OUR NETWORK

Anderson dan Tendangan Penaltinya di Moskow

Eks gelandang bertalenta Manchester United, Anderson, mengungkapkan kisah di balik eksekusi penalti di final Liga Champions 2008 silam. Sebagai informasi, Anderson menjadi salah satu eksekutor penalti yang berakhir manis bagi Manchester United.

Pemain asal Brasil tersebut ternyata dipilih oleh Ryan Giggs untuk mengambil bagian dalam momen paling tegang malam itu di Moskow. Tentunya bagi Anderson, ketika dipilih oleh Giggs hanya rasa tegang yang ada dalam dirinya.

Bahkan dilansir dari Independent, Anderson mengatakan bahwa dirinya merasa sangat kacau pada malam itu. Apalagi detik-detik ketika ia berjalan ke depan gawang Petr Cech untuk mengeksekusi penalti.

“Saya masuk untuk mengambil penalti, bahkan saya belum menyentuh bola,” tutur Anderson dalam wawancara dengan media Brasil, Radio Granal.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Anderson. Lantaran dirinya memang masuk pada akhir babak perpanjangan waktu yang kedua, menggantikan Wes Brown. Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit di malam yang hujan sedang deras-derasnya turun.

“Saat itu saya sedang duduk di bangku cadangan, lalu (Ryan) Giggs melihat saya dan berbicara seperti ini : ‘Masukkan Anderson untuk mengambil salah satu penalti’. Lalu dalam hati saya langsung berbicara; ‘ya ampun,” cerita Anderson.

Namun sebagai pemain profesional tentu Anderson tak mungkin menolak tugas berat tersebut. Beruntung dirinya berhasil mengeksekusi penalti dengan sangat baik, bahkan Cristiano Ronaldo yang gagal pada malam itu. Rasa tegang menurut Anderson ditambah dengan adanya sosok Petr Cech di bawah mistar gawang Chelsea.

“Saya membawa bola, dan rasanya itu adalah jalan terpanjang yang pernah saya alami dalam hidup saya. Bahkan tak sebanding dengan perjalanan yang saya ambil dari Azenha (tempat tinggal Anderson di Porto Alegre) ke Gremio. Jadi itu jelas langkah terpanjang dalam hidup saya.”

“Saya berjalan ke bolanya, sudah mendapat bolanya, lalu melihat kiper. Dia sangat besar, lalu Cech membuka lebar-lebar tangannya, lalu saya bekata: ‘saya akan mengacau.”

Eksekusi Anderson adalah salah satu yang penting malam itu, di mana datang setelah skor 4-4, dengan Cristiano Ronaldo dan John Terry gagal untuk mengeksekusi penalti.

“Saya memutuskan untuk menendang dengan sangat kencang, lalu menutup mata dan berdoa itu akan masuk. Kemudian saya ambil 3-4 langkah sebelum menendang. Saya tutup mata saya dan ternyata bolanya melewati tangannya (Cech),” kenang Anderson.

Anderson berhasil menipu Cech malam itu, lalu Edwin van Der Sar berhasil menggagalkan tendangan Nicolas Anelka. Alhasil Sir Alex Ferguson berhasil mendapatkan dua trofi Champions League dalam kurun waktu sembilan tahun.

Tujuh tahun berselang, Anderson meninggalkan Old Trafford untuk kembali ke kampung halamannya di Brasil. Bergabung dengan klub lokal, Internacional, mengakhiri 7 tahunnya bersama Manchester United.

Dalam waktu tujuh tahun tersebut Anderson berhasil mencatatkan 181 penampilan dengan perolehan 9 gol. Eks gelandang Porto tersebut bergabung dengan The Red Devils pada tahun 2007 saat usianya masih 19 tahun. Jadi ketika mengambil penalti tersebut, usianya masih 20 tahun.

Alasan Fergie Pilih Carrick Ambil Penalti

Tentu alasan memilih Anderson menjadi salah satu eksekutor malam itu bukan didasarkan pada cap cip cup saja. Pasti ada alasan kuat mengapa sang manajer atau pemain senior (Giggs) memilih salah satu pemain untuk mengambil.

Seperti yang diceritakan oleh Sir Alex Ferguson tentang alasan mengapa dirinya memilih Michael Carrick untuk menjadi salah satu eksekutor. Mungkin alasan ini jua akan cocok bagi Anderson.

Gelandang gaek berusia 35 tahun tersebut menjadi eksekutor kedua pada malam itu. Mendahului pemain bintang lain seperti Cristiano Ronaldo, Ryan Giggs, dan juga Luis Nani.

“Saya katakan sesuatu kepadamu tentang tendangan penalti. Kamu harus lihat mata pemain untuk melihat seberapa berani mereka mengeksekusi,” tutur Ferguson.

Menurut Fergie ada dua kata yang membuat dirinya yakin bahwa Carrick sudah siap mengambil tugas berat pada malam itu.

“Ia berkata pada saya, ‘tidak masalah’. Terbukti dia berhasil dan mengeksusinya dengan baik.” tutup Ferguson.

Sumber : Independent dan Mirror

Comments

Loading...