OUR NETWORK

Tidak Berkelas Tetapi Krusial

Tidak berkelas tapi penting. Itulah ungkapan akun media sosial penggemar Man United, The Peoples Person ketika mengomentari pertandingan antara Aston Villa vs United yang berhasil ditutup United dengan kemenangan 3-0. Pada pertandingan kemarin, United sukses mendapat tiga poin penting meski dengan permainan yang bisa dikatakan kurang memuaskan.

Jika membandingkan laga ini dengan pertandingan melawan Brighton dan Bournemouth, maka apa yang diucapkan Peoples Person benar adanya. Pada laga kemarin, intensitas serangan United tidak secepat saat melawan Brighton atau Bournemouth.

“Kami butuh sekitar 20-25 menit untuk memulai permainan dan kemudian kami baru bisa meningkatkan tempo. Kami beruntung bisa menyelesaikan babak pertama dengan skor 2-0, tapi saya juga merasa kalau kami bisa mendapatkan beberapa gol lagi,” kata Ole Gunnar Solskjaer setelah pertandingan.

Perlu analisis lebih mendalam lagi untuk mengetahui mengapa permainan United cenderung berbeda. Bukan tidak mungkin ini karena faktor kelelahan. Laga kemarin adalah laga keempat berturut-turut United tidak mengubah susunan starting eleven mereka. Wajar mereka lelah mengingat kualitas pelapis United yang kualitasnya masih perlu ditingkatkan untuk mengimbangi kekuatan pemain utama.

Aston Villa sebenarnya memulai laga dengan jauh lebih baik. Mereka bahkan lebih dulu mengancam gawang De Gea sebelum tendangan salah satu pemain mereka membentur tiang. Peluang yang diperoleh dari kesalahan Paul Pogba ketika menguasai bola.

Villa mampu membuat United frustrasi selama beberapa menit melalui pressing mereka dan beberapa kali memiliki situasi menang jumlah (overload) dari para pemain United di beberapa sektor. Yang membedakan adalah bagaimana kualitas mereka di sepertiga akhir yang terlalu bergantung kepada Jack Grealish.

Anak asuh Dean Smith ini sedari awal memilih untuk bermain bertahan. Dengan blok rendah yang mereka mainkan, mereka menunggu United gagal melakukan build up melalui umpan-umpan pendek yang menjadi andalan anak asuh Ole Gunnar Solskjaer. Beruntung United memilih sabar dengan terus melakukan umpan pendek. Harapannya agar pertahanan lawan menjadi naik dan ruang tembak menjadi terbuka. Proses penalti kontroversial pada gol pertama berawal dari berhasilnya umpan pendek United yang diikuti dengan kecerdikan Bruno melakukan roulette sehingga mendapat pelanggaran yang seharusnya bukan pelanggaran.

Hingga United mencetak gol kedua dan ketiga, Aston Villa sama sekali tidak memberi respons. Masalahnya adalah penyelesaian akhir mereka yang tidak terlalu baik di sepertiga akhir pertahanan lawan. Padahal, Aston Villa mempunya rataan 10 umpan kunci per laga sepanjang musim. Namun, mereka hanya punya rata-rata empat tendangan ke gawang per laga. Sama seperti laga kemarin, Villa punya tujuh umpan kunci, tapi yang menghasilkan peluang on target hanya satu.

Masalah lain Villa tentu saja bentuk mereka ketika melakukan transisi. Proses gol dari Mason Greenwood berasal dari senjata United yaitu counter attack. Pemain Villa tidak bisa menghalau tendangan pemain muda tersebut. Bahkan mereka memberikan ruang tembak yang bebas kepada Greenwood.

Proses gol ketiga juga menunjukkan betapa buruknya Villa dalam koordinasi pertahanan. Paul Pogba dibiarkan bebas dan sukses memanfaatkan ruang tembak yang luas untuk mencetak gol ketiga.

Setelah unggul, Ole kemudian mengeluarkan senjata rahasianya yaitu menarik keluar beberapa pemain andalannya. Bruno ditarik keluar lalu United memainkan double pivot McTominay dan Fred. Pogba dikembalikan ke posisinya sebagai gelandang serang. Bentuk ini mengingatkan kita pada masa-masa sebelum Bruno datang. Masa-masa ketika United sulit untuk menembus tim yang menggunakan blok pertahanan rendah. Itu pula yang terlihat ketika United mulai kesulitan membuat peluang dengan Pogba yang harus bekerja sendiri menopang lini depan. Menunjukkan kembali masalah United yaitu soal kedalaman skuad dan bagaimana mereka akan bermain jika Bruno tidak ada di lapangan.

Beruntung, Aston Villa juga tidak menunjukkan penampilan yang baik sehingga skor 3-0 bertahan hingga akhir pertandingan. Hasil ini membuat United menjadi tim pertama yang bisa menang dengan selisih tiga gol dalam empat pertandingan berturut-turut sepanjang sejarah Premier League. Tidak hanya itu, kemenangan ini membuat United sudah membuat 100 gol di semua kompetisi. Perlu diingat bahwa musim lalu United hanya mencetak 85 gol di semua kompetisi. Tiga poin ini juga membuat jarak United dengan Leicester hanya terpaut satu angka.

Comments

Loading...