OUR NETWORK

Tom Cleverley (1): Melesat dengan Cepat, Menukik dengan Pesat

Setelah musim 2010/2011 berakhir, Manchester United harus kehilangan salah satu pemain andalannya. Salah satu gelandang mereka, Paul Scholes, memutuskan untuk pensiun setelah 17 musim memperkuat Setan Merah. Gelar Premier League ke-12 untuk Setan Merah menjadi sumbangsih terakhir The Ginger Prince.

Mengetahui pemain andalannya pensiun, Sir Alex Ferguson langsung memanggil pulang salah satu pemain mudanya yang sebelumnya sedang dipinjamkan. Pemain ini memiliki cara main yang cukup identik dengan Scholes yaitu memiliki umpan yang akurat serta gemar menjelajah seluruh lapangan. Gemilangnya penampilan si pemain membuat Ferguson puas hingga memberikan satu tempat utama kepadanya.

“Bagi saya, pemain yang potensinya cukup baik untuk menjadi gelandang hebat di dunia adalah Tom Cleverley. Dia cerdik, otaknya sangat cepat terkait akselerasi dan akurasi operan. Dia memberikan kami amunisi lebih di lini tengah,” kata Sir Alex Ferguson.

Musim sebelumnya, Cleverley menghabiskan satu musim sebagai pemain pinjaman bersama Wigan. Mencetak empat gol dalam 25 pertandingan merupakan catatan yang cukup bagus. Hal ini membuat namanya disiapkan sebagai pengganti Paul Scholes pada musim berikutnya.

Segalanya berjalan lancar bagi Cleverley. Memainkan cukup banyak pertandingan di pra musim, ia langsung menjadi game changer ketika United sedang dalam situasi buntu untuk membongkar pertahanan Manchester City pada pertandingan Community Shield. Satu asisnya kemudian membuat ia dipercaya mengisi peran yang sebelumnya dipegang Scholes di lini tengah. Sampai akhirnya bencana itu muncul.

“Saya tidak menyangka bisa berada dalam starting eleven pada momen-momen spesial. Hingga akhirnya cedera melawan Bolton menghabisi karier saya. Cedera yang sangat buruk pada kaki saya. Saya melihat kembali, ada sebuah penyesalan tentang tekel tersebut yang membuat saya absen,” kenang Cleverley.

Saat itu, Cleverley terkena tebasan kaki dari Kevin Davies. Seketika itu pula musimnya langsung berakhir. Sempat kembali dalam beberapa kesempatan, Clev kehilangan bentuk permainan terbaiknya. Dari 15 pertandingan yang ia mainkan, hanya segelintir laga saja Cleverley bermain bagus yaitu saat dirinya belum menderita cedera.

Cedera Cleverley adalah awal dari masalah berantai yang kemudian menerpa lini tengah Manchester United saat itu. Pada bulan Desember, Darren Fletcher terkena penyakit misterius yang menggerogoti kekebalan tubuhnya. Memainkan Paul Pogba belum bisa dilakukan karena Fergie tidak menyukai sikapnya. Saking bingungnya Sir Alex, Rafael ia mainkan sebagai gelandang yang menjadi awal dari penyebab perginya Pogba. Tidak selesai masalah di lini tengah, membuat United akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan yaitu memanggil pulang Paul Scholes.

Bagi Cleverley, kejadian di kandang Bolton Wanderers tersebut menjadi awal dari buruknya musim pertamanya sebagai pemain Manchester United. Lebih banyak duduk di bangku cadangan dan mengurusi kakinya yang bermasalah, Clev kembali dihadapkan dengan kejadian yang membuat rasa sakit di kaki menjadi pindah ke bagian hati. Yaitu saat United tidak bisa mendapatkan gelar pada pekan-pekan terakhir.

“Saya tidak bersama skuad saat menghadapi Sunderland. Saya di tribun Stadium of Light saat saya mendengar Edin Dzeko menyamakan kedudukan. Saya sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, seakan-akan ini menjadi sebuah takdir. Hari yang buruk bagi saya. Saya tidak dapat mendengar komentar Martin Tyler yang berteriak ‘Agueerooooooo’. Saya akan langsung mematikan TV saat mereka menyiarkannya. Tidak ada hari yang lebih buruk selain disalip rival sekota pada pekan terakhir.”

Kalau saja United menjadi juara saat itu, maka medali Premier League Cleverley tidak hanya satu. Bahkan ia merasa kalau dirinya layak mendapatkan tiga medali apabila saat 2010, Fergie tidak meminjamkannya ke Wigan. “Saya mungkin akan duduk dengan tiga medali, bukan satu.”

“Saya tidak akan pernah lupa di ruang ganti manajer berkata kepada kita semua: ‘Sudah saya katakan. Itulah mengapa saya menginginkan kalian lebih kejam dan berani membunuh tim lawan, karena Anda dapat kehilangan gelar liga karena perbedaan selisih gol.”

Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Selisih delapan gol membuat segalanya berbeda. City menang, United jadi pecundang. Sementara Cleverley berang bukan kepalang. Ia dua kali disodorkan pemandangan menyedihkan. Namun, Cleverley patut untuk bersyukur. Namanya masih didaftarkan oleh pelatih timnas Britania Raya, Stuart Pearce, untuk berlaga di Olimpiade 2012. Sebuah ajang yang tepat untuk memulihkan kepercayaan dirinya.

Tulisan ini Adalah Hasil Saduran dari tulisan Tom Cleverley yang ditulis dalam situs resmi United yang berjudul “Things That Truly Matter in Life”

Comments