OUR NETWORK

Tiga Mantan Pemain Manchester United yang Seharusnya Tidak Boleh Dijual

Sudah menjadi rutinitas bagi sebuah kesebelasan untuk menjual para pemain mereka ke kesebelasan lain. Hal ini dilakukan semata-mata untuk regenerasi atau bahkan memperkuat skuad yang sudah ada. Dengan melepas pemain tersebut, diharapkan pemain yang akan menggantikan bisa memberi dampak yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Manchester United pun melakukan hal serupa. Sejak dulu, tim ini dikenal gemar melepas pemain-pemain mereka bahkan termasuk para bintang yang sebenarnya berjasa dalam kejayaan tim tersebut.

Meski begitu, ada beberapa pemain yang kepindahannya sangat disayangkan oleh Manchester United. Khususnya ketika tim ini sudah ditinggal oleh Sir Alex Ferguson yang pensiun pada 2013 lalu. Menurut Manchester Evening News, ada tiga pemain yang kepindahannya seharusnya tidak pernah terjadi. Mereka merasa kalau tiga pemain ini masih akan berguna bagi tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer saat ini.

Jonny Evans

Kepindahan penggawa timnas Irlandia Utara ini begitu mengejutkan. Pasalnya, empat musim sebelumnya, Evans adalah pilihan utama di lini belakang Manchester United. Bahkan pada dua musim terakhir kepelatihan Sir Alex Ferguson, ia adalah pemain yang perannya begitu vital di depan penjaga gawang.

Akan tetapi, Louis van Gaal memilih untuk melepasnya ke West Bromwich Albion pada saat itu. Cedera menjadi alasan utama menurunnya Evans, mengingat setelah 2013 ia tidak bisa mencapai 20 penampilan di kompetisi Premier League. Ia bahkan terlibat perseteruan dengan Papis Cisse yang membuatnya sempat diskorsing lima pertandingan.

Namun penampilan Evans justru membaik selepas hijrah dari United. Meski West Bromwich terdegradasi pada 2018, namun ia menjadi salah satu pemain dengan penampilan paling konsisten selama tiga musim berada di The Hawthorns. Leicester City kemudian menyelamatkan karirnya dari jurang Championship karena dia pantas untuk bermain di Premier League.

Di usianya yang sekarang menginjak 31 tahun, Evans berkembang menjadi pemimpin di lini belakang Leicester. Selepas menjadi mentor Harry Maguire, kini ia bersiap untuk menjadi mentor bagi seorang Caglar Soyuncu. Meski kemampuan olah bolanya tidak terlalu baik, namun dia bisa menjadi seorang leader. Peran ini yang tidak dimiliki United di lini belakang mereka yang terus mengandalkan Ashley Young. Bahkan seorang Sir Alex Ferguson saja begitu heran kenapa LVG menjual Evans.

Daley Blind

Kita semua sudah tahu kalau Daley Blind adalah salah satu pemain serba bisa yang pernah dimiliki oleh Manchester United. Ia bisa bermain di banyak posisi yang membuatnya menjadi pemain vital dalam keberhasilan timnas Belanda menempati posisi tiga dalam Piala Dunia 2014. Namun keserba bisaan seorang Blind ini justru membuatnya kesulitan menjalani kehidupan barunya di Manchester United.

Dari 141 pertandingan yang dijalani, ia memainkan 72 laga sebagai bek tengan, 39 sebagai bek sayap kiri, 22 kali sebagai gelandang bertahan, lima kali sebagai wingback kiri, dan satu sebagai gelandang tengah.

Jose Mourinho saat itu tidak bisa untuk memainkan Blind kecuali sebagai bek tengah. Alasannya, ia sudah memiliki pemain yang dianggap jauh lebih baik menempati posisi di luar bek tengah. Namun Blind sendiri kadang kerepotan menjalani perannya sebagai seorang bek tengah. Ia kerap kesulitan memenangi duel udara karena tingginya yang tidak seberapa. Mourinho sendiri lebih dikenal sebagai manajer yang menyukai pemain-pemain bertubuh tinggi di lini belakang.

Namun jika melihat situasi United sekarang ini, dengan kondisi banyak pemainnya yang mengalami cedera dan ketiadaan Ander Herrera di lini tengah, maka nama Blind sebenarnya bisa menjadi jawaban.

Memphis Depay

Yang terakhir adalah Memphis Depay. United begitu berharap tinggi kepadanya mengingat rekam jejaknya yang mentereng selama musim terakhir membela PSV. Namun musim pertama Memphis penuh dengan permainan yang tidak konsisten.

Masuknya Jose Mourinho di kursi kepelatihan ternyata tidak membuat Memphis menjadi lebih baik. Si pemain justru kehilangan sentuhannya dan hanya mendapat jatah main yang sangat minim. Mourinho nampak tidak sabar untuk memberikan kesempatan kepada Memphis. Namun tidak bisa disalahkan pula karena Mourinho dituntut untuk langsung meraih prestasi secara instan.

Setelah pindah ke Prancis bersama Olympique Lyon, Memphis kembali menjadi penyerang yang konsisten mencetak gol. Pemain seperti ini jelas dibutuhkan United yang sekarang sedang kesusahan untuk mencetak gol ke gawang lawan. Mengembalikan Memphis ke Old Trafford dengan mengaktifkan klausul buy back terasa lebih bijak dibanding mengeluarkan uang banyak untuk rekan setimnya, Moussa Dembele. Memphis adalah korban dari begitu cepatnya perubahan di kursi kepelatihan Setan Merah.

Comments

Loading...