OUR NETWORK

Ketika Anfield Menjadi Kandang Manchester United

Mengawali dua pertandingan musim 1971/1972 dengan meraih empat poin dari hasil imbang melawan Derby County dan menang 3-1 atas Chelsea, Manchester United mengincar tiga poin keduanya pada tanggal 20 Agustus 1971. Saat itu, United bersiap untuk menjamu Arsenal di stadion Anfield.

Terkesan ada yang aneh dari paragraf di atas? Manchester United menjamu juara liga sebelumnya yaitu Arsenal di Anfield yang merupakan markas dari Liverpool? Bukankah kandang Setan Merah sejak dulu adalah Old Trafford? Anfield memang pernah menjadi stadion tim lain, akan tetapi tim yang memakai stadion tersebut adalah Everton yang sebenarnya sama-sama berasal dari Merseyside.

Memang benar kalau kandang Manchester United adalah Old Trafford yang akrab disebut sebagai Teater Impian. Namun pada musim 1971/1972, mereka memakai Anfield sebagai kandang sementara khusus untuk pertandingan melawan Arsenal di tanggal tersebut.

Cukup aneh memang ketika mengetahui kalau United memakai Anfield sebagai kandang. The Guardian menceritakan momen menarik tersebut ketika Bobby Charlton dan kawan-kawan berjalan ke dalam stadion, lalu disambut dengan tepuk tangan meriah dari para penonton yang mengenakan syal merah putih di tribun terkenal The Kop tapi tim yang bermain bukanlah si pemilik stadion.

Namun, United dan para penggemarnya harus menerima kenyataan tersebut kalau harus bermain di kandang rivalnya sendiri. Hal ini tidak lepas dari kejadian musim sebelumnya (1970/1971) saat United menjamu Newcastle United di stadion Old Trafford. Ketika itu, salah satu suporter United melempar pisau ke arah tribun yang ditempati suporter tandang. Hal ini membuat FA memberikan hukuman yaitu larangan bermain di kandang selama dua pertandingan pada musim berikutnya (1971/1972). Anfield dipilih sebagai kandang sementara untuk laga kandang pertama, sedangkan laga kedua yang berlangsung tiga hari setelahnya yaitu melawann West Bromwich Albion, United memilih Victoria Ground yang merupakan kandang dari Stoke City.

“Saya punya banyak sekali teman yang benar-benar membantu dan saat itu Bill Shankly (manajer Liverpool) mengatakan akan dengan senang hati memberikan kesempatan kepada Manchester United untuk menjadikan Anfield sebagai kandang,” kata manajer United, Frank O’Farrel.

Laga tersebut sempat ricuh meski akhirnya berakhir baik bagi United. Jelang sepak mula, ratusan penonton yang hadir masuk ke lapangan hingga membuat pemanasan tim United menjadi terganggu dan jadwal kick-off tertunda sekian menit. Para penonton ingin menduduki tribun The Kop karena pada babak pertama United menyerang ke arah sana.

Beruntung United akhirnya menang 3-1 melalui gol yang masing-masing dicetak oleh Bobby Charlton, Alan Gowling, dan Brian Kidd. Sebelumnya, United sempat tertinggal dulu melalui Franck McLintock yang mencetak gol pada menit keempat. Tiga poin ini membawa Setan Merah berada di puncak klasemen sementara dengan tujuh poin.

Meski menang, entah kenapa para pemain United tampak tidak tertarik untuk membahas hasil pertandingan tersebut. Beberapa dari mereka yang diwawancarai soal pertandingan tersebut pada 2010 menjadi lupa terkait peristiwa itu. Padahal, momen itu bisa dibilang sangat langka karena United meraih tiga poin, berstatus tuan rumah, tapi memainkan laga kandangnya di markas rival.

“Saya tidak ingat pertandingan apa itu dan siapa yang kita lawan. United bermain di Anfield? Sudahlah,” tutur Alan Gowling sang pencetak gol kedua. Guardian menangkap momen ketika Gowling merayakan golnya.

Hal serupa juga dituturkan oleh David Sadler yang tampil baik dalam menjaga pertahanan Setan Merah. “Apakah saya bermain? Saya tidak ingat. Coba tanya ke Alex Stepney yang punya ingatan bagus daripada saya,” tuturnya.

Lalu, bagaimana menurut Stepney? Kiper yang pernah mencetak gol ke gawang lawan ini juga mengeluarkan pendapat yang serupa dengan Gowling dan Sadler meski kalimatnya terkesan diplomatis.

“Saya samar-samar ingat bahwa musim itu kami harus bermain jauh dari Old Trafford, tetapi saya benar-benar tidak bisa mengingat pertandingan itu. Saya merasa kalau saya hanya menang satu kali di Anfield ketika mengalahkan Liverpool 4-1. Jadi kemenangan itu (melawan Arsenal) adalah kemenangan kedua.”

“Yang saya ingat ketika bermain jauh dari kandang adalah ketika kami bermain di kandang Plymouth (saat mendapat hukuman dri Uefa karena kericuhan suporter pada laga melawan Saint-Etienne pada Piala Uefa,” kata Stepney.

Menarik memang melihat tanggapan ketiga pemain ini. Tidak ada alasan pasti mengapa mereka melupakan momen tersebut. Bahkan bisa saja mereka memang benar-benar tidak bisa mengingatnya karena kejadiannya sudah terjadi puluhan tahun lalu. Atau mereka masih ingin menjaga rivalitas United dan Liverpool tetap menyala? Entahlah, hanya mereka sendiri yang tahu. Namun, laga tersebut memang bisa dibilang meninggalkan kesan buruk bagi United khususnya setelah pertandingan.

United dipaksa menelan pil pahit. Keuntungan dari penjualan tiket pada pertandingan tersebut ternyata harus dibagi dengan Liverpool (15%) dan juga Arsenal selaku tim tamu. Apes bagi mereka, karena pertandingan itu hanya dihadiri 27.649 penonton menurut penuturan Guardian. Bisa saja hal ini yang membuat Stepney, Gowling, dan Sadler memilih melupakan pertandingan tersebut.

Atau jangan-jangan mereka memang ingin melupakan pertandingan tersebut karena terkenang kembali sosok sang manajer, Frank O’Farrell. Saat itu, Frank sedang menjalani musim pertamanya sebagai pengganti Sir Matt Busby untuk melatih Charlton dan kawan-kawan. Namun, sosok yang sekarang berusia 92 tahun itu hanya diberikan kesempatan memimpin tim selama 18 bulan. Ia tampak tidak populer di mata para pemain maupun pendukung United yang masih terkenang akan sosok Busby.

Comments

Loading...