OUR NETWORK

Transformasi Sukses Ander Herrera

“Ole Ole Ander Herrera…

Ole ole ole ola…

Drinks esrella by the cask

Not Spanish he is Basque

Ole ole ole ola…”

Begitulah dukungan supporter Manchester United kepada Ander Herrera dalam bentuk nyanyian atau yang lebih dikenal dengan chants. Teriakan para pendukung itu pulalah yang membuat gelandang asal Spanyol ini bermain gemilang akhir-akhir ini. Dan Herrera juga tidak lupa berterima kasih kepada mereka yang telah mendukungnya.

“Saya merasa sangat diapresiasi oleh penggemar United dan saya ingin membalas mereka yang sudah memberi saya semuanya. Saya tahu apa arti Manchester United bagi penggemar dan saya akan membuat mereka bangga,” ujar Herrera. “Pengalaman saya sudah baik seperti apa yang saya harapkan. Perbedannya adalah musim ini saya bermain reguler, dan saya menyukai itu karena saya menyukai sepakbola.”

Jauh sebelum merumput di Old Trafford, Herrera memulai karier sepakbolanya bersama Real Zaragoza. Ia mencatatkan debutnya pada musim 2008/2009 ketika Zaragoza masih menghuni divisi dua Liga Spanyol. Pemain berkebangsaan Spanyol ini tampil pada 19 pertandingan liga dan membawa Zaragoza promosi ke La Liga.

Herrera muda dapat dikatakan cukup berbakat. Ia digadang-gadang akan menjadi gelandang top di masa depan. Ia menjadi bagian dari skuat Spanyol U-21 pada tahun 2011 dan ikut andil dalam kesuksesan Spanyol U-21 dalam meraih trofi UEFA European Championship 2011 di Denmark.

Pada bursa transfer musim panas 2011, Herrera diboyong oleh klub asal Spanyol lainnya, Athletic Bilbao. Ia dipagari dengan klausul pembelian seharga 36 juta euro untuk tiga musim pertamanya, dan 40 juta euro untuk musim selanjutnya. Ia menjadi aset Bilbao karena ia adalah warga asli Basque dan Bilbao hanya boleh bermain dengan pemain asli Basque.

Namun, Manchester United mengaktifkan klausul pembelian Herrera dan mendaratkannya ke Manchester pada Juni 2014 setelah tiga musim membela Bilbao dengan catatan 128 penampilan dan sebelas gol. Sayangnya, Louis van Gaal hanya menjadikannya pemain pelapis. Ia tampil dari menit awal hanya dalam 36 pertandingan liga di dua musimnya di bawah kepemimpinan pelatih asal Belanda itu.

Musim ini, United mendatangkan banyak sosok baru, di antaranya adalah Jose Mourinho dan Paul Pogba. Kedatangan Pogba dinilai akan mengancam posisi Herrera di lini tengah. Tapi Mourniho justru sering menurunkan Pogba dan Herrera bersamaan. Inilah yang membuat perannya dalam skema United berubah.

Selama di Bilbao, ia diplot sebagai gelandang kanan. Pada paruh kedua di musim terakhirnya untuk Bilbao, perannya berubah menjadi “No.10”. Dua musim pertamanya di United juga ia lebih sering bermain sebagai gelandang serang, jika menjadi gelandang tengah pun ia menjalani peran sebagai deep-lying playmaker. Tapi sekarang ia diberi arahan oleh The Special One untuk menjadi gelandang penyeimbang menggantikan posisi Michael Carrick yang sudah termakan usia.

Herrera memang dipercaya oleh Mou untuk mengisi posisi itu. Ia bermain di delapan dari 11 pertandingan terakhir United. Tiga di antaranya juga bukan karena dia disingkirkan. Salah satunya adalah kala menghadapi Swansea, ia menjalani hukuman kartu merah saat itu. Dua sisanya adalah pertandingan Europa League dimana ia diistirahatkan.

Pemain kelahiran 14 Agustus 1989 ini bermain baik dengan peran barunya tersebut. Ia mampu menjaga kedalaman tim, melakukan intercept dan tekel untuk merebut bola, dan mendistribusikannya dengan baik saat memegang bola.

“Saya di sini karena Mourinho memberi saya kesempatan untuk mengambil peran baru. Peran itu lebih defensif, mempertahankan posisi, tidak kehilangan bola, merebut bola, dan membawanya dengan cepat. Saya dapat memenangkan bola kembali dan mendistribusikannya dengan baik. Saya menikmati itu,” ujar Herrera.

Perihal pergantian perannya itu, ia merasa itu bukan masalah. “Saya tidak pernah melakukan ini dalam karier saya. Saya harap saya bisa namun saya harus beradaptasi dahulu. Hal terpintar adalah untuk beradaptasi ketika anda melihat ada kekosongan yang tersedia di tim anda dan itulah yang saya lakukan,” imbuhnya.

Ditambah dengan menumpuknya pemain United yang dapat menjadi pemain “No.10” membuat ia berusaha untuk beradaptasi dengan peran barunya. “Saya pikir untuk menjadi pemain No.10 di klub yang besar, Anda harus bisa mencetak 15 gol lebih semusimnya,” tutur pemain yang pernah mempelajari dunia jurnalistik itu.

Herrera memang sukses menjalani peran ini dan membuat Pogba lebih leluasa melakukan serangan-serangan kreatif. Kesuksesannya dibuktikan dengan catatan intersepnya menajdi yang terbaik di liga untuk posisi gelandang. Ia membuat 3,44 intercept per pertandingan, mengungguli Cheikhou Kouyate dan N’Golo Kante dengan catatan 2,92 dan 2,83. Ia juga sukses membuat 2,11 tekel per pertandingan.

Tak hanya baik dalam bertahan, ia juga impresif dalam mengalirkan bola. Pemain berpostur 182 cm ini mencatat 88% dalam umpan sukses. Performa baiknya juga ditunjukan dalam beberapa pertandingan besar. Ia bermain baik kala menghadapi Arsenal dan Liverpool.

Menghadapi The Gunners, Herrera sukses membuat enam intercept serta 90% umpan sukses. Penampilan impresifnya dilengkapi dengan kontribusi langsungnya dalam gol Juan Mata dengan memberi asis. Sementara itu, kala menghadapi Liverpool di Anfield, ia berhasil melakukan 10 intersep dan tujuh tekel. Ia juga sukses membuat enam dribel. Kinerja baiknya membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik kala menghadapi The Reds.

United memang belum mampu kembali ke papan atas klasmen dan bersaing dalam perebutan gelar. Namun, United jelas lebih kuat dengan penampilan Herrera yang baik dalam membantu pertahanan dan mengalirkan bola. Dan jika pemain lainnya mampu bermain impresif, sangat mungkin United akan bangkit dan kembali ke papan atas klasmen.

Comments

Loading...