OUR NETWORK

Wes Brown dan Tradisi Cuci Sepatu Senior yang Mulai Ditinggalkan

Jelang bertanding dalam laga amal Soccer Aid di Stadion Old Trafford, Wes Brown meluangkan waktunya untuk menceritakan kembali kisah dirinya semasa membela Manchester United. Salah satu yang paling dikenang oleh Brown adalah ketika ia baru pertama kali naik tingkat ke tim utama setelah sebelumnya berstatus sebagai pemain magang.

Brown mengenang saat diusianya yang baru 17 tahun pada 1996, ia langsung mendapat tugas yang tergolong berat sebagai anak baru. Salah satunya adalah saat ia kebagian menjadi tukang cuci sepatu salah satu pemain senior tim. Tidak tanggung-tanggung, pemain yang mendapat kesempatan untuk merasakan servis Wes Brown adalah Eric Cantona.

Ada satu cerita menarik yang diungkapkan Brown saat diwawancarai United mengenai cerita tersebut. Salah satunya adalah ketika Cantona kebingungan mencari sepatu sepakbolanya yang hilang. Brown saat itu menjadi tertuduh karena tugas mencuci sepatu King Eric menjadi tanggung jawabnya.

“Saya tidak akan pernah melupakan hari ketika dia datang untuk menanyakan di mana sepatu bolanya. Saya benar-benar tidak tahu saat itu. Saya masih remaja saat Eric berada di United dan kami semua begitu kagum padanya tetapi pada saat kejadian tersebut saya hampir terkena serangan jantung. Sampai hari ini, saya tidak tahu ke mana sepatunya pergi,” tuturnya dalam United Review.

Cara Menempa Pemain Kelas Dunia

Apa yang dilakukan oleh Wes Brown dua dekade lalu merupakan sebuah tradisi yang kerap dilakukan klub-klub Inggris pada era 90an. Para pemain muda yang akan naik tingkat saat itu mendapat beberapa pekerjaan yang terbilang cukup berat sebagai bentuk perkenalan kepada tim utama. Beberapa tugas yang harus mereka lakukan antara lain membersihkan kamar mandi tempat latihan atau membersihkan sepatu para legenda klub.

“Biasanya ada dua pekerjaan yang dilakukan pemain magang saat naik ke tim utama. Selain mencuci sepatu, ada juga yang mencuci pusat kebugaran. Apa yang kita lakukan saat itu adalah bentuk penghormatan kami kepada pemain senior bahwa Anda harus bekerja keras dan berusaha sangat panjang untuk sukses,” tuturnya seperti dilansir Independent.

Tradisi yang kedua kerap jamak dilakukan oleh beberapa pemain terkenal di dunia. Frank Lampard adalah tukang cuci sepatu Julian Dicks saat masih di West Ham. Paul Gascoigne pernah menjadi tukang cuci Kevin Keegan. Selain Wes Brown, sosok setampan David Beckham pun pernah menjadi tukang cuci sepatu milik Bryan Robson.

Apa yang mereka lakukan saat itu semata-mata sebagai bentuk motivasi kalau tidak mudah untuk mendapatkan tempat di tim utama. Para pemain yang baru memasuki tahun pertama dituntut untuk selalu mawas diri serta jauh dari sifat sombong meski statusnya bukan lagi sebagai anak-anak. Mereka harus bekerja keras dan tetap menginjakkan kakinya di bumi. Terbukti baik Lampard, Gascoigne, Brown, dan Beckham menjadi pemain terbaik yang pernah dimiliki sepakbola Inggris.

Tradisi yang Mulai Dilupakan

Akan tetapi, tradisi cuci sepatu ini mulai ditinggalkan. Sangat sedikit klub yang masih mempertahankan konsep inisiasi seperti ini dan mulai menggantinya dengan cara lain seperti menyanyi di depan rekan setim atau berjoged hingga menuangkan kopi ke pemain yang lebih tua.

Kemunculan akademi yang terstruktur rapi membuat banyak klub merasa kalau cara ini tidak perlu digunakan kembali. Bahkan beberapa kesebelasan menyebut tindakan mencuci sepatu senior adalah pekerjaan kejam bagi pemain muda yang baru naik tingkat ke tim utama.

Beberapa tahun lalu, Frank Lampard menyebut kalau tradisi tersebut harus dibangkitkan kembali untuk para pemain muda agar tidak terbuai dengan gaya hidup mewah serta sifat manja. Super Frank merasa kasihan melihat pemain muda sekarang ini gampang terbuai dengan kemewahan yang didapat sehingga berpengaruh terhadap permainan mereka di atas lapangan.

“Sekarang para pemain muda mulai melupakan apa itu arti dari kata kerja keras yang berhubungan dengan kemewahan yang mereka dapatkan. Mereka semua tidak memiliki dedikasi yang sama apabila tidak ditempa terlebih dahulu,” tuturnya dilansir dari Daily Mail.

Ia menambahkan, “Saya ingat ketika saya dan John Terry kerap mengeluh mengapa kami harus mencuci sepatu. Akan tetapi, saya merasa kalau itu adalah cara belajar yang paling bagus. Tetapi gaya hidup datang lebih cepat padahal mereka belum diharuskan untuk berada di sana (mendapatkan banyak kemewahan).

Sumber: Daily Mail, Independent, Telegraph

Comments