OUR NETWORK

Astana vs Man United: Gairah Anak Muda di Tempat yang Beku

Gairah para bocah ini akan diuji dengan hawa dingin yang menusuk di Astana.

***

Dalam lirik lagu yang berjudul Darah Muda, raja dangdut Rhoma Irama menulis salah satu liriknya dengan menyebut kalau “masa muda adalah masa yang berapi-api.” Lirik yang menggambarkan kalau anak muda memiliki semangat jiwa yang keras dan penuh gairah.

Bagi Manchester United, darah muda adalah sebuah keniscayaan hakiki yang harus dilestarikan oleh klub. Oleh karena itu, Ole Gunnar Solskjaer membuat langkah yang terbilang bijaksana sekaligus ekstrem jelang pertemuan mereka menghadapi Astana pada matchday kelima Uefa Europa League tengah pekan ini.

Sang juru racik hanya membawa 18 pemain saja pada pertandingan nanti. Yang menarik adalah susunan pemain yang dibawa. Hampir tiga perempatnya adalah pemain muda yang berusia dibawah 20 tahun. 10 pemain melakoni debut masuk bersama tim utama. Hanya ada tiga pemain senior yang diajak terbang ke Kazakhstan yaitu Lee Grant, Luke Shaw, dan Jesse Lingard selaku pemain non-kiper tertua diantara yang lainnya.

Solskjaer pun tidak bersama Michael Carrick dan Kieran McKenna. Kedua nama ini ditinggal untuk melakukan sesi latihan bersama tim utama. Ia justru ditemani oleh Nicky Butt. Mayoritas pemain yang dibawa memang merupakan hasil pantauan Butt yang sebelumnya bekerja sebagai kepala departemen tim akademi sebelum pindah menjadi kepala pengembangan para pemain tim utama.

Keputusan Solskjaer memang patut diacungi jempol. Pasalnya, mereka sudah dipastikan lolos ke babak 32 besar yang menandakan kalau dua laga sisa hanya sebatas formalitas saja. Kalah pada dua laga sisa juga tidak akan memberi pengaruh apa pun bagi kelolosan mereka sehingga membawa para pemain muda menjadi keputusan yang perlu dilakukan.

Lagipula, Solskjaer pernah berujar kalau Europa League akan menjadi panggung pemain muda. Dalam dua laga terakhir, United memang sedikit mengendurkan kecenderungan mereka menurunkan banyak pemain muda demi kepastian lolos secepat mungkin. Ketika kepastian lolos sudah diraih, maka pemain muda kini dipersiapkan untuk naik panggung.

Selain itu, fokus utama juga mengarah ke Premier League. Hanya dalam waktu delapan hari, United akan bertanding tiga laga dengan dua diantaranya adalah laga big match melawan Tottenham Hotspur dan Manchester City. Dua laga ini menjadi ujian jika mereka ingin masuk empat besar dan memutus rekor menang sebulan sekali di liga.

Momen Emas Lee Grant dan Max Taylor

Tidak ada pembahasan soal taktik dalam tulisan pra-pertandingan kali ini mengingat mayoritas dari mereka belum teruji pada penampilan tim utama. Namun para pemain muda ini akan merasakan betapa nikmatnya bermain di kompetisi level kedua Eropa setelah lebih banyak menghabiskan waktu bermain hanya untuk tim U-23.

Kini, para pemain muda sedang harap-harap cemas apakah mereka bisa mendapat kesempatan bermain sejak menit awal atau hanya duduk di bangku cadangan. Bagi mereka yang memulai laga dari awal, tentu ini menjadi sebuah momen bersejarah bagi mereka. Dua pemain yang berpeluang dimainkan pada laga nanti adalah Lee Grant dan Max Taylor. Mereka membawa cerita tersendiri jelang pertandingan ini.

Jika ia dimainkan, besar kemungkinan dia akan berdiri di bawah mistar, maka Grant akan bermain lagi setelah satu tahun lebih hanya makan gaji buta dan menjadi asisten pelatih kiper melatih De Gea dan Romero. Tentu ini menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu penjaga gawang senior tersebut mengingat ia beberapa kali berharap bisa mendapat kesempatan bermain.

Di sisi lain, cerita menyentuh datang dari Max Taylor. Pemain yang berposisi sebagai bek ini menembus tim utama setelah 12 bulan sebelumnya terkena kanker yang nyaris menggerus karier sepakbolanya. Sekarang, ia telah kembali lebih kuat dan siap bermain untuk tim utama.

“Saya berada beberapa minggu pertama di mana saya menjalani kemoterapi, dan saya tidak berpikir bisa pergi bersama tim utama setahun kemudian. Ini adalah mimpi karena saya hanya bisa berkhayal untuk menendang bola bersama tim utama,” tutur Taylor.

Meski begitu, Astana jelas bukan lawan yang patut diremehkan. Sama-sama masih berpeluang lolos, mereka jelas ingin memaksimalkan laga ini mumpung lawannya sedang tidak serius. Ketika United menurunkan pemain utamanya, Astana bisa merepotkan dan hanya kalah tipis 1-0 melalui gol Mason Greenwood.

Selain itu, ujian bagi pemain MU juga datang dari cuaca dingin yang sedang melanda tempat tersebut. Hari ini saja, cuaca di Astana dikabarkan menyentuh minus 11 derajat celcius. Pada hari pertandingan, minus 15 sampai 20 derajat diprediksi akan terjadi. Ofisial klub sudah memberi peringatan kepada semua pemain dan staf untuk tidak keluar hotel selama waktu senggang karena suhu yang melewati titik beku.

***

Bagi pemain muda nanti, hasil akhir mungkin tidak menjadi persoalan. Yang paling penting mereka sudah merasakan bagaimana bermain bersama tim utama Manchester United yang tidak bisa dirasakan semua pemain akademi.

Sorotan tetap akan mengarah kepada pemain tim utama mereka yang melakukan latihan intensif jelang laga melawan Villa, Spurs, dan City. Mendapat waktu istirahat yang cukup panjang, mereka dituntut untuk bisa mendapatkan hasil bagus pada tiga pertandingan tersebut.

Sumber: UtdReport

Comments

Loading...