OUR NETWORK

Phil Chisnall dan Tempat Istimewa Dalam Rivalitas United-Liverpool

Kabar duka datang dari Manchester United. Salah satu mantan pemain mereka, Phil Chisnall, meninggal dunia pada usia 78 tahun karena sakit. Setanmerah.net mencoba memberikan penghormatan terakhir kepada Phil yang merupakan salah satu pemain yang mendapat tempat istimewa dalam sejarah rivalitas Manchester United dan Liverpool.

Orang-orang yang menyukai Manchester United atau Liverpool mungkin hanya mengingat Peter Beardsley, Paul Ince, serta Michael Owen sebagai pemain yang pernah memperkuat dua kesebelasan besar tersebut sepanjang kariernya. Namun, faktanya, ada sembilan pemain lain yang sebelumnya juga sudah lebih dulu bermain untuk dua tim tersebut dan Chisnall adalah salah satunya.

Bahkan nama Chisnall jauh lebih spesial ketimbang tiga nama tadi. Jika Beardsley, Owen, dan Ince bermain lebih dulu di klub lain sebelum pindah ke United atau Liverpool, maka Chisnall adalah pemain terakhir yang melakukan perpindahan dari United ke Liverpool (begitu juga sebaliknya) secara langsung.

Chisnall datang dari akademi United pada 1959 dan mulai mewakili tim utama pada 1961. Sejak awal, Matt Busby sudah senang melihat betapa tangkasnya dia di atas lapangan sebagai seorang penyerang. Inilah yang membuat Busby memberikan kesempatan bagi dirinya dalam sembilan pertandingan berturut-turut.

Sejak awal Chisnall mulai dipandang sebagai sosok yang cocok untuk menjadi bagian dari skuad Busby yang sedang dirancang kembali pasca tragedi Munich pada 1958. Ia dipandang sebagai pemain masa depan milik United dan juga timnas Inggris.

Jalan itu semakin mulus ketika timnas Inggris U-23 mulai datang memanggilnya. Tidak hanya Busby, seorang Sir Alf Ramsey juga tidak luput memberi pujian kepada Chisnall sebagai “salah satu pengumpan terbaik yang pernah saya lihat.”

Namun, nasib seseorang memang tidak ada yang tahu. Begitu juga Chisnall. Setelah mencetak 10 gol dari 47 penampilan, dan dipandang sebagai salah satu talenta meyakinkan milik United, Busby justru memilih menambah amunisi lain dengan merekrut Graham Moore. Sontak, hal ini membuat persaingan lini depan menjadi sesak dan Chisnall menjadi korban.

“Saat itu, saya harus bersaing dengan Charlton, Law, Herd, Quixall, Giles, dan Stiles. Lalu ada pemain muda bernama George Best. Saya merasa kalau saya bisa bermain 50 kali dengan pemain seperti mereka tapi Busby kemudian berkata kalau ada penawaran dari Liverpool. Sisanya kemudian diserahkan kepada saya,” kata Chisnall.

Chisnall kemudian mengambil keputusan besar yaitu menerima pinangan Si Merah dengan dana 25 ribu pounds. Sesuatu yang disambut senyum oleh Bill Shankly yang menyebut Chisnall sebagai pemain istimewa yang bisa melakukan banyak hal dengan bola di kakinya.

Jika saat ini perpindahan pemain dari United menuju Liverpool atau sebaliknya merupakan tindakan yang kontroversial, namun Chisnall menyebut saat itu rivalitas United dan Liverpool tidak sepanas seperti di era modern. Hal ini tidak lepas dari sosok Busby dan Shankly yang keduanya bersahabat.

“Orang-orang berasumsi kalau Busby dan Shankly bersaing, namun faktanya kedua orang ini bersahabat. Mereka sama-sama dari keluarga penambang di Skotlandia. Jika mereka sedang bersama, Anda akan melihat betapa keduanya saling memperhatikan dan menghormati,” ujarnya.

Meski sudah memutuskan untuk pindah, namun nasib Chisnall ternyata tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Ia hanya bermain delapan kali dengan dua gol saja yang mampu ia buat. Kariernya baru benar-benar naik ketika memutuskan bermain untuk Southend United sebelum mengakhiri karier di Stockport County.

Karier sepakbola Chisnall pada akhirnya hanya seumur jagung. Pada usia 30 tahun, ia memutuskan gantung sepatu karena gangguan lutut yang ia derita. Apesnya, cedera tersebut justru ia dapat ketika dia sedang berdoa.

“Saya sedang melakukan misa. Lalu tiba-tiba lutut saya terkunci. Saya dibawa ke dokter yang kemudian berkata kalau saya tidak bisa bermain lagi,” katanya.

Phil boleh saja dianggap sebagai pesepakbola yang tidak memiliki karier yang cemerlang meski bermain untuk Liverpool dan Man United. Akan tetapi, ada satu pencapaian yang bisa dibanggakan oleh Chisnall yaitu pernah merasakan nikmatnya dilatih oleh tiga pelatih besar pada zamannya yaitu Matt Busby, Bill Shankly, dan Alf Ramsey.

Comments

Loading...