OUR NETWORK

Sulitnya Menghapus Bayang-Bayang Alex Ferguson

Dalam ajaran Kristen, ada gelar bernama Santo yang disematkan kepada seseorang yang melakukan kebajikan yang heroik. Biasanya, orang yang mendapatkan gelar Santo adalah orang yang suci, orang yang kisah hidupnya akan menjadi contoh untuk generasi berikutnya.

**

Kedatangan Sir Alex Ferguson disambut meriah jelang laga Manchester United melawan Wolverhampton pekan lalu. Inilah kali pertama dirinya kembali setelah beristirahat karena sakit yang diderita awal April lalu. Tepuk tangan, penghormatan, serta sedikit seremoni khusus diberikan kepada sosok yang membawa klub ini berjaya selama 26 tahun kepelatihannya.

Baca juga: Menyambut Kembali Sir Alex Ferguson

Alex Ferguson layaknya Santo di kubu United dengan label Sir yang berada di depan namanya. Ia orang yang dianggap suci oleh para penggemar United. 13 gelar Premier League, dua Piala Champions, lima Piala FA, empat Piala Liga, satu Piala Super Eropa, satu Piala Winners, dua Piala Interkontinental, 10 Community Shield, serta dijadikan sebagai nama jalan adalah bukti betapa besarnya sosok Ferguson bagi publik Manchester. Namanya mungkin sejajar dengan Matt Busby dan beberapa legenda klub lain seperti Bobby Charlton, Martin Edwards, dan Ryan Giggs.

Ferguson melakukan pekerjaan hebat bersama United. Ia membangun tim yang sebelumnya terpuruk setelah dinasti Matt Busby menjadi kekuatan besar di domestik, Eropa, dan dunia. Ia juga mampu mengubah beberapa pemain yang namanya tidak familiar menjadi kekuatan timnya. Yang paling fenomenal tentu saja kemunculan Class of 92 yang menegaskan klub ini terus konsisten mencetak pemain-pemain muda bertalenta. Warisan inilah