OUR NETWORK

Mencintai Chris Smalling Apa Adanya

Mencintai segala sesuatu itu gampang-gampang susah. Contohnya adalah ketika Anda mencintai pasangan Anda. Akan selalu ada ketidakcocokan yang kerap diakibatkan oleh ketidaksempurnaan yang dimiliki pasangan masing-masing. Kalau sudah seperti ini, menerima pasangan dengan apa adanya alias tanpa syarat akan membuat suatu hubungan akan berjalan bahagia dan tanpa beban.

Sedikitnya cinta yang didapat Chris Smalling

Dalam skuat Manchester United saat ini, terdapat enam pemain yang sudah atau lebih dari tujuh tahun berseragam merah. Beberapa nama itu adalah Michael Carrick (12 tahun), Antonio Valencia (9 tahun), Chris Smalling (8 tahun), dan trio David De Gea, Phil Jones, dan Ashley Young (7 tahun). Sayangnya, dari enam nama tersebut, sosok Chris Smalling seolah tidak mendapat rasa apresiasi yang layak dari para penggemarnya.

Jika Carrick, De Gea, dan Valencia dianggap legenda, maka keberadaan Smalling justru dianggap biasa saja. Jatuh bangun dalam mengawal lini belakang Setan Merah luput dari pengamatan mata. Yang ada hanyalah kalimat “Jual Smalling” bertebaran di dunia maya.

Akhir musim 2016/2017, Manchester Evening News membuat sebuah pemilihan mengenai siapa pemain yang harus dijual Jose Mourinho di musim berikutnya. Nama Smalling masuk dalam jajaran teratas. Ia diinginkan para penggemar untuk dilepas ke klub lain. Blunder, dan penempatan posisi yang salah menjadi alasan mengapa eks Fulham ini layak dibuang.

Sayangnya, harapan fans tersebut mentah di tangan Jose Mourinho. Hingga tulisan ini dibuat, Smalling masih menjadi pemain Setan Merah dan bahkan menjadi tumpuan utama Jose di lini belakang United.

Smalling adalah yang terbaik dibanding pemain lain (sejauh ini)

Beberapa penggemar United langsung mengeluhkan nama Smalling ketika skuad Setan Merah diumumkan sejam sebelum sepak mula. Banyak yang tidak habis pikir mengapa Mou tetap teguh menyimpan pemain 28 tahun tersebut meski di skuadnya masih memiliki nama-nama macam Marcos Rojo, Daley Blind, hingga Axel Tuanzebe yang sedang dipinjamkan. Namun, Mou nampaknya memiliki penilaian lain terhadap Smalling.

Statistik pemain bertahan United musim 2017/18 (hingga pekan ke-26)

Aspek

Pemain

Smalling Jones Rojo Bailly Lindelof
Jumlah Laga 18 20 7 8 10
Intersep 35 32 6 13 6
Blok 14 15 5 5 9
Tekel 14 13 2 7 6
Sapuan 106 123 42 45 43
Rerata Keberhasilan Duel Udara (%) 72% 68% 66% 70% 41%
Kesalahan Defensif 0 2 1 1 2

 

Musim ini, Smalling memang tidak disiapkan untuk menjadi pemain utama. Jose Mourinho lebih memilih duet Phil Jones dan Eric Bailly di beberapa laga awal musim ini. Smalling sendiri baru bermain di pekan keenam ketika mereka mengalahkan Southampton. Setelah Eric Bailly cedera, ia selalu turun sejak menit awal dalam 17 dari 20 laga United.

Kalau dilihat dari statistik di atas, terlihat jelas mengapa Smalling menjadi pilihan utama Jose di lini belakang (bersama Phil Jones). Jumlah intersepnya yang terbanyak diantara pemain lain menandakan kalau dirinya cakap dalam membaca aliran bola lawan.

Contoh kecakapan Smalling dalam membaca permainan adalah ketika ia mampu mengejar Dele Alli saat United melawan Spurs di Wembley beberapa hari lalu. Ketika bola panjang dilepaskan, Smalling langsung menutup pergerakan Alli dan sempat memblok bola meski akhirnya Eriksen mampu lebih cepat mencuri bola tersebut.

Selain itu, kesukaan Mou terhadap pemain tinggi menjadi alasan mengapa Smalling terus menjadi pemain reguler terlepas dari ketidaksukaan para penggemarnya. Sejak di Chelsea, Mou selalu menggunakan satu palang pintu yang tingginya lebih dari 185cm. Sebut saja Lucio (188cm), Raphael Varane (191cm), Pepe (188cm), dan Gary Cahill (193cm).

Meski semua pemain belakang Setan Merah bertinggi diatas 185cm (kecuali Phil Jones), namun jika melihat statistik Smalling dalam memenangi duel udara maka sudah jelas mengapa Mourinho begitu menyukai permainannya.

Ucapan yang menyebut Smalling sering membuat blunder juga mentah apabila melihat statistik di atas. Di antara semua pemain belakang lainnya, hanya dia sendiri yang belum pernah membuat kesalahan yang merugikan timnya.

Smalling inkonsisten, tapi selalu ada peningkatan

Setiap manusia diciptakan tidak sempurna, selalu ada kekurangan yang dimiliki. Tapi, sebagai manusia kita dituntut untuk melawan ketidaksempurnaan tersebut agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Hal itu juga yang dilakukan Chris Smalling.

Smalling bukanlah pemain sempuna. Penampilannya kerap naik turun setiap musimnya. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seorang Smalling kerap memperbaiki performanya apabila di musim sebelumnya mengalami penurunan. Hal ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini.

Performa Smalling 4 musim terakhir di United

2014/2015 2015/2016 2016/2017 2017/2018
Jumlah Laga 25 35 18 18
Intersep 58 97 13 35
Blok 16 19 9 14
Sapuan 163 183 127 106
Rerata duel udara (%) 66% 64% 72% 72%
Tekel Sukses 23 39 9 14
Kesalahan Defensif 2 0 3 0

 

Musim 2016/2017 adalah musim dimana Smalling jarang mendapat kesempatan bermain. Cedera dan rotasi saat itu menjadi alasan di balik penurunannya. Tetapi, beberapa aspek yang menurun musim lalu berhasil diperbaiki pada musim ini. Hal ini menunjukkan bahwa Smalling adalah pemain pekerja keras yang ingin memperbaiki kekurangannya. Etos kerja seperti ini yang begitu disukai Jose Mourinho.

Meski begitu ada beberapa poin yang wajib ditingkatkan oleh eks Fulham ini. Salah satunya adalah penempatan posisi yang memang masih sering dilakukan terutama dalam beberapa match terakhir. Akan tetapi, untuk menjual Smalling nampaknya Mou tidak berani untuk ambil resiko. Membangkucadangkan dia dan memberikan kesempatan untuk pemain lain mungkin akan menjadi keputusan yang bijak alih-alih membuangnya ke klub lain.

Comments