OUR NETWORK

Kisah Perjuangan Andy Cole Melawan Sakit yang Ia Derita (2)

Sang keponakan hadir sebagai pendonor. Ia rela memberikan ginjalnya demi melihat pamannya menjadi sehat lagi. Operasi tersebut berhasil. namun, hal itu belum menghentikan perjuangan Andy Cole karena ia harus menjalani rentetan pemulihan.

Operasi tersebut berjalan dengan baik. Akan tetapi, perjuangan Cole melawan rasa sakit tidak berhenti sampai di situ. Orang yang menjalani transplantasi organ harus menjalani pemulihan yang tidak kalah menyakitkan dibanding saat operasi. Tubuhnya harus dilihat apakah bisa beradaptaptasi dengan baik atau jangan-jangan justru terkena infeksi.

“Setiap hari saya selalu minum obat untuk pemulihan. Obat untuk menjalani sisa hidup Anda. Proses seperti itu (harus minum obat) sangat melelahkan. Saya takut kalau saya melewatkan satu hari saja tanpa minum obat sehingga hal itu membuat masalah mental yang ditimbulkan sangat besar.”

Setelah berjuang secara fisik, Cole kini harus memulihkan dirinya secara mental. Salah satunya adalah kembali ke lingkungan sosial yang cukup besar. Beruntung, ia dipertemukan oleh orang-orang yang memperkuat tim sepakbola di Newcastle sana. Yang menarik, orang-orang di tim tersebut mengalami penderitaan yang sama seperti Cole yaitu pernah melakukan transplantasi ginjal. Hal ini yang menguatkan Cole kalau ternyata ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

“Saya harus mencoba mengendalikan dengan kemampuan terbaik saya. Pada akhirnya, siapa yang tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya harus mencoba bekerja dengannya setiap hari selama sisa hidup saya.”

Dukungan terbesar sudah pasti datang dari Manchester United tempat Cole menjadi duta klub. Sejak hari pertama ia sakit, Setan Merah selalu bertanya tentang kondisinya dan keadaan anak-anaknya. United membuka pintu lebar-lebar kalau Cole ingin bantuan dari mereka.

Pihak klub menghargai jasa besar Cole yang sudah mencetak 122 gol dari 275 penampilan bersama United. Perekrutannya berjalan dengan sukses meski diiringi beban mengisi kekosongan Eric Cantona yang dihukum delapan bulan karena menendang suporter Crystal Palace. Lima gelar Premier League dan satu gelar Liga Champions adalah torehan Cole yang pada 1998/1999 mencetak banyak gol bersama Dwight Yorke.

Belum lagi rekan-rekan setimnya yang sama-sama berjuang membantu Cole mencetak gol di atas lapangan kini berganti berjuang membantunya sembuh dari penyakitnya. Roy Keane adalah salah satu rekan setim Cole yang sering datang menjenguknya.

Sampai pada akhirnya ia bisa terlibat dalam laga Treble Reunion beberapa waktu lalu. Sore yang menurut Cole sangat istimewa karena ia bisa terlibat pada acara tersebut. Ia bertemu lagi teman-teman lamanya di ruang ganti Old Trafford dan mengenang kembali momen ketika mereka saling olok di masa lalu.

“Satu yang saya rindukan dari sepakbola adalah bagaimana persahabatan itu timbul, adanya olok-olok, bermain bersama satu sama lain dan mengetahui apa yang Anda inginkan satu sama lain. Anda ingin menang, Anda ingin melakukannya dengan baik satu sama lain, itu yang saya rindukan.”

Penyakit ginjal dan transplantasi yang dijalani membuat Cole belajar satu hal yaitu bagaimana caranya menghargai hidup yang sudah diberikan oleh yang punya kuasa. Ia belajar kalau setiap manusia pasti memiliki hari-hari baik namun juga akan ada hari yang buruk. Ketika hari yang buruk itu datang kepada kita, maka tidak ada satu cara lain untuk mengubahnya yaitu dengan melawannya.

“Beberapa orang menjalani hari yang lebih buruk dari yang lain. Anda harus menerimanya, tetapi saya memilih untuk melawannya. Bahkan sebelum ini, semuanya adalah pertarungan. Saya tidak pernah tahu yang lebih baik, tapi yang saya tahu saya harus bertarung.”

“Saya tidak pandai dalam hal menerima sesuatu. Jika Anda harus menerimanya, maka kita harus terima, tetapi saya tidak ingin menerima kegagalan karena kegagalan tidak ada dalam diri saya.”

“Ketika saya menjadi pemain sepakbola, kesuksesan adalah mencetak gol, memenangkan pertandingan, mengangkat trofi. Sekarang, makna kesuksesan adalah melakukan apa yang bisa saya lakukan. Saya selalu mendorong diri saya ke batas kemampuan saya. Dengan penyakit seperti yang saya derita ini, banyak yang mencoba menerimanya, tetapi bagi saya menerima adalah kegagalan. Saya tidak mau menerima kegagalan. Sedikit seperti pedang bermata dua, tapi bagi saya ini adalah tindakan penyeimbang yang nyata.”

Cole bisa saja menyerah dengan peyakitnya, namun ia bukan orang seperti itu. Pada akhirnya, segalanya berjalan dengan baik. Cole kini sudah pulih. Wajahnya sudah mulai segar meski fisiknya mungkin tidak sebugar seperti saat ia belum terkena penyakit mematikan tersebut.

“Jika saya menerima kegagalan, maka saya mungkin sudah menyerah di lapangan. Hal yang sama di sini. Saya tidak dikalahkan olehnya, tetapi pada saat yang sama saya harus menghormatinya. Penyakit ini bisa membunuhmu. Dalam sepakbola, jika Anda kalah, maka Anda hanya kehilangan pertandingan saja. Tapi jika saya kalah melawan penyakit ini, saya bisa kehilangan hidup saya. Yang bisa saya lakukan hanya mencobanya saja. Tidak ada yang lebih baik dari itu,” tuturnya.

Semoga sehat selalu, Andy.

Bagian pertama bisa dibaca di sini.

Comments

Loading...