OUR NETWORK

Manchester United Efektif, Manchester City Kacau

Untuk pertama kalinya sejak 2015, Manchester United meraih kemenangan kandang pada derbi Manchester di ajang Premier League. Pada laga yang berlangsung kemarin malam, Setan Merah menang dengan skor 2-0 dari Manchester City. Masing-masing gol United dicetak oleh Anthony Martial dan Scott McTominay jelang akhir pertandingan.

Hasil ini tidak hanya membuat United memutus puasa menang derbi di kandang pada ajang Premier League, melainkan untuk pertama kalinya mereka berhasil menang back to back di liga. Terakhir kali United melakukannya pada musim 2009/2010. Tiga poin ini juga memastikan United masih menjaga selisih tiga poin dari Chelsea yang sebelumnya menang telak 4-0 atas Everton.

Pada pertandingan ini, Ole belajar dari kesalahannya ketika melawan Everton yang gagal membuat timnya bisa mengaplikasikan formasi 4-3-1-2 dengan baik. Dia kembali memainkan formasi 3-4-1-2 dengan kembali memainkan Luke Shaw sebagai bek tengah sebelah kiri. Di sisi lain, City memainkan formasi andalan 4-3-3 namun tanpa Kevin de Bruyne yang absen karena cedera.

Solidnya Lini Belakang United

Jika melihat skor atau peluang yang dibuat, maka United terlihat bermain sangat baik. Mereka menang 2-0, membuat 12 peluang dengan enam diantaranya mengarah ke gawang. Jauh jika dibandingkan City yang hanya membuat tujuh peluang dan hanya empat yang mengarah ke gawang.

Namun jika melihat dari kacamata yang lebih luas, pertandingan kemarin jauh dari kata seru (boleh setuju atau tidak). Kedua kesebelasan sama-sama sedikit mendapatkan peluang yang bisa dikatakan membahayakan. Dengan memainkan tiga bek, United kesulitan untuk melakukan build up. Hal ini yang membuat serangan mereka gampang terputus karena sedikitnya pemain yang tersedia.

Di sisi lain, City tampil sangat dominan. Pada babak pertama, mereka menguasai bola hingga 69%. Jumlah itu kemudian bertambah menjadi 71% pada 45 menit kedua. Hal ini menegaskan betapa dominannya City atas tuan rumah sepanjang pertandingan.

Sayangnya, City tidak bisa memaksimalkan penguasaan bola yang begitu banyak ini. Transisi dari bertahan ke menyerang mereka tidak terlalu bagus. Hal ini yang membuat serangan City langsung menemui kebuntuan ketika bersiap memasuki sepertiga akhir pertahanan United. Namun, ini semua juga tidak lepas dari berhasilnya Ole memainkan tiga pemain belakang yang bisa menjadi lima karena dua wing back yang turun. Koordinasi lini belakang United berhasil membuat pemain City kebingungan ketika menyerang. Tanpa Kevin de Bruyne dan David Silva, City terlihat sulit mengirimkan bola ke depan.

Mereka memang masih punya pemain seperti Bernardo Silva, namun De Bruyne jelas lebih unggul dalam hal mengkreasikan peluang. Serangan City juga terkesan satu arah yaitu lebih banyak mengandalkan sisi kiri yang diisi oleh Raheem Sterling. Sayangnya, Sterling tidak bisa berbuat banyak karena pergerakannya terkunci oleh Aaron Wan-Bissaka. Ia juga tidak banyak mendapat banutan dari Zinchenko yang terlihat seperti bermain sebagai gelandang tengah.

Pada babak kedua, Pep Guardiola memainkan Mahrez dan mengubah arah serangan City menjadi lebih banyak dari sisi kanan. Meski berbeda posisi, namun Mahrez dikenal mampu mendistribusikan bola dengan baik serta bisa membuat peluang dari half space. Namun, hal itu tetap tidak membuahkan hasil. Beberapa kali bola kiriman Mahrez terkesan sia-sia karena pergerakan pemain depan yang terkunci. Bahkan sampai menit ke-68, City saat itu hanya punya dua kesempatan menembak ke gawang. Sebelumnya, sempat ada gol yang tercipta melalui Sergio Aguero. Akan tetapi, gol ini dianulir karena posisi penyerang Argentina ini sudah offside.

Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada pemain belakang. Karena berkat kelima pemain ini plus Eric Bailly yang masuk pada babak kedua, lini belakang United aman dari gempuran tim tamu. Selain penampilan secara kolektif, penampilan individu mereka juga sangat baik dan menjadi faktor dari keberhasilan United meraih kemenangan dan membuat gawang De Gea tidak kebobolan.

Manchester City yang Ceroboh

City memang dominan. Namun secara keseluruhan, mereka bermain sangat kacau. Lini depan miskin kreativitas, lini belakang justru tidak bisa menghindarkan mereka dari kebobolan dua gol yang seharusnya bisa dengan mudah mereka atasi. Kalau saja Daniel James bisa lebih tenang ketika memanfaatkan tidak siapnya lini belakang City dalam beberapa kesempatan, maka United bisa membuat lebih dari dua gol.

Pada menit ke-30, Sergio Aguero dan Ilkay Gundogan yang berada di dekat Anthony Martial tidak siap dengan pergerakan penyerang Prancis ini yang membuatnya leluasa melepaskan tendangan voli yang tidak bisa dihalau Ederson. Ini menjadi satu-satunya ancaman berbahaya United meski membuat tujuh sepakan pada babak pertama.

Ederson sendiri tampak tidak fokus pada laga kemarin. Pertengahan babak kedua, ia nyaris membuat kesalahan ketika menerima backpass dari Joao Cancelo. Beruntung bola yang sudah bergulir ke gawangnya bisa disapu dengan baik.

Namun keberuntungan Ederson hanya sampai di situ. Ketika timnya harus mengejar defisit satu gol, lemparannya terlalu kencang yang membuat Benjamin Mendy tidak bisa mengejar bola tersebut. Scott McTominay kemudian langsung menendang ke gawang kosong mengingat jarak Ederson dengan gawang sudah terlalu jauh.

***

Hasil ini membuat Pep Guardiola untuk pertama kalinya kalah sampai tujuh kali di kompetisi liga. Sebuah sinyal yang cukup buruk mengingat mereka adalah juara bertahan Premier League. Mereka benar-benar turun drastis jika dibandingkan dengan performa mereka pada dua musim terakhir.

Sementara itu, para pendukung Liverpool juga sangat menerima hasil ini dengan gembira. Jurgen Klopp kini tinggal meraih dua kemenangan saja untuk memastikan gelar juara Premier League untuk pertama kalinya. Bahkan bisa lebih cepat jika tengah pekan nanti City kembali kalah lagi melawan Arsenal.

Penggemar United mungkin akan lebih cepat melihat Jordan Henderson mengangkat gelar Liga Inggris, namun hal itu tentu tidak membuat mereka peduli. Raut muka penggemar United akan sangat cerah pada hari Senin ini karena tim kesayangannya sudah 10 kali tidak terkalahkan, Ole Gunnar Solskjaer mengalahkan Pep Guardiola tiga kali pada musim ini, dan yang paling penting adalah Manchester kembali berwarna merah.

Comments

Loading...