in

“Roses Derby” Rivalitas Manchester United dan Leeds United yang Nyaris Terlupakan

Perang dan sepakbola adalah dua hal yang bisa dikatakan tidak memiliki hubungan. Namun tampaknya hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam sejarah Inggris dikenal ada salah satu perang yang bernama The War of The Roses atau dalam bahasa Indonesia berarti perang mawar yakni perang saudara yang terjadi dalam Dinasti Tudors yang bertujuan untuk memperebutkan tahta kerajaan Inggris. Perang ini terjadi antara keluarga Lancaster dengan simbol mawar merah dan keluarga York dengan simbol mawar putih yang terjadi selama 30 tahun yakni pada 1455 – 1487.

Sejarah kelam tersebut tampaknya merembet pada rivalitas dua kesebelasan yakni antara Manchester United dan Leeds United. Rivalitas yang dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat ini terjadi lantaran Manchester United merupakan bagian dari wilayah Lancashire dan Leeds United berada pada wilayah Yorkshire. Tak heran terjadi gesekan yang sangat panas antara kedua tim.

Selain faktor sejarah, disebut-sebut masa revolusi industri di Inggris juga dianggap memiliki pengaruh terhadap rivalitas Leeds United dan Manchester United. Kota Leeds yang saat itu memiliki komoditas utama industri wol harus disaingi oleh perkembangan industri kapas dari kota Manchester. Saat itu industri kapas kota Manchester berkembang pesat sehingga industri wol dari kota Leeds tertinggal. Hal ini menimbulkan kecemburuan sosial dari warga kota Leeds.

Pertemuan Leeds United dan Manchester United selalu menghadirkan laga panas. Rivalitas yang terkenal dengan sebutan “Roses Derby” ini selalu mencuri perhatian di era 1960-an. Perseteruan dalam Roses Derby ini mungkin bisa digambarkan saat kita melihat El Classico di La Liga saat ini.

Era 1960-an menjadi era perseteruan antara Manchester United dan Leeds United. Laga panas yang terjadi antara dua tim kerap menimbulkan perkelahian. Saat itu baik Manchester United maupun Leeds United diperkuat oleh pemain-pemain hebat.

Di kubu Manchester United terdapat nama seperti George Best, Dennis Law, dan Bobby Charlton. Sedangkan di kubu Leeds United terdapat nama Jack Charlton, Billy Bremer, dan Norman Hunter.

Semifinal Piala FA tahun 1965 juga disebut-sebut sebagai awal perseteruan Leeds United dan Manchester United. Saat itu kedua tim tengah sama-sama memburu gelar double winner. Pertemuan di semifinal ini pun berjalan begitu sengit bahkan lebih mengarah ke permainan brutal yang berujung perkelahian antara Dennis Law dan Jack Charlton. Karena permainan kerasnya, saat itu Leeds United mendapat julukuan “The Dirty Leeds”.

Pada era 1970-an di tanah Inggris terkenal akan budaya Hooligannya di mana meningkatkan tensi rivalitas di antara pendukung kedua kesebelasan yakni Leeds United Service Crew dan Red Army yang saat itu sangat disegani. Kedua kelompok Hooligan ini kerap terlibat perkelahian di dalam maupun di luar stadion.

Tahun 1974, Manchester United harus terdegradasi ke divisi kedua Liga Inggris. Sedangkan Leeds saat itu sedang berada pada masa keemasan. Hal ini pun sempat menurunkan tensi rivalitas kedua tim di atas lapangan karena harus bermain di divisi yang berbeda. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi pendukung kedua tim. Perbedaan tingkat divisi bermain justru menyulut api rivalitas kedua pendukung.

Masih di tahun 1974 pelatih Leeds United, Don Revie memutuskan untuk meninggalkan klub demi melatih tim nasional Inggris. Hal tersebut pun membuat kondisi Leeds United secara perlahan menuju keterpurukan. Beberapa pemain Leeds United pergi meninggalkan klub. Beberapa di antaranya justru menyebrang ke kubu Manchester United, seperti Joe Jordan dan Gordon McQueen pada tahun 1978. Transfer ini pun menyulut kemarahan besar para pendukung Leeds karena saat itu Manchester United tumbuh semakin kuat sedangkan Leeds terus terpuruk.

Rivalitas kedua tim kembali memuncak pada era 1990-an. Saat itu Eric Cantona yang merupakan salah satu pemain terbaik yang dimiliki Leeds United. Ia juga merupakan bagian dari tim saat mengantarkan The Whites, julukan Leeds United, meraih gelar Liga Inggris pada musim 1991/1992 yang merupakan edisi terakhir Liga Inggris sebelum beralih ke format Premier League.

Amarah pendukung Leeds kembali memuncak saat Eric Cantona berhasil didatangkan oleh Alex Ferguson ke Old Trafford. Bergabungnya Eric Cantona pun memberikan dampak positif terhadap Manchester United salah satunya berhasil mengantarkan Manchester United meraih gelar perdana setelah 26 tahun puasa gelar.

Kemarahan pendukung Leeds semakin menjadi-jadi saat beberapa pemain penting Leeds United berhasil “dibajak” oleh Manchester United seperti Rio Ferdinand pada 2002 yang berhasil memecahkan rekor transfer pada saat itu dan juga Alan Smith pada 2004 yang pernah mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah bergabung bersama Manchester United. Namun pada akhirnya dia bergabung.

Rivalitas keduanya pun kini sudah tak pernah terlihat setelah Leeds United terdegradasi dari Premier League pada 2004 dan hingga kini belum berhasil promosi ke Premier League. Terakhir kali Roses Derby terjadi pada 2011 saat kedua tim bertemu di Piala Liga Inggris yang berlangsung di Elland Road. Saat itu Manchester United berhasil mengalahkan Leeds dengan skor 3-0 lewat dua gol yang di cetak Michael Owen dan satu gol Ryan Giggs.

Semoga suatu saat nanti Roses Derby akan kembali dapat kita saksikan di Premier League. Semoga!

Sumber : BBC, mirror, independent.

Facebook Comments
Loading...