OUR NETWORK

Dua Wajah Berbeda Manchester United

Sempat bermain lambat pada awal-awal pertandingan, United akhirnya berhasil menjadi pemenang pada akhir pertandingan. Setidaknya, hal ini jauh lebih baik ketimbang terus melambat sejak awal hingga akhir pertandingan.

Manchester United kembali meraih kemenangan back to back di Premier League setelah terakhir kali mereka melakukannya pada akhir Desember 2019 lalu. Setelah mengalahkan Chelsea, Setan merah memetik tiga poin setelah mengalahkan Watford dengan skor 3-0. Ketiga gol United masing-masing dicetak oleh Bruno Fernandes, Anthony Martial, dan Mason Greenwood.

Sebuah kemenangan yang sangat penting bagi United karena mereka sebenarnya mengawali laga dengan tidak terlalu baik. Untungnya, mereka bisa meraih tiga poin yang membuka kembali persaingan memperebutkan satu dari dua tiket Liga Champions yang tersisa. Bahkan selisih dengan peringkat ketiga, Leicester City, kini menjadi single digit saja yaitu sembilan poin.

Babak Pertama yang Tidak Berjalan Baik

Pada awal-awal babak pertama, United kembali menampilkan kekurangan mereka ketika dipaksa mengambil inisiatif pertandingan. Tidak ada kreativitas yang keluar dari kaki para pemain ini sehingga tampak sulit sekali bagi pemain United untuk menciptakan peluang berbahaya.

United punya 66 persen penguasaan bola hingga menit ke-30, akan tetapi sedikit sekali yang dibuat di wilayah sepertiga akhir pertahanan Watford. Tidak ada pergerakan tanpa bola, beberapa kali pemain United gerakannya sangat pasif. Memang ada Bruno Fernandes yang beberapa kali mencari ruang dan meminta bola. Namun, hal ini seperti tidak mendapat perhatian dari rekan setimnya yang seperti enggan untuk memberikan umpan-umpan berisiko yang sebenarnya bisa memecah ruang antar lini pemain Watford.

Jadilah penampilan United menjadi begitu seadanya. Umpan hanya diberikan ke kiri atau ke belakang, kalaupun ada umpan silang kualitasnya juga tidak sampai membahayakan gawang Ben Foster. Umpan silang hanya sekadar memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lain.

Serangan mereka sangat-sangat monoton. Nyaris semua serangan United datang dari sisi kiri penyerangan mereka. Namun ketika sisi ini buntu, sirkulasi bola untuk memindahkan serangan ke sisi kanan terbilang sangat lambat. Sisi kanan United memang tidak banyak menolong karena Mason Greenwood lebih banyak mendekat dengan Anthony Martial sehingga mereka hanya mengandalkan Aaron Wan-Bissaka. Kalau sudah begini, opsi terakhir dilakukan yaitu melakukan sepakan jarak jauh yang arahnya mudah dibaca Foster.

Build up mereka dari belakang juga bermasalah. United mulai beradaptasi dengan taktik modern yang memainkan bola sejak dari kaki penjaga gawang. Akan tetapi, pemain United nyaris tidak ada keberanian untuk melakukan umpan-umpan progres ke depan. Beberapa kali Lindelof dan Maguire lebih banyak melakukan passing di wilayahnya sendiri.

Selain itu, beberapa pemain United juga sempat melakukan kesalahan yang nyaris membahayakan diri mereka sendiri. Beberapa menit setelah peluit babak pertama dibunyikan, Nemanja Matic dan Harry Maguire salah komunikasi. Menurut data dari United Arena, disaat United memiliki 66 persen penguasaan bola, 56,7 persen dari total penguasaan bola yang dimiliki Watford justru terjadi di wilayah pertahanan United. Hal ini menandakan betapa terlihatnya upaya dari The Hornets melakukan serangan.

Beberapa kali pemain seperti Deeney, Roberto Pereyra, dan Gerard Deulofeu mengancam gawang De Gea. Bahkan ada peluang emas ketika Abdoulaye Doucoure sudah mendekati mulut gawang kiper asal Spanyol tersebut. Sayang, sepakannya masih melebar.

Satu kunci keberhasilan Watford beberapa kali bisa membahayakan United adalah pressing ketat mereka. Meski tidak terlalu intens, namun permainan mengandalkan fisik membuat para pemain United kerap terlihat gugup ketika memegang bola. Ini yang membuat pemain United begitu gampang kehilangan bola. United Arena bahkan sampai mempertanyakan IQ pemain United yang entah kenapa mudah sekali untuk ditekan pemain Watford. Ketika penguasaan bola berpindah, maka Watford akan melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dengan cepat.

Satu hal yang menjadi kendala mereka adalah soal kualitas. Khususnya dalam penyelesaian akhir yang sangat buruk sehingga mereka kesulitan mencari momentum untuk unggul. Inilah yang membuat Watford sekarang terjebak di papan bawah. Punya pemain depan yang cukup bagus secara nama, tapi tidak dengan kualitasnya.

Menggila Pada Babak Kedua

Watford tidak mengubah gaya permainan mereka pada babak kedua. Serangan masih mengandalkan sisi kiri melalui Gerard Deulofeu dan Adam Masina. Selain itu, pressing lini kedua mengandalkan Capoue, Hughes, dan Doucoure juga masih sering dilakukan.

Perubahan justru hadir dari Manchester United. Mereka yang pada babak pertama tampil tidak terlalu bagus, mengalami peningkatan ketika memasuki babak kedua. Khususnya dalam membangun serangan. Umpan-umpan ke depan jauh lebih sering terlihat yang membuat United menjadi lebih mudah untuk mencapai kotak penalti The Hornets.

Selain itu, mereka juga bisa memanfaatkan transisi Watford saat bertahan untuk membuat peluang lebih sering. Ketika bola berpindah ke kaki United, tiga sampai empat pemain langsung bergerak ke depan memanfaatkan kecepatan mereka. Hal ini yang membuat United bisa unggul pemain dalam beberapa situasi. Pada gol ketiga misalnya, lini belakang Watford berada dalam situasi 3 melawan empat pemain United. Tercatat, ada lima sepakan ke gawang dilakukan United pada paruh kedua dan dibuat di dalam kotak penalti.

Tiga poin ini juga tidak lepas dari apiknya penampilan Bruno Fernandes. Gelar Man of the Match layak untuk didapatkan oleh pemain Portugal ini. Ia cukup rajin untuk naik turun mencari ruang meski pergerakannya kerap tidak terdeteksi oleh rekan setimnya. Namun ketika bola sudah ada di kakinya, maka disitulah serangan United dimulai. Buktinya, tiga gol ini hadir dari kaki-kakinya. Satu lagi penampilan apik dari pemain yang kehadirannya sudah ditunggu sejak musim panas ini.

Comments

Loading...