OUR NETWORK

Fletcher Moss Rangers dan Kisah Pilu di Baliknya

Kita semua mungkin sudah tahu bahwa nama-nama macam Jesse Lingard, Marcus Rashford, Danny Welbeck, dan Wes Brown, adalah nama-nama lulusan akademi Manchester United yang meraih prestasi bersama tim utama. Akan tetapi, tahukah di mana mereka pertama kali mengenal sepakbola sebelum bisa sesukses sekarang?

Di selatan Stadion Old Trafford, terdapat sebuah akademi bernama Fletcher Moss Rangers (FMR). Rata-rata anggotanya diisi oleh bocah usia tiga hingga 11 tahun. Tapi, siapa yang menyangkan kalau FMR adalah tempat pemain-pemain yang sudah disebutkan di atas tadi mengawali karirnya sebelum bersinar bersama Setan Merah.

Berdirinya FMR bisa dibilang berawal dari ketidaksengajaan. Pada tahun 1986, banyak dari para orang tua saat itu membawa anak-anaknya bermain bola di kawasan tersebut. Semakin hari, orang tua yang mengajak anaknya bermain bola semakin banyak. Akhirnya didirikanlah Fletcher Moss Rangers yang mengambil nama dari stadion tersebut.

FMR mulai menjadi perbincangan ketika salah satu lulusannya yaitu Wes Brown mengundang perhatian dari Manchester City. Meski akhirnya Brown memilih United, namun kabar tersebut membuat FMR menjadi harum yang kemudian banyak dari para orang tua yang memasukkan anaknya ke FMR.

Lambat laun, kompleks latihan FMR menjadi penuh oleh orang tua yang mengharapkan anak-anaknya bisa sukses di sepakbola. Selain itu, mereka juga mulai didatangi oleh para pemandu bakat yang ingin memasukkan beberapa anggota FMR ke dalam akademinya. Di sinilah awal kisah bagaimana United mendapatkan Danny Welbeck, Jesse Lingard, dan Marcus Rashford.

“Saya masuk ke sana di usia enam tahun dan berlatih bersama mereka hingga usia delapan. Saat saya berlatih, seketika United menawari saya untuk melakukan tes. Seketika saya mengiyakan penawaran tersebut dan tidak pernah kembali ke FMR,” ujar Welbeck.

Hal serupa juga dialami oleh Rashford. Rashford diambil dari Fletcher Moss saat berusia tujuh tahun atau saat ia menjalani tahun keduanya di sana. Siapa yang menyangka, 12 tahun kemudian Rashford menggebrak sepakbola Inggris dengan mencetak dua gol dalam debut liganya melawan Arsenal.

“Saya mendapat kursi di Old Trafford dan menyaksikan Rashford bermain melawan Arsenal. Saya tidak yakin dia bisa mengulangi performa serupa di Kamis malam. Tapi tiba-tiba dia mencetak dua gol. Dua debut, dua gol. Saya menangis, saya menangis sambil melompat-lompat,” ujar Dave Horrock, Kepala Pengembangan Akademi Fletcher Moss Rangers.

Selain nama-nama yang sudah disebutkan di atas, tercatat nama lain macam Ravel Morrison, Tyler Blackett, serta Cameron Borthwick Jackson juga berasal dari sana. Tidak hanya Manchester United, tercatat klub-klub lain macam Manchester City, Liverpool, dan Arsenal juga pernah mengambil beberapa nama dari FMR.

Sayangnya, di tengah kesuksesan Fletcher Moss Rangers menelurkan pemain-pemain bertalenta, tersimpan cerita pilu di baliknya. Mereka kesulitan keuangan untuk memperbaiki sarana yang mereka miliki.

Infrastruktur yang dimiliki terbilang sudah tidak layak pakai. Kamar ganti kerap bocor sehingga Horrock sering menaruh ember di tengah lantai. Alat-alat pertandingan mereka sudah terlalu tua. Tiang gawang sudah mulai terkelupas. Selain itu, lapangan mereka pun sudah harus diperbaiki. Akan tetapi, biaya untuk membetulkan itu semua tidaklah murah. Butuh 2 juta paun atau hampir 40 miliar rupiah untuk mendandani itu semua.

Dalam video yang dirilis Manchester Evening News terlihat keluhan dari para pelatih FMR terkait sarana dan prasarana yang dimiliki oleh mereka.

“Bangunan yang kami miliki sudah rusak. Lapangan juga tak layak pakai, ruang ganti kami sangat buruk. Kami tidak punya uang untuk memperbaikinya.”

Satu hal yang membuat FMR tidak bisa meraup uang banyak adalah karena para pemain mereka yang pindah dari sana belum berstatus pemain profesional dan masih di bawah umur. Hal ini membuat Fletcher Moss tidak bisa mendapatkan dana kompensasi. Yang disesali oleh Horrock adalah tidak adanya balas budi dari beberapa klub kompetisi Inggris yang tidak mau memberikan bantuan meski sudah mencari pemain di akademinya.

“Klub-klub macam Man United, Man City, Swansea, City, Liverpool, Rochdale, Celtic, Burnley, dan lain-lain, tidak ada satupun yang memberi bantuan kepada kami. Mereka hanya mengambil, mengambil, dan mengambil, tapi kami tidak pernah dapat apa-apa.”

Meski kecewa, Horrock tetap bertekad menjalani kesehariannya menjadi pelatih untuk FMR. Dikutip dari Daily Mail, ia tidak ingin meninggalkan pekerjaan ini karena rasa cinta dan kepeduliannya terhadap perkembangan pemain-pemain muda. Ada kepuasan baginya ketika melihat anak didiknya bisa menjadi pesepakbola terkenal di dunia.

Foto: Mark Robinson/Dailymail.co.uk

Jebolan Fletcher Moss Rangers yang Diambil Akademi United

Nama Karir Sekarang
Wes Brown Kerala Blasters (Liga India)
Marcus Rashford Manchester United
Jesse Lingard Manchester United
Reece Brown Rochdale (League One)
Tyler Blackett Reading (Divisi Championship)
Ravel Morrison Atlas (Liga Meksiko)
Danny Welbeck Arsenal
Danny Webber Pensiun
Cameron Stewart Lincoln City (League Two)
Cameron Borthwick Jackson Manchester United (Dipinjam Leeds)
Ezekiel Fryers Barnsley (Divisi Championship)

 

Sumber: Telegraph, Independent, Daily Mail, PA

Comments