OUR NETWORK

Fillipo Inzaghi dan Guyonan Lahir Dalam Posisi Offside

9 Agustus merupakan tanggal istimewa bagi seorang Filippo Inzaghi. Pada tanggal tersebut, usianya bertambah satu tahun. Tahun 2020 ini, usia Inzaghi menjadi 47 tahun. Ulang tahunnya yang sekarang mungkin paling nikmat untuk dirayakan karena sebelumnya Pippo berhasil membawa Benevento promosi ke Serie A musim depan.

Berbicara soal Inzaghi, maka kita berbicara tentang striker yang unik, cerdik, sekaligus licik. Bagaimana tidak, dia seolah hadir menjadi anti-teori dari para penyerang yang ada di muka bumi ini. Kalau katanya penyerang itu harus memiliki body balance yang kuat, kecepatan, atau skill individu, maka Inzaghi tidak perlu itu. Yang dia hanya perlukan adalah berada di tempat pada waktu yang tepat. Ketika momen itu sudah ia dapat, maka gol hanya tinggal menunggu waktu.

Inilah yang membuat Inzaghi begitu dihindari oleh para lawannya. Oliver Kahn bingung kenapa dia bisa dibobol oleh Inzaghi hingga enam kali sepanjang karier. Gara-gara ini, ia menyebut kalau Inzaghi adalah penyerang yang tidak mau ia lawan. “Inzaghi adalah pemain yang bisa membuat skor menjadi 1-0 dan 2-0 meski ia nyaris tidak terlihat,” katanya.

Tapi, disitulah kehebatan Inzaghi. Dengan gaya main seperti itu, ia bisa mencetak 288 gol sepanjang kariernya. Penempatan posisi yang tepat kadang membuatnya bisa lolos dari jebakan offside seperti yang ia lakukan pada final Liga Champions 2007 ketika ia menjadi pahlawan Milan berkat dua golnya.

Masih banyak sosok-sosok di sepakbola yang juga berkomentar tentang Inzaghi. Johan Cruyff lebih kejam lagi. Menurut mantan pelatih Barcelona ini, Inzaghi itu tidak bisa main bola sama sekali. Sir Alex Ferguson juga turut berkomentar. Ia menyebut kalau Inzaghi itu main bola seperti seorang balita. Selain itu, ia juga menyebut kalau Inzaghi adalah penyerang yang sudah offside sejak lahir.

“Dia pasti lahir dalam posisi offside. Melihat Inzaghi main, maka seperti melihat pemain yang tidak banyak bergerak. Dia seperti balita yang menendang bola ke gawang kecil yang dijaga oleh ayahnya. Lemah, lambat, biasa saja, tapi gol,” ujar Ferguson.

Offside adalah penyelamat United ketika menghadapi Inzaghi yang saat itu memperkuat Juventus. Kejadiannya terjadi pada leg kedua semifinal Liga Champions 1998/1999. Saat itu, Inzaghi meneruskan bola yang ditendang rekan setimnya ke gawang Peter Schmeichel yang sudah kosong. Beruntung, gol dianulir dan skor tetap 2-2.

Namun, dua gol Juve dicetak oleh Inzaghi. Ia bahkan membuat United nyaris tersingkir saat itu melalui gol-gol yang dengan ajaibnya bisa bersarang ke gawang Schmeichel. Pada gol pertama, Inzaghi tiba-tiba sudah mengungguli Gary Neville untuk meneruskan bola dari Zidane.

“Dasar permainan saya yang paling utama adalah timing. Itu sangat penting untuk pemain sepertiku yang menghabiskan waktu di dekat garis offside. Saya harus siap melesat ke gawang lawan. Setelahnya, insting yang membantu untuk menempatkan bola ke gawang,” kata Inzaghi.

Gol kedua bahkan lebih unik lagi. Dengan penjagaan ketat Stam, Inzaghi memilih untuk menendang dari posisi yang sulit. Bola justru melambung dan tidak bisa dijangkau sang penjaga gawang. Stam sendiri adalah eks United lain yang juga kesal ketika melawan Inzaghi.

“Sedikit saja Anda menyentuhnya, maka dia akan terjatuh seperti orang yang habis kena tembak,” tuturnya.

Lima kali bertemu United sepanjang karier, Inzaghi mencetak tiga gol yang semuanya ia buat saat masih bermain untuk Juventus. Satu gol lainnya hadir pada 1997. Inzaghi yang sebelumnya hanya berlari-lari kecil, tiba-tiba menyelinap di balik Gary Pallister untuk menyundul bola ke gawang.

Ucapan Ferguson memang terkesan seperti menyindir Inzaghi. Namun jika ditelisik lebih dalam, ada kesan kalau Fergie begitu waspada terhadap saudara kandung Simone Inzaghi saat itu. Beruntung bagi Fergie, karena sejak dua golnya ke gawang United pada 1999, Inzaghi tidak lagi mencetak gol ketika bertemu United meski Setan Merah dua kali tersingkir oleh Milan.

Inzaghi membuktikan kalau tidak ada gawang yang tidak aman dari golnya termasuk gawang Manchester United sekalipun meski tekniknya disebut-sebut sebagai salah satu yang terburuk di Italia. Bahkan seorang Jose Mourinho yang dikenal tidak takut terhadap siapapun terlihat khawatir kalau timnya bertemu Inzaghi.

“Milan boleh saja main dengan 10 striker, tapi yang paling penting, Inzaghi jangan main,” katanya.

Comments

Loading...