OUR NETWORK

Adaptasi dan Evolusi: Kunci Sukses Sir Alex Ferguson di Manchester United

Sejak pensiun pada 2013 lalu, Manchester United sudah memakai tiga pelatih yang berbeda. Dua di antaranya adalah pemenang Liga Champions. Akan tetapi, semuanya gagal meneruskan jejak seorang Sir Alex Ferguson yang selama dua dekade sukses memberikan banyak gelar untuk mereka.

Ketiganya rata-rata punya masalah dengan taktik. Moyes akrab dengan bola panjang, Van Gaal kaku, sementara Mourinho identik dengan sepakbola pragmatis. Masuknya Ole Gunnar Solskjaer diharapkan bisa memperbaiki United dari segi permainan dan bisa menyenangkan para suporter yang sulit move on dari sosok Sir Alex.

Terkadang kita dibuat takjub oleh kecerdasan seorang Alex Ferguson. Betapa hebatnya beliau bisa membuat United menjadi salah satu klub besar setelah sempat terseok-seok sepeninggal Sir Matt Busby. Salah satunya adalah soal taktik yang disebut-sebut menjadi syarat bagi pelatih baru yang mau mengambil alih kursi kepelatihan di Old Trafford.

Salah satu kunci kesuksesan Ferguson di United adalah kemampuan dirinya beradaptasi dengan situasi sepakbola Inggris saat itu. Ia tidak terpengaruh dengan gaya Kick and Rush yang saat itu merajalela. Taktik Ferguson yang proaktif saat itu belum ada yang bisa menerima. Mengalirkan bola secepat mungkin ke daerah pertahanan lawan menjadi pemandangan akrab. Karena Kick and Rush juga klub-klub Inggris bisa merajai sepakbola Eropa yang memenangi tujuh dari delapan final Liga Champions dalam rentang 1977 hingga 1984.

Di sisi lain, Ferguson lebih menekankan organisasi pertahanan yang rapi agar para pemain lawan tidak bisa menembus lini pertahanannya. Setelah bola berhasil direbut, dia akan melakukan serangan balik cepat dengan bertumpu kepada sayapnya.

Pendekatan ini tidak berjalan baik pada awalnya. United masih tetap terkonsep dengan permainan Kick and Rush. Ferguson pun sempat terancam pemecatan dalam tiga tahun pertamanya. Beruntung, kepercayaan manajemen sukses menyelamatkan kariernya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika Fergie menangani United di era sekarang.

Adaptasi membutuhkan waktu. Dan itu pula yang dialami oleh Ferguson sebelum meraih kejayaan bersama Setan Merah. Butuh tujuh tahun bagi dirinya untuk bisa memetik hasil manis dari kesabaran dan keuletannya yaitu sebuah trofi Premier League yang diidamkan selama 27 tahun.

Salah satu pertandingan yang menandakan berhasilnya pola Ferguson terjadi pada April 1993. Ketika itu, mereka berhadapan dengan Norwich yang merupakan pemimpin klasemen sementara. Mereka bisa mencetak tiga gol hanya dalam tempo delapan menit saja. Menurut Michael Cox dalam bukunya yang berjudul The Mixer, pertandingan tersebut menunjukkan bagaimana transisi taktik United begitu menakutkan.

Ferguson memainkan 4-4-2 yang kemudian berubah menjadi 4-2-3-1 di atas lapangan. Disinilah banyak yang salah kaprah kalau Fergie memainkan pola 4-4-2 yang sebenarnya tidak seperti itu. Eric Cantona, yang diturunkan sebagai striker justru beralih fungsi menjadi pemain nomor 10. Konsep ini sangat asing saat itu tapi Ferguson sudah melakukannya. Cantona menjadi poros dari permainan United. Disinilah mengapa ungkapan Ryan Giggs yang menyebut Cantona pandai mengubah bola buruk menjadi peluang bagus tepat adanya.

Posisi striker kemudian diisi oleh Andrei Kanchelskis yang sebenarnya adalah pemain sayap. Sisi kiri dan kanan ditempati oleh Lee Sharpe dan Ryan Giggs. Tiga gol United semuanya berasal dari kombinasi para pemain ini yang dikombinasikan dengan kejelian Paul Ince dan Brian McClair yang dimainkan sebagai poros ganda. Gol ketiga bahkan hanya butuh enam sentuhan dan sembilan detik saja yang menegaskan bagaimana organisasi permainan United begitu cepat.

