka seolah diselimuti dendam ketika memasuki musim 1996/1997.

Setengah dendam mereka kepada United berhasil ditutupi dengan keberhasilan mereka merekrut Alan Shearer dari Blackburn Rovers. Shearer ketika itu diincar United dan dikabarkan selangkah lagi berbaju merah sebelum menerima pinangan 15 juta paun dari Newcastle.

Sisa setengahnya lagi coba dibalas skuad asuhan Kevin Keegan ini ketika bertemu United pada 20 Oktober 1996. Duel ini diprediksi akan berjalan sengit mengingat keduanya kembali dijagokan sebagai juara di akhir kompetisi. Newcastle datang dengan modal enam kemenangan beruntun sementara United belum terkalahkan sejak awal musim.

Akan tetapi, yang terjadi di St. James Park benar-benar di luar dugaan, khususnya untuk Sir Alex Ferguson. Penampilan United lebih banyak diisi oleh kesalahan-kesalahan posisi para pemainnya. Baru 12 menit pertandingan berjalan, Newcastle sudah unggul melalui sundulan Darren Peacock. Gol itu kemudian menjadi pertanda kalau akan muncul gol-gol tambahan yang semuanya masuk ke jala Peter Schmeichel. Menit ke-30, penjaga gawang asal Denmark tersebut kesulitan menjangkau sepakan keras David Ginola.

Usai turun minum, lini belakang United tidak kuasa menahan laju gol Newcastle. Dari sisi sebelah kanan, Shearer melepaskan umpan silang yang sukses ditanduk oleh Les Ferdinand. 15 menit sebelum kelar, Shearer gentian mencetak gol memanfaatkan bola muntah Ferdinand.

Tujuh menit kemudian, Philipe Albert menutup kemenangan Newcastle. Bergerak dari lini tengah, Albert tanpa pengawalan melakukan dua sentuhan sentuhan sebelum melepaskan chip yang tidak bisa dijangkau oleh Schmeichel. Gol tersebut menjadi penutup dari laga yang berakhir dengan skor 5-0 tersebut.

Laga tersebut menjadi salah satu pertandingan paling memalukan Sir Alex Ferguson di era Premier League. Untuk kali pertama, ia merasakan gawangnya dibobol lima kali dalam satu pertandingan. Alan Shearer ingat betul momen ketika timnya berhasil mempermalukan United.

“Mengalahkan United selalu menjadi prestasi besar. Ketika kami memukul mereka 5-0, itu adalah hari yang tidak bisa dilupakan. Sebuah laga yang spektakuler. Itu adalah hari pembalasan dendam kami setelah gagal meraih gelar musim sebelumnya,” tuturnya dilansir dari FourFourTwo.

Selepas pertandingan, raut wajah para pemain United menunjukkan rasa tidak percaya. “Saya ingat pemain United yang terakhir meninggalkan lapangan adalah Eric Cantona. Dia kemudian menyalami saya dan berkata, ‘Anda punya tim yang luar biasa hebat.’ Bahasa Inggrisnya enak didengar dan saya menikmati momen itu,” tutur Kevin Keegan kepada Telegraph.

Entah ada hubungannya atau tidak, namun kekalahan dari Newcastle memberi dampak psikologis bagi skuat United. Sepekan berselang, rekor kebobolan lima gol United dipertajam saat mereka kalah 3-6 dari Southampton. Hanya dalam dua laga, 11 gol sudah bersarang ke gawang Schmeichel.

Meski begitu, United tetap menjadi pihak yang tersenyum di akhir kompetisi. Sempat kembali kalah dari Chelsea, mereka tidak terkalahkan dalam 16 pertandingan berikutnya yang berujung dengan kembalinya mereka sebagai kampiun di akhir musim. Sebaliknya bagi Newcastle, mereka lagi-lagi hanya menjadi nomor dua dan menyaksikan Roy Keane mengangkat piala.

Comments

Loading...