Musim 1998/1999 adalah musim terbaik bagi Manchester United. Raihan gelar Piala FA, Premier League, dan Liga Champions menjadi pembuktian bagi kesebelasan yang berjuluk Setan Merah ini. Hingga saat ini, United adalah satu-satunya kesebelasan asal Inggris yang bisa meraih pencapaian tersebut.

Akan tetapi, butuh perjuangan ekstra keras untuk mewujudkan itu semua. Tidak jarang United harus melewati hadangan tim-tim besar untuk bisa menggapai piala-piala tersebut. Salah satunya adalah pertandingan dramatis melawan Arsenal yang terjadi pada 14 April 1999.

Pertandingan tersebut terjadi pada partai ulangan semifinal Piala FA 1999 di stadion Villa Park. Tiga hari sebelumnya, kedua kesebelasan bertemu di tempat yang sama. Namun hingga 120 menit pertandingan berlangsung, kedua tim masih bermain sama kuat 0-0. United meradang saat itu karena sempat mencetak gol melalui Roy Keane yang tidak disahkan oleh wasit David Elleray. Karena belum menggunakan adu penalti, maka pertandingan ulang mau tidak mau harus digelar.

Pertadingan ulang tersebut berlangsung panas. Tensi tinggi langsung tersaji sejak awal. Wajar saja, karena laga ini mempertemukan United dan Arsenal. Dua rival yang saling memperebutkan status sebagai yang terbaik pada saat itu. Selain itu, Meriam London adalah juara bertahan turnamen ini musim sebelumnya.

United unggul terlebih dahulu melalui sepakan Beckham pada menit ke-17. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama rampung. Namun pada menit ke-69, gawang Peter Schmeichel kebobolan setelah sepakan Dennis Bergkamp berubah arah.

Skor ini sempat membuat Arsenal berada di atas angin. Beberapa menit kemudian, Nicolas Anelka membawa Arsenal unggul memanfaatkan bola muntah sepakan Bergkamp. Namun gol tersebut dianulir karena offside. Segelintir pendukung Arsenal saat itu tidak menyadari kalau gol Anelka ternyata tidak mengubah papan skor.

Namun, Arsenal tetap saja berada dalam posisi yang diunggulkan. Empat menit setelah Bergkamp mencetak gol, United harus bermain dengan 10 orang karena Roy Keane mendapat kartu merah setelah menekel Marc Overmars. Peluang United meraih treble terancam pupus setelah Phil Neville dengan sembrono menjatuhkan Ray Parlour di kotak penalti.

Akan tetapi, penalti tersebut justru menjadi mimpi buruk bagi Arsenal. Sepakan Bergkamp sukses diblok oleh Schmeichel. Skor 1-1 kembali memaksa laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Keberhasilan Schmeichel tersebut menjadi mimpi buruk bagi Arsenal. Sementara bagi Phil Neville, kejadian pada menit-menit terakhir tersebut menjadi berkah baginya.

“Saya harus berkata jujur jika penalti Bergkamp masuk, maka karier saya di United sudah berakhir. Pada menit terakhir, saya sudah lelah, saya bermain baik dalam pertandingan tersebut, namun saya melakukan kesalahan konyol dengan menjatuhkan Ray Parlour,” kata Phil.

Ryan Giggs Sang Juru Selamat

Kegagalan penalti Bergkamp nampaknya membuat para pemain Meriam London menjadi kurang fokus. Pada menit ke-109, Patrick Vieira salah mengirim umpan yang justru jatuh ke kaki Ryan Giggs. Setelah menguasai bola, Giggs melakukan penetrasi sambil menjaga bola tidak lepas dari kakinya. Sementara Vieira mundur untuk memperkuat lini pertahanan.

The Welsh Wizard sebenarnya punya beberapa opsi untuk mengalirkan bola. Di sebelah kananya sudah ada David Beckham. Ia juga bisa mengirim bola ke Dwight Yorke yang berusaha mendekatinya. Akan tetapi, Giggs memilih untuk mengambil inisiatif sendiri dengan melewati beberapa pemain belakang Arsenal.

Patrick Vieira, Lee Dixon, dan Martin Keown kelimpungan ketika mengawal Giggs. Bahkan Keown sampai tersungkur karena konsentrasinya pecah dalam mengawal Yorke dan Giggs sekaligus. Setelah melewati ketiga peman tadi, Giggs mendapat gangguan dari Tony Adams. Namun ia akhirnya melepaskan tendangan keras ke atas jala gawang Seaman. United menang 2-1 dan melangkah ke final berkat gol yang terus menerus menghantui sosok Arsene Wenger sepanjang dirinya membela Arsenal.

“Aku masih bisa mendengar teriakan mereka setelah menang. Saya tidak percaya karena mereka bisa menang dengan 10 pemain. Setiap melihat rekaman tersebut, maka pertandingan tersebut menjadi trauma bagi kami dan hal positif bagi mereka. Gol itu yang menentukan akhir dari musim mereka,” kata Wenger.

Gol tersebut membuat beberapa penggawa Arsenal menjadi hancur berantakan. Status mereka yang sebelumnya adalah double winners kini mereka terancam mengakhiri musim tanpa gelar. Semua diawali dari sepakan Bergkamp yang gagal.

“Biasanya saya tidak mengalami masalah ketika menendang penalti. Tidak ada keraguan dan tidak pernah meleset. Tapi kegagalan itu memang mengganggu saya selama beberapa saat dan musim depan hingga selanjutnya, tugas penalti diambil Thierry Henry,” kata Bergkamp.

Laga ini sendiri akan selalu diingat oleh para pendukung United setiap mereka akan bertemu dengan Arsenal. Bukan hanya karena skor dan proses gol yang dibuat si nomor 11, melainkan juga karena perayaan Giggs yang berlari-lari sambil memutar-mutar kostumnya ke udara untuk menunjukkan rambut dadanya yang lebat.

***

Selepas mengalahkan Arsenal, United bertemu dengan Newcastle United pada partai pamungkas di stadion Wembley. Mereka akhirnya keluar sebagai juara setelah menundukkan The Magpies dengan skor 2-0 melalui gol Teddy Sheringham dan Paul Scholes. Inilah titel kedua United setelah sebelumnya mereka meraih gelar Premier League setelah mengalahkan Tottenham Hotspur. Gelar kemudian menjadi sempurna setelah mereka mengalahkan Bayern Munich di Camp Nou.