OUR NETWORK

United Memang Pantas Kalah

Yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Masa bulan madu itu berakhir pada pertandingan ke-20. Semifinal Piala FA menjadi kekalahan pertama yang diraih Ole Gunnar Solskjaer sejak Januari 2020 saat mereka tumbang 1-3 atas Chelsea.

Kekalahan yang menyesakkan mengingat tiga laga sebelumnya United selalu menang saban bertemu dengan The Blues. Kekalahan yang tidak hanya memutus catatan unbeaten tapi juga mengubur harapan United untuk meraih gelar yang sebenarnya realistis untuk diraih musim ini.

Dilematis Ole

Jelang pertandingan, situasi sulit menaungi Ole. Yang paling terlihat sudah pasti masa istirahat mereka yang lebih sedikit dibanding lawannya. Keadaan menjadi sulit saat ia harus menentukan siapa yang akan bermain pada laga ini. Sedari awal, tidak sedikit yang meminta Ole untuk melepas saja turnamen ini. Empat besar lebih penting. Tapi, ini juga laga yang penting karena membuka peluang mereka meraih double winners skala kecil.

Jadilah Ole memainkan skuad yang terdiri dari gabungan pemain utama dan pemain pelapis. Ia juga memainkan skema tiga pemain belakang dengan tujuan untuk mirroring Chelsea yang memainkan bentuk serupa. “Saya terkejut karena mereka meniru kami,” kata Lampard setelah tahu kalau United main dengan skema tiga pemain belakang.

Pada akhirnya, usaha itu tidak berjalan dengan baik. Lini tengah tidak bisa memegang peranan dengan baik sebagai penghubung ke pemain depan. United kesulitan mencari celah mana yang mereka bisa maksimalkan. Ketika Rashford bergeser ke kiri, mereka tidak memiliki bek sayap yang bisa mendukung kinerjanya. Begitu juga sebaliknya di kanan. Inilah yang membuat United tidak memiliki peluang berbahaya dari open play.

Sebaliknya, Lampard tampak sudah belajar dari kelemahan United. Mereka memang tidak tampil istimewa, tapi cara mereka membangun serangan jauh lebih rapi dan rasio terjadinya peluang jauh lebih tinggi ketimbang para pemain United.

Lampard mungkin melihat cara main United yang berantakan ketika melawan Southampton. Saat itu, bentuk permainan United langsung kacau ketika menghadapi lawan yang mengandalkan pressing. Ini yang kemudian diaplikasikan Lampard kemarin. United nyaris tidak bisa mengimbangi pressing Chelsea ketika menguasai bola. Ini yang membuat United tidak bisa mengandalkan skema counter attack dan memaksimalkan peran Daniel James yang sejak restart Premier League sudah tidak lagi menjadi pemain inti.

Chelsea berhasil mengeksploitasi sisi sayap United. Tiga gol semuanya hadir dari sayap United. Satu dari sisi kiri, satu dari sisi kanan, dan satu dari kesalahan bek sayap kiri dalam hal ini adalah Brandon Williams.

Bermainnya Azpilicueta menjadi bek tengah tidak serta merta ia hanya tinggal di belakang menunggu timnya diserang. Ia akan ikut naik menemani Reece James. Kemampuan dua pemain yang sama ini membuat pemain United bingung harus menutup ruang yang mana. Kebingungan ini yang dimaksimalkan oleh Azpi saat ia lari melewati Brandon Williams. Ia juga bisa melepas crossing dari half space saat James akan bermain mendekati garis tepi.

Rotasi yang Tidak Membuahkan Hasil

Ketika Eric Bailly cedera, Ole memilih untuk mengembalikan United ke bentuk permainan mereka sebelumnya yaitu dengan empat pemain belakang. Menggunakan tiga pemain belakang dan berharap bermain reaktif seperti dua laga sebelumnya, nyatanya tidak berjalan dengan baik. Selama 45 menit pertama, United hanya satu kali bisa pegang bola di kotak penalti.

Sayangnya, mengubah bentuk menjadi empat pemain belakang juga tidak membuahkan hasil. United masih sama saja yaitu tetap kesulitan menembus pressing trap pemain Chelsea yang berjalan dengan konsisten. Sebaliknya, pemain United kerap salah melepaskan umpan yang kemudian membahayakan diri mereka sendiri seperti proses gol kedua.

“Kami memilih pemain yang bisa membawa tim ini melangkah hingga final. Sayangnya, hal itu tidak bekerja dengan baik. Lalu kami membuat perubahan setelah keluarnya Bailly yang juga tida berjalan dengan baik,” kata Ole.

Ole akhirnya memilih untuk memainkan pemain terbaiknya termasuk Paul Pogba dan Mason Greenwood. Masih ada upaya untuk mengejar gol dan mendapatkan asa untuk melakukan comeback. Apes bagi United, meski mereka mulai pelan-pelan menekan dan mendekati kotak penalti, tapi justru kebobolan melalui bunuh diri Maguire. Gol hiburan akhirnya diraih United melalui gesekan voucher penalti dari Bruno.

***

Mengutip kalimat dari jurnalis Manchester Evening News, Samuel Luckhurst, kekalahan hari ini disebabkan karena kombinasi taktik yang buruk dan pemilihan pemain yang salah. Chelsea sebenarnya tidak bermain istimewa, tapi selama 90 menit mereka berhasil mengalirkan bola ke lini belakang United jauh lebih baik ketimbang lawannya. Hal ini dimanfaatkan dengan baik plus kesalahan pemain United yang ikut andil pada tiga gol mereka. Sebaliknya, United pantas kalah karena bermain buruk sejak menit pertama dan tidak bisa keluar dari tekanan Chelsea.

Laga ini juga menunjukkan kalau United kurang kualitas di bangku cadangan. Banyaknya laga yang harus dijalani dengan waktu istirahat minim membuat United butuh pemain cadangan yang penampilannya juga mumpuni. Sayangnya, hal itu tidak dimiliki Ole yang lagi-lagi terpaksa menurunkan pemain intinya di tengah kelelahan yang mendera.

Kekalahan ini merugikan karena United sudah kehilangan satu gelar. Namun, kekalahan ini membuat United bisa fokus ke perebutan tiket ke Liga Champions. Kesempatan itu kembali terbuka setelah beberapa menit sebelum United main, Leicester kalah 3-0 atas Spurs. Akan tetapi, bisakah United memanfaatkan kesempatan ini saat melawan West Ham nanti mengingat mereka kerap menyia-nyiakan kesempatan yang berkali-kali sudah diberikan?

Comments

Loading...