“Ferguson sebenarnya tidak pernah memainkan 4-4-2. Dia selalu menempatkan satu strikernya di belakang strker utamanya. Tidak mudah saat itu memainkan 4-4-2 menjadi 4-4-1-1, namun para pendukung United selalu menganggap kalau Ferguson selalu memainkan 4-4-2,” tutur Jonathan Wilson dalam tulisannya tentang Ferguson di Guardian.

Strategi ini sebenarnya tidak selalu berjalan mulus. Blackburn Rovers dan Newcastle United pernah menggagalkan taktik ini. Tim yang disebut terakhir bahkan pernah membantai mereka 5-0 Akan tetapi, Ferguson selalu punya cara untuk menyegarkan kembali timnya. Caranya adalah menjual pemain lama dengan menggantikan pemain-pemain baru yang posisinya serupa.

Arsenal adalah tantangan terbesar United saat itu. Mereka memenangi tiga gelar Premier League dalam enam tahun dengan sistem 4-4-2 yang sama persis dengan Ferguson. Wenger juga menjadikan satu pemain depannya berperan sebagai pemain nomor 10 yang kala itu diemban Dennis Bergkamp. Namun, kehadiran Wenger tidak sampai membuat Mourinho mengubah formasinya. Kepercayaan Ferguson kepada 4-4-2/4-4-1-1 perlahan mulai luntur saat tim ini remuk di tangan The Gunners pada 2001/02.

Ferguson baru benar-benar belajar untuk memperbarui taktiknya saat Jose Mourinho datang ke Inggris. The Special One menonjolkan taktik 4-3-3 yang begitu efektif dengan tiga gelandang yang solid, disiplin, dan konsisten. Taktik ini sukses merepotkan Ferguson dengan kesuksesan Mourinho memenangi dua gelar liga beruntun.

“Jose itu pragmatis dengan semua lini harus berhubungan satu sama lain. Kedengarannya gampang tapi itu cukup sulit. Akan tetapi, Mourinho sanggup melakukannya dengan efektif,” tutur Ferguson dalam bukunya.

Masuknya Mourinho disertai dengan mulai tuanya para penggawa andalan Ferguson. Ia kembali mengganti para pemainnya dengan pemain yang posisinya sama. Keane diganti Carrick, Paul Scholes disiapkan pengganti dalam wujud Anderson dan Darren Fletcher, Nani masuk sebagai deputi Ryan Giggs, dan Cristiano Ronaldo ditempatkan sebagai pengganti David Beckham. Sistem ini kemudian didukung dengan pemain-pemain yang multifungsi seperti Owen Hargreaves, Mikel Silvestre, Wes Brown, dan John O’Shea.

Ferguson pun mencoba beralih dari 4-4-2/4-4-1-1 menjadi 4-3-3 mengadopsi apa yang dilakukan oleh kesuksesan Mourinho selama di Chelsea. Pada musim 2005/06 taktik ini mulai dicoba dengan memainkan Rooney, Ronaldo, dan Van Nistelrooy di lini depan. Lagi-lagi pendekatan ini tidak berjalan dengan mulus.

Penggemar masih terbuai dengan kehebatan 4-4-2 yang menurut Ferguson sudah harus di upgrade. Saat United kembali menggunakan 4-4-2 dalam laga melawan Blackburn dan menelan kekalahan, fans United justru menyoraki para pemain yang dibalas dengan ucapan asisten Ferguson, Queiroz, yang menyebut penggemar United bodoh.

“Orang-orang berteriak kami harus memainkan pola 4-4-2 dan dalam pertandingan melawan Blackbur kami kalah dan justru disoraki. Itulah mengapa sepakbola adalah permainan imajinatif sehingga kebodohan pun bisa muncul dan tidak memiliki batas.”

Taktik 4-3-3 Ferguson baru berjalan sukses pada musim 2007/08. Kedatangan Carlos Tevez melengkapi impiannya membentuk trisula maut di lini depan. Hasilnya adalah double winners dan kombinasi 79 gol dari ketiganya. Taktik ini bertahan hingga musim berikutnya sebelum ia kembali menggunakan 4-2-3-1 pada dua musim terakhirnya.

Comments