OUR NETWORK

Lee Sharpe, Si Penyuka Pesta yang Disingkirkan Pemain Muda

Jika menyebut siapa pemain sayap terbaik yang pernah dimiliki Manchester United, maka nama-nama seperti George Best, Cristiano Ronaldo, David Beckham dan Ryan Giggs akan muncul di permukaan. Lantas pernahkah para penggemar Setan Merah mendengar nama Lee Sharpe? Di awal kepelatihan Sir Alex Ferguson, Sharpe adalah salah satu faktor kesuksesan United di akhir era 1980-an.

Lee Sharpe memang bukan produk asli akademi United. Ia hanya bermain di klub kecil Torquay. Akan tetapi, di usianya yang masih 17 tahun namanya sudah membuat Sir Alex Ferguson tergoda untuk merekrutnya. Bahkan, hanya Sharpe saja yang sanggup membuat Fergie dan asistennya saat itu, Archie Knox, datang ke Torquay sambil menyamar.

Salah satu kelebihan Lee Sharpe yang membuat Fergie kepincut adalah kemampuan dirinya yang bisa bermain di berbagai posisi. Ia bisa bermain sebagai pemain sayap kanan, pemain sayap kiri, bek sayap kanan, hingga bek sayap kiri.

Tugas Sharpe ketika itu terbilang berat. Di usia muda, ia dituntut menggantikan peran Jesper Olsen yang menjadi andalan Fergie di posisi sayap kiri. Terlebih lagi, banderolnya saat itu terhitung mahal untuk pemain 17 tahun, 200 ribu paun. Beruntung, ia bisa melewati rintangan tersebut pada musim pertamanya (1988/1989) dengan bermain sebanyak 30 pertandingan meski belum diikuti dengan raihan gol.

Jumlah penampilan Lee Sharpe menurun menjadi 20 pada musim berikutnya. Ia pun gagal mendapat medali juara Piala FA karena tidak sekalipun diturunkan Fergie. Tetapi, di musim tersebut Sharpe mencetak gol pertamanya bersama Setan Merah ketika menang 5-1 atas Millwall.

Musim 1990/1991 merupakan musim ketika Sharpe memegang peranan penting dalam skuad Sir Alex Ferguson. Ia diturunkan sebanyak 41 kali sekaligus menggeser Danny Wallace yang menjadi andalan Fergie di sisi kiri pada musim sebelumnya. Ia pun menjadi pemain kunci dari keberhasilan Fergie meraih gelar Eropa pertamanya dalam wujud Piala Winners.

Angka gol Lee Sharpe juga meningkat dari satu menjadi sembilan. Menariknya, tiga dari sembilan gol yang ia cetak tercipta di kandang legendaris Arsenal yaitu Highbury. Kejadiannya adalah ketika United mengalahkan Arsenal 6-2 pada babak keempat Rumbelows Cup (sekarang Carabao Cup). Sharpe menjadi satu dari sedikit pemain yang bisa membuat gol di Highbury. Pada akhir musim, ia mendapat anugerah PFA Young Player of the Year.

Sempat absen panjang pada musim berikutnya, Sharpe kembali bermain apik ketika Liga Inggris memasuki era Premier League. Ia berhasil memberikan Setan Merah gelar liga pertama sejak 26 tahun pada 1992/1993. Sharpe bahkan mencetak 11 gol ketika United meraih gelar dobel untuk pertama kalinya pada 1994.

Tergusur Class of ’92

Total Lee Sharpe telah mengumpulkan 10 gelar dalam delapan musimnya bersama Setan Merah. Gelar terakhirnya tentu Liga Primer Inggris dan Piala FA pada musim 1995/1996. Akan tetapi, meski meraih kesuksesan, Sharpe nyatanya hanya menjadi pemain serep oleh Sir Alex Ferguson. Meski bermain dalam 41 pertandingan, namun 12 di antaranya dimulai dari bangku cadangan.

Sharpe menjadi satu dari empat pemain bintang era Fergie yang harus tersingkir karena kedatangan Class of 92. Dari empat pemain, hanya Sharpe saja yang dibiarkan bertahan sejak awal musim. Sementara tiga lainnya (Mark Hughes, Andrei Kanchelskis, Paul Ince) harus rela dijual oleh Fergie saat itu.

Apes bagi Sharpe, pemain yang diorbitkan Fergie dari akademi tersebut berposisi sama dengan Sharpe. Di kiri, ia kalah saing dengan Ryan Giggs. Ia juga tidak bisa pindah ke sayap kanan karena ada David Beckham. Bek kanan sudah diisi oleh Gary Neville. Sementara di posisi bek kiri, Sharpe bertemu Denis Irwin, yang meski usianya lebih tua enam tahun dari Sharpe, karier United Irwin lebih muda dua tahun ketimbang dirinya.

“Saya sadar kalau sudah waktunya saya pergi setelah saya tidak dimasukkan ke dalam skuad ketika pertandingan terakhir melawan Middlesbrough pada 1996. Bahkan, menjadi cadangan pun tidak. Kami memang meraih gelar ganda tapi saya merasa jauh dari kata perayaan,” tuturnya seperti dilansir Inside United.

Si Penyuka Pesta

Sharpe sebenarnya pemain yang mudah disukai oleh penggemar United. Selain wajahnya yang tampan, Sharpe juga sering membuat perayaan gol dengan cara yang unik. Salah satu yang paling ikonik adalah gaya bernyanyi ala Elvis Presley di sudut bendera sepak pojok.

Meski begitu, bukan tanpa alasan Fergie menyingkirkan Sharpe. Sama seperti pemain lain di era 1980-an, Sharpe punya hobi minum minuman keras di luar lapangan. Hobinya ini yang tidak disukai Fergie yang menginginkan para pemainnya lepas dari kebiasaan menenggak alkohol. Sharpe bahkan terkena meningitis sepanjang musim 1991/1992 akibat efek dari kebiasaannya tersebut.

Fergie bahkan pernah melabrak Sharpe yang sedang mengadakan pesta bersama pemain United lain beberapa hari sebelum United bertanding. Kejadian tersebut yang melatarbelakangi Fergie untuk melepas Sharpe ke Leeds United musim panas 1996.

“Saya membuka pintu rumah Sharpe dan melihat bos datang. Saya memegang sebuah botol minuman dan saya tidak bisa bergerak sama sekali. Bos kemudian memanggil Sharpe dan menanyakan alasan mengapa ia membuat pesta itu. Bos benar-benar marah besar kepadanya,” tutur Ryan Giggs dilansir Daily Star.

Comments