OUR NETWORK

Fellaini adalah Penyelamat di Tengah Mandulnya Lini Depan United

Entah apa salah botol-botol itu hingga menjadi sasaran pelampiasan Jose Mourinho. Seandainya botol itu bisa bicara, bukan tidak mungkin selepas pertandingan mereka mendatangi seluruh pemain United dan memarahi semua pemain yang ada di ruang ganti. Mereka meminta pertanggung jawaban dari seluruh pemain karena kerusakan yang mereka alami di bagian tubuh mereka.

Manchester United tidak kalah. Mereka bahkan meraih tiga poin dan mengantungi kepastian lolos ke babak 16 besar. Akan tetapi, butuh 91 menit bagi United untuk mencetak gol. Itupun melalui Maroane Fellaini. Gelandang asal Belgia ini kembali membantu lini depan timnya yang begitu bermasalah sejak menit pertama.

Mourinho kembali melakukan rotasi di laga ini. Hilangnya Lindelof membuat Mou memainkan kembali Phil Jones. Antonio Valencia, Fred, dan Marouane Fellaini juga kembali sebagai starter. Yang menarik, Mourinho berani mencadangkan Paul Pogba, Juan Mata, dan Romelu Lukaku yang di laga sebelumnya bermain sejak awal.

Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Tak Parkir Bus, Mengapa Manchester United Tetap Sulit Mencetak Gol? saya menyoroti bagaimana penyelesaian akhir para pemain United memang begitu bermasalah. Padahal rasio tembakan ke gawang yang mereka lakukan hanya setingkat di bawah Manchester United. Hal ini kembali terlihat pada laga melawan Young Boys.

United membuat delapan tembakan pada babak pertama. Akan tetapi, tidak ada satupun yang mengarah ke gawang lawan. Sepanjang 90 menit, hanya ada empat tembakan Setan Merah yang mengarah ke penjaga gawang Balmoos termasuk satu gol dari Fellaini. Padahal mereka membuat 22 tembakan. Bukti bahwa finishing United belum terlalu baik, jika tidak ingin dibilang buruk.

Marcus Rashford menjadi sorotan banyak penggemar United. Hal ini dikarenakan ia menjadi pemain yang paling banyak melepas tembakan di laga ini yaitu enam kali. Akan tetapi, lima tendangannya tidak ada yang mengarah tepat ke sasaran. Ia sebenarnya punya dua kesempatan emas pada babak pertama. Sayang, ia gagal memanfaatkan peluang emas tersebut di saat teman-temannya di lini depan juga tidak tampil begitu baik.

Selain gagal memanfaatkan peluang, para pemain depan United juga kesulitan mengatasi garis pertahanan Young Boys yang tiba-tiba naik ketika United menguasai bola. Hal ini membuat para pemain depan seringkali terjebak offside.

United sendiri terbilang beruntung karena Young Boys pun cukup kesulitan ketika memasuki sepertiga akhir pertahanan United. Hadirnya Fred di lini tengah cukup memberikan rasa aman agar permainan United bisa lebih fokus untuk menyerang dan mencari gol. Penampilan Phil Jones pun cukup tenang di laga kali ini karena tekanan dari Young Boys yang tidak terlalu maksimal.

Pada babak kedua, Young Boys memilih untuk mengendurkan serangan dan memilih untuk mengincar serangan balik. Akan tetapi, hal ini tidak dimaksimalkan oleh United untuk meningkatkan intensitas serangan mereka. Lini tengah dan depan justru tampil lesu dan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sering mereka lakukan seperti salah melakukan umpan dan miskomunikasi. Komentator BT Sport, Robbie Savage, bahkan heran ketika melihat United seperti tidak ingin mencari gol meski laga sudah memasuki 20 menit terakhir.

Mentoknya lini depan United juga disebabkan lini tengah mereka yang sulit untuk menyuplai bola kepada trio pemain depan (Lingard, Martial, dan Rashford). Dalam satu momen, Rashford terlihat marah besar karena tidak ada rekan setimnya yang ingin mendekat atau mencari ruang di kotak penalti Young Boys.

Hal ini yang membuat lini tengah Young Boys begitu mudah memutus aliran bola. Double Pivot mereka, Lauper dan Sow, membuat 10 tekel dari 35 tekel yang dilakukan Young Boys. Mudahnya para pemain Young Boys mematahkan serangan, juga disebabkan oleh penampilan lini depan United yang kurang kreativitas. Sisi kiri mereka, lagi-lagi justru menjadi titik lemah. Dalam posisi yang ditempati Martial dan Luke Shaw inilah, United sering kehilangan bola.

Perubahan kemudian dilakukan Mourinho dengan menarik keluar Lingard dan Fred. Ia memasukkan Pogba sebagai box to box dan menaikkan posisi Fellaini sebagai striker dadakan. Ia juga memasukkan Lukaku untuk menambah kekuatan di kotak penalti dan menarik keluar Lingard.

Young Boys pun sebenarnya melawan strategi ini dengan memainkan Fassnacht dan Ngamaleu yang bertipe menyerang. Masuknya Fassnacht nyaris menjadi mimpi buruk bagi United ketika tendangannya yang dibelokkan badan Mbabu bergulir pelan ke gawang United sebelum diblok oleh De Gea.

Perubahan yang dilakukan United akhirnya membawa hasil. Masuknya Pogba membuat United tidak terlalu mudah kehilangan bola. Kehadiran Lukaku juga memperbaiki serangan United di sisi kanan yang tidak terlalu terlihat pada babak pertama. Striker Belgia ini bahkan membuat dua umpan kunci dari tujuh umpan yang ia lakukan. Lukaku juga yang kemudian mengkreasikan gol kemenangan United. Sundulannya berhasil ditahan Fellaini sebelum sepakan pelannya tidak bisa ditahan penjaga gawang Ballmoos.

Comments