OUR NETWORK

Masalah Efektivitas yang Membuat United Gagal Menang (Lagi)

KKMKKMKKKSSKMSK. Itulah hasil 15 pertandingan terakhir Manchester United bersama Ole Gunnar Solskjaer. Mereka hanya meraih 3 kemenangan (M), 3 hasil seri (S), dan 9 kali menderita kekalahan (K). Oleh karena itu, tidak ada kata lain selain meraih kemenangan ketika menghadapi Southampton pada Sabtu (31/8) kemarin.

Akan tetapi, Setan Merah justru gagal meraih kemenangan dalam pertandingan Ole ke-16 sejak malam indah di Paris bulan Maret lalu. Mereka hanya bermain imbang 1-1 pada pertandingan yang berlangsung di St Mary Stadium tersebut. Gol Daniel James disamakan oleh sundulan Jan Vestergaard pada babak kedua. Dengan hasil ini, Ole kembali meneruskan tren kurang bagusnya sebagai manajer Manchester United.

Pada pertandingan ini, Manchester United memegang kendali pertandingan. Berdasarkan statistik yang dilansir dari Whoscored, mereka menguasai bola hingga 59%. Dominasi United membuat mereka menjadi kesebelasan yang paling banyak menciptakan peluang. Ada 21 tembakan yang dibuat oleh MU dengan 8 diantaranya mengarah ke gawang Angus Gunn. Jumlah ini jauh lebih baik dibanding laga sebelumnya (vs Crystal Palace) saat mereka hanya membuat tiga tembakan saja.

Akan tetapi, angka ini memunculkan banyak pertanyaan jika melihat hasil akhir yang didapat. Membuat banyak peluang, namun United hanya meraih hasil imbang. Sebaliknya, Soton bisa membuat satu gol dengan 2 tembakan ke gawang yang dibuat para pemainnya.

Hasil imbang ini tidak lepas dari suksesnya Ralph Hasenhuttl menerapkan pressing kepada para penggawa Manchester United. Berkat pola 4-2-2-2 yang kerap berubah menjadi 4-1-3-2, para pemain Soton sukses mematikan build-up United yang diawali dari lini tengah mereka (McTominay dan Pogba).

Tiga pemain yang bergerak di belakang striker yaitu Pierre Emile-Hojbjerg, James Ward-Prowse, dan Sofiane Boufal akan berusaha mendekati empat pemain United ketika mereka melakukan serangan yaitu Wan-Bissaka, Tominay, Pogba, dan Young. Meski kalah jumlah, namun strategi ini berjalan dengan baik karena satu pemain bisa mendekati dua pemain United sekaligus.

Apa yang dilakukan Palace kembali menunjukkan betapa United selalu kesulitan jika menghadapi kesebelasan yang bermain rapat dengan menggunakan blok rendah. Apalagi, United kerap menitik beratkan serangan mereka di sisi kiri yang semakin memudahkan para pemain Soton untuk mematikan serangan United.

Sisi kanan United memang jarang dilibatkan untuk mengatur serangan. Alasannya sederhana, karena Aaron Wan-Bissaka tidak mempunyai kemampuan ofensif yang cukup baik dibanding Ashley Young sehingga United lagi-lagi memainkan serangan mereka dari sisi kiri melalui Young, Pogba, dan Daniel James. Proses gol James berasal dari build-up serangan mereka di sisi kiri.

Meningkatnya jumlah peluang yang dibuat United tidak lepas dari hadirnya sosok Juan Mata. Menggantikan peran Jesse Lingard, pemain asal Spanyol ini membuat tiga umpan kunci. Hanya kalah sebiji saja dari torehan Paul Pogba. Masuknya Mata membuat sisi kreativitas United menjadi lebih baik.

Hal ini yang kemudian membuat Solskjaer tidak melakukan perubahan apa pun ketika memasuki babak kedua. Pola permainan United masih sama seperti pada babak pertama. Memanfaatkan sisi kiri dengan Juan Mata yang bertindak sebagai playmaker. Akan tetapi, kreativitas United tidak diimbangi dengan penyelesaian akhir yang bagus dari para pemain depannya.

Sebaliknya, efektivitas kembali menjadi pengganjal kemenangan United. Proses gol Soton berawal dari sepak pojok pertama mereka. Sundulan Danny Ings, memanfaatkan sepak pojok Ward-Prowse, berhasil ditepis De Gea. Bola kemudian jatuh ke kaki Kevin Danso. Ia kemudian melepaskan umpan silang yang disambut dengan sundulan Jannik Vestergaard. Gol Soton berasal dari dua sepakan tepat sasaran mereka yang hanya membutuhkan waktu 10-15 detik saja.

Bobolnya gawang De Gea kemudian membuat Solskjaer melakukan perubahan. Yang menarik, ia justru mengganti sumber kreativitas (dalam hal ini Juan Mata) dan memainkan Jesse Lingard. Ia juga memainkan Nemanja Matic menggantikan Andreas Pereira. Masuknya Lingard dan Matic membuat Paul Pogba bermain lebih ke depan. Akan tetapi, tidak ada satu pun gol yang bisa dibuat pemain United meski mereka banyak membuat peluang.

“Selama 90 menit, United bermain tolol dan entah apa pertanyaannya kalau jawabannya adalah Jesse Lingard? Satu-satunya hal yang benar dari Ole adalah memainkan Nemanja Matic sehingga melepaskan Pogba untuk bebas beroperasi di sepertiga akhir pertahanan lawan,” tutur salah satu penggemar United, dan presenter Premier League, Pangeran Siahaan dala akun Twitter box2box.

***

Sebelum Premier League dimulai, United sebenarnya diuntungkan karena mereka mendapatkan jadwal mudah yang membuat mereka punya peluang untuk bisa bertahan di papan atas. Namun kenyataannya, mereka hanya meraih lima angka saja dari kemungkinan 12 poin yang bisa diraih. Ini adalah catatan terburuk United dalam empat laga awal sejak Premier League diisi oleh 20 kesebelasan.

Ole Gunnar Solskjaer punya waktu dua pekan untuk memperbaiki kualitas timnya, terutama di lini depan yang dalam tiga laga terakhir kurang tajam untuk membobol gawang lawan. Saat ini, top skor mereka adalah Daniel James, pemain yang berposisi sebagai winger.

Di sisi lain, Marcus Rashford kembali dipertanyakan ketajamannya. Dalam 11 laga kompetitif terakhir bersama United, ia hanya membuat dua gol saja yaitu ketika mengalahkan Chelsea pada pekan pertama.

Comments

Loading...