OUR NETWORK

Manchester United dan Kisah Pola Makan Sehat

Beberapa hari terakhir, dunia media sosial menjadi ramai terkait unggahan dari beberapa pemain sepakbola nasional yang menunjukkan makanan yang mereka konsumsi. Mayoritas dari unggahan tersebut adalah makanan-makanan yang dinilai tidak sehat. Makanan yang seharusnya tidak layak untuk dikonsumsi atlet, khususnya pemain sepakbola.

Tak ayal, hujatan demi hujatan datang dari pendukung sepakbola Indonesia. Beberapa dari mereka mulai terbuka matanya kalau selama ini kegagalan timnas Indonesia bersaing di level ASEAN tidak hanya sebatas karena federasinya yang bermasalah, namun juga sikap atlet yang kurang profesional menjalankan tanggung jawab mereka sebagai duta negara. Selain itu, mindset pemain sepakbola yang salah juga hadir dalam kegiatan mereka.

Di era kepelatihan Shin Tae Yong, nutrisi menjadi sorotan. Ia sangat disiplin terhadap pola makan. Gorengan dilarang, begitu juga makanan bersantan. Para pemain timnas juga diminta untuk mengirim gambar makanan yang mereka makan di rumah setiap hari untuk memastikan kalau mereka memiliki pola makan sehat.

Beberapa kesebelasan di Eropa menjadikan nutrisi sebagai faktor penting bagi kesuksesan para pemainnya di atas lapangan. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh beberapa kesebelasan di Indonesia. Namun, ini kembali lagi dari komitmen si atlet sendiri untuk menjaga tubuhnya.

Sir Alex dan Gary Pallister

Manchester United juga menjadikan nutrisi sebagai faktor penting keberhasilan mereka menjadi jawara Liga Inggris bersama Sir Alex Ferguson. Budaya minum alkohol yang menjadi tradisi mulai ditinggalkan. Siapa yang melawan, maka hair dryer siap meluncur dari mulutnya. Masih ngeyel, maka siap-siap saja pintu keluar akan terbuka.

Gary Pallister adalah salah satu pemain yang sempat disemprot oleh Sir Alex akibat pola makan. Dari segi permainan, Pally adalah pemain yang mampu mengoper bola dengan baik dan gesit ketika menjaga lawannya. Namun yang menjadi masalah, stamina Pally langsung habis ketika pertandingan baru berjalan 15 menit.

“Pada 15 menit pertama, Pally sudah terengah-engah ketika ia keluar dari kotak penalti setelah kami diserang. Saya bilang kepada Brian Kidd: “Lihat tuh si Pally, dia seperti orang yang mau mati!” kata Sir Alex dalam buku atobiografinya.

Sang gaffer kemudian turun langsung untuk melihat apa yang dikonsumsi Gary. Betapa terkejutnya dia ketika menemukan ada satu botol Coca Cola berukuran besar, dan sekantung besar tiga jenis coklat yang berbeda-beda. Inilah yang menurut Ferguson membuat Gary kehilangan stamina dengan mudah karena kegemarannya mengonsumsi cokelat.

“Ketika menjemput dia untuk makan malam, saya kaget ketika masuk ke rumahnya. Saya menemukan satu botol besar Coca Cola dan sekantong besar makanan manis seperti Crunchies, Rolo, dan Mars Bars. Saya tanya ke istrinya, “Apa ini?”

Sang istri kemudian berkata kalau dia sudah berusaha untuk membuat suaminya tidak lagi mengonsumsi makanan manis. Tapi menurut Mary, istri Gary, sang bek tengah tidak mau mendengar. Lucunya, saat Gary turun dan mengetahui kalau stok snack-nya dibongkar oleh manajernya, Gary justru berlakon dengan memarahi istrinya. Fergie yang tahu akal bulus si pemain tidak termakan aktingnya.

“Dasar kamu pemalas, kamu saya denda!” ujar Ferguson menambahkan.

Ferguson memang cukup anti terhadap makanan manis. Pada 1992, ia membawa Trevor Lea yang merupakan guru gizi. Langkah awal keduanya adalah menyingkirkan pudding susu, bir, dan coklat. Hal itu diungkapkan langsung oleh mantan pemainnya, Brian McClair.

Sebagai gantinya, Ferguson memberikan kue bernama Jaffa Cake. Para pemain diminta mengonsumsi kue ini lima buah saat hari biasa dan tiga buah saat pertandingan. Satu buah kue Jaffa terdiri dari 46 kalori sehingga saat latihan mereka memiliki 230 kalori dan 138 sebelum pertandingan. Secara nutrisi, kandungan ini terdiri dari 75 persen karbohidrat, 20 persen lemak, dan lima persen protein. Meski metode ini dipertanyakan oleh beberapa ahli gizi lain, namun Jaffa Cake masih lebih baik ketimbang pemainnya mengonsumsi pudding atau cokelat batangan seperti yang dilakukan Pallister. Tradisi ini baru berhenti pada 1998 setelah Ferguson meminta pemainnya untuk melakukan pola makan yang teratur.

Ferguson juga membuat sebuah perubahan di kantin klub. Ia ingat ketika masih bermain dulu, para pemain diberi makan steak daging. Ia tidak mau hal itu terjadi di kantin klub. Sebagai gantinya, ia meminta kantin hanay memberi makan kepada mereka dua potong lemon, roti, dan madu. Para pemain sempat protes pada saat itu.

“Saat saya menjadi seorang manajer, yang paling utama saya lihat adalah apa yang mereka makan sebelum pertandingan. Itu merupakan hal penting untuk melihat apa yang terjadi kepada mereka selama pertandingan. Saya melakukannya di Aberdeen dan tentunya saya juga melakukannya di United,” kata Ferguson.

Cristiano Ronaldo adalah role model soal bagaimana seorang atlet bisa menjaga kebugaran meski usianya sudah lebih dari 30 tahun. Pola makan menjadi kunci kesuksesan CR7. Saking sehatnya pola makan Cristiano Ronaldo, hal ini membuat Patrice Evra kerap malas kalau diminta berkunjung ke rumah rekan setimnya tersebut.

“Setelah latihan, saya main ke rumahnya karena saya sudah lelah. Ketika makan, saya melihat kalau di meja makan hanya ada salad dan ayam rebus. Minumnya Cuma air putih. Tidak ada jus atau apa pun,” kata Evra.

“Selagi makan, saya berpikir kalau ada daging besar yang akan datang setelahnya. Tapi tidak ada yang hadir sampai kami selesai makan. Setelah makan, saya malah diajak main bola dua sentuhan seperti yang dilakukan saat latihan,” tuturnya menambahkan.

Inilah yang menjadi salah satu faktor dibalik kesuksesannya di lapangan hijau. Evra, yang mengaku paling suka makan daging domba, pun takjub melihat betapa profesionalnya CR7 baik di dalam maupun di luar lapangan. Kecuali, jamuan makannya.

“Kalau Cristiano Ronaldo mengajak Anda untuk makan di rumahnya, katakan saja “tidak’, kata Evra dengan bercanda.

Comments

Loading...