OUR NETWORK

13 Mei 2012: Tragedi 93:20

Sergio Aguero adalah sosok legenda di mata penggemar Manchester City. Namun bagi penggemar United, penyerang Argentina ini adalah sosok menjengkelkan yang memberi rasa sakit begitu luar biasa.

Sebelumnya, United sudah pernah kehilangan gelar pada pekan terakhir Premier League. Pada 1994/1995, mereka gagal mengalahkan West Ham United dan kehilangan kesempatan meraih hat-trick juara liga. Blackburn yang berhak mengangkat piala meski disaat yang bersamaan mereka kalah dari Liverpool.

Namun, musim 2011/2012 jelas jauh lebih menyakitkan bagi pendukung United. Mereka tidak hanya kehilangan gelar pada pekan terakhir, namun kehilangan gelar pada menit-menit terakhir. Semua karena akselerasi Aguero yang tidak bisa dihentikan pemain belakang QPR.

“AGUEROOOOOO! Saya bersumpah kalian tidak akan pernah melihat yang seperti ini lagi,” begitulah luapan emosi Martin Tyler saat mengomentari gol Aguero yang terjadi pada menit 93:20 tersebut sekaligus menjadi gol terakhir musim kompetisi 2011/2012. Ia juga mengatakan untuk menikmati momen ini yang begitu bersejarah bagi City kala itu.

Bagi penggemar City, pemandangan itu jelas bisa dinikmati. Namun, tidak bagi United. Kamera Sky Sports menangkap bagaimana berubahnya raut wajah penggemar United secara cepat. Mereka yang sebelumnya bersemangat memberikan chant, tiba-tiba terdiam setelah melihat papan skor Stadium of Light yang menunjukkan skor City melawan QPR berubah menjadi 3-2.

“Dan Sir Alex Ferguson, tidak bisa mempercayainya,” kata Rob Hawthorne yang menjadi komentator laga United melawan Sunderland. Wajah-wajah penuh rasa tidak percaya kemudian muncul. Phil Jones ternganga, sedangkan pemain senior macam Wayne Rooney dan Rio Ferdinand mencoba untuk tegar. David de Gea hanya bisa mengusap wajah sebagai bentuk kekecewaan. Disaat Ferguson mengajak pemainnya untuk memberi tepuk tangan kepada suporter yang hadir, Park Ji Sung yang berada di belakang Fergie hanya bisa tertawa kecut melihat apa yang menimpa klubnya.

Benar-benar pekan yang menguras emosi. Mereka mengakhiri laga babak pertama dengan keunggulan 1-0. United unggul terlebih dahulu melalui Wayne Rooney, sedangkan City juga unggul melalui Pablo Zabaleta. Drama dimulai pada babak kedua. United membuat banyak peluang tapi tidak ada yang menjadi gol, sebaliknya City dua kali kebobolan melalui Djibril Cisse dan Jamie Mackie.

Ketika mengetahui Mackie membawa QPR unggul, suporter United di Sunderland begitu bergairah. Di sisi lain, gol Mackie membuat beberapa penggemar City mulai menangis. Hingga menit ke-90, skor tidak berubah. 1-0 untuk United, City tertinggal 1-2. Drama belum habis karena kedua tim menerima tambahan waktu dengan jumlah yang berbeda.

Laga Sunderland melawan United hanya mendapat tambahan waktu tiga menit, berbeda dengan City vs QPR yang diberikan lima menit tambahan waktu. Hal ini dikarenakan banyaknya waktu yang hilang terutama saat insiden Joey Barton menyikut Carlos Tevez serta menendang Sergio Aguero hingga membuatnya harus dikartu merah. Lima menit terakhir inilah yang kemudian digunakan City untuk membalikkan keadaan melalui gol Dzeko dan Aguero sekaligus memberi rasa pahit bagi Sir Alex Ferguson karena kalah dengan selisih gol.

“Kami sempat juara liga selama 30 detik. Ketika pertandingan kami berakhir, saya bilang ke pemain kalau kita juara. Itu saya katakan supaya terasa adil bagi para pemain kami. Meskipun mereka tahu kalau ada yang salah, tapi tidak ada alasan untuk tidak melakukan ini,” kata Ferguson dalam My Autobiography.

“Saya meminta mereka untuk keluar dengan kepala tegak dan tidak perlu malu. Para pemain mengerti dan wawancara juga berlangsung positif. Saya melakukan apa yang wajib saya lakukan yaitu memberi selamat kepada City dan saya tidak bermasalah dengan itu,” tuturnya menambahkan.

Ferguson benar-benar tegar. Saat wawancara ia mengucapkan selamat kepada tetangganya yang pernah ia sebut berisik tersebut. “Tidak mudah untuk memenangkan liga di sini, mereka sangat layak,” kata Ferguson saat diwawancarai BBC setelah pertandingan lawan Sunderland berakhir.

Meski tegar, kekecewaan jelas pasti ada dalam diri Ferguson. Menurut penuturan Tom Cleverley, setelah dipastikan kehilangan gelar, Ferguson laangsung memberikan ceramah kepada para pemainnya. Satu hal yang ia soroti adalah selisih gol yang menjadi pembeda antara City dengan United.

“Manajer bilang kepada pemain ‘Saya sudah bilang pada Anda! Itulah kenapa saya ingin lebih kejam siapa pun lawannya. Sebab, kita bisa kalah dengan selisih gol’. Jujur saya tidak bisa melupakan momen itu. Kejadian itu menyadarkan saya kalau Fergie memang tidak pernah puas meski kami menang 3-0 atau 4-0 dalam musim tersebut,” kata Cleverley.

Produktivitas gol United sangat buruk dibanding City. Mereka hanya membuat 89 gol sementara City 93 gol. United sembilan kali menang dengan selisih tiga gol atau lebih, sementara City melakukannya 13 kali termasuk menang 6-1 di Old Trafford. Kekalahan 6-1 tersebut juga membuat lini depan United mandul mendadak. Dalam lima pertandingan setelahnya, mereka hanya bisa membuat lima gol.

“Ketika melawan Swansea, kami seharusnya bisa menang 5-0 pada babak pertama. Jika kami menang 5-0, maka kami yang ada di puncak. Ketika melawan Sunderland, Simon Mignolet luar biasa. Kami dua kali kena tiang, tendangan Rooney kena mistar, dan andai semua peluang bahaya itu masuk, maka kami sudah unggul 8-0,” kata Fergie.

Begitu juga di lini pertahanan, City jauh lebih baik dari United. Mereka hanya kemasukan 29 gol sedangkan United 33 gol. Kekalahan telak dari City serta hasil seri 3-3 melawan Chelsea dan 4-4 dari Everton menjadi beberapa penentu yang membuat United kehilangan gelar saat itu.

Beruntung bagi Ferguson, karena musim berikutnya United langsung membayar kegagalannya dengan meraih titel Premier League ke-13 sekaligus menggenapkan raihan menjadi 20 gelar liga. United langsung ngegas di awal hingga bisa unggul cukup jauh dan mengunci gelar pada bulan April. Sebuah penutup yang manis meski dalam hatinya diselimuti kekhawatiran.

“Dalam perjalanan karier saya di Manchester United, kami seringkali pulih dari situasi seperti ini (hilang gelar). Namun pertanyaannya sejak musim panas (2012) itu adalah: Akankah City menjadi semakin hebat??” ujarnya.

Sebuah pertanyaan yang baru diketahui jawabannya setelah memberi gelar ke-20. Sejak 2013, City mendapat tiga gelar Premier League, sedangkan United masih belum bisa move on dari gelar terakhirnya sampai sekarang.

Comments

Loading...