OUR NETWORK

21 Maret 1984, Comeback Terbaik Manchester United saat Menggulingkan Barcelona

Pekan lalu, dunia sepakbola disuguhi dengan aksi fantastis Barcelona di Liga Champions. Tertinggal 0-4 dari Paris Saint-Germain di leg pertama, Barcelona membalikkan keadaan di leg kedua dengan menang 6-1. Laga tersebut dianggap sebagai comeback terbaik yang pernah dilakukan sebuah kesebelasan di Liga Champions. Hari ini, 21 Maret, 33 tahun silam, Manchester United juga pernah melakukan comeback.

Di Piala Winners Eropa, yang kini dilebur menjadi Europa League, Manchester United membalikkan keadaan setelah tertinggal 0-2 dari Barcelona. Malam itu disebut-sebut sebagai malam terindah di Old Trafford.

Datang dengan defisit dua gol sebenarnya tidak terlalu sulit bagi United. Akan tetapi situasinya saat itu adalah United sudah bukan tim terkuat lagi di Inggris. Sedangkan Barcelona, meski situasinya sama seperti United, mereka tetap dianggap kesebelasan kuat karena memiliki superstar dalam diri seorang Diego Maradona.

Dipimpin wasit asal Italia, Paolo Casarin, United yang menurunkan skuat terbaiknya langsung menekan sejak awal pertandingan. Kubu Catalan tidak bisa leluasa menguasai bola karena setiap kali Maradona menguasai bola, Remi Moses serta Graeme Hogg langsung menutup pergerakan Si Nomor 10. Moses bahkan saat itu tidak segan-segan untuk menghentikan langkah pemain Barca dengan melanggarnya.

Setan Merah kemudian unggul pada menit ke-22 setelah sepak pojok Ray Wilkins yang disundul Graeme Hogg dapat diteruskan oleh Si Kapten Marvel, Bryan Robson, dengan melakukan sundulan sambil menjatuhkan diri. Skor 1-0 bertahan hingga akhir babak pertama.

Enam menit babak kedua dimulai, Robson kembali mencetak gol kedua United setelah memanfaatkan bola Rebound tendangan Ray Wilkins. Pemain yang mengantongi 99 gol bersama Setan Merah ini melakukan perayaan gol dengan mengangkat kedua tangan dan memicu keriuhan di Stretford End.

Agregat kemudian menjadi milik United setelah Frank Stapleton memanfaatkan header pass dari Norman Whiteshide dua menit setelah gol Robson. Keunggulan 3-0 (agregat 3-2) membuat suporter yang memadati Old Trafford menjadi riuh. Martin Tyler, komentator pada pertandingan tersebut mengatakan, “Dua gol dalam dua menit. Malam yang luar biasa bagi Manchester United.” Skor ini bertahan hingga akhir pertandingan.

Selepas peluit panjang, para pendukung Manchester United yang bergairah kemudian merangsek ke lapangan untuk memberikan selamat para penggawa Setan Merah. Mereka kemudian mengerubungi Bryan Robson, lalu mengangkat tinggi-tinggi pemain yang memakai nomor punggung “7” tersebut. Pengoleksi dua titel Liga Inggris tersebut mengungkapkan bahwa saat itu merupakan malam yang gila di Old Trafford.

“Itu merupakan malam yang sangat gila. Saya berada cukup jauh dari terowongan ruang ganti jadi saya tidak punya kesempatan untuk masuk ke sana. Nama saya dinyanyikan berulang-ulang dan mereka menepuk-nepuk punggung saya sampai saya merasa kesakitan. Tapi malam itu adalah malam yang pantas Anda kenang. Sekaligus malam yang terbaik bagi saya selama 13 tahun berada di Manchester,” ungkap Robbo (panggilan akrab Robson) tiga tahun lalu.

Selain penampilan apik Manchester United saat itu, atmosfer dan gairah dari para pendukung Setan Merah yang hadir di Old Trafford juga mendapat sorotan. Beberapa suporter yang hadir bahkan disebut-sebut sangat beruntung karena bisa menjadi saksi kehebatan dari kesebelasan Manchester United yang dapat membalikkan ketertinggalan agregat.

“Tribun itu tampak seperti kawanan lebah. Keriuhan itu bahkan membuat saya tidak bisa mendengar bunyi peluit. Saya kasihan sebenarnya pada Robson karena ada sekitar 1000-an orang yang berlari menghampirinya. Saya pulang ke rumah dengan suara saya yang serak. Saya bahkan tidak bisa bicara apa-apa di sekolah karena serak. Begitupun teman saya yang juga penggemar United,” ujar Andrew Shortman pendukung United yang kala itu masih berusia 15 tahun.

Jika Andrew bermasalah dengan suaranya, lain lagi apa yang dialami Mark Hutton. Mark yang juga masih berusia 15 tahun saat itu justru bermasalah dengan pendengaran setelah pertandingan kelar. Ia mengatakan, “Kuping saya berdengung sampai saya pulang ke rumah. Tapi atmosfer tersebut tidak ada tandingannya. Hingga saat ini saya bangga bisa mengatakan bahwa saya beruntung berada di situ (Old Trafford) bersama 58.000 orang lainnya.”

***

Sayangnya saat itu langkah United terhenti di semifinal setelah kalah agregat 3-2 dari Juventus. Si Nyonya Tua menang 2-1 di Turin setelah di leg pertama mereka menahan imbang 1-1 United. Meski langkah Setan Merah terhenti, namun pertandingan ini tak akan lekang oleh waktu. Dan malam itu juga membuktikan bahwa Old Trafford akan selalu hadir dan selalu mendukung Setan Merah dengan kebisingan-kebisingan yang selalu hadir di setiap pertandingannya.

Manchester United:

Bailey, Duxbury, Moran, Hogg, Albiston, Muhren, Wilkins, Robson, Moses, Stapleton, Whiteside

Barcelona

Urrutti, Gerardo, Julio Alberto, Alexanko, Moratalla, Alonso, Victor, Schuster, Rojo, Marcos, Maradona

Comments

Loading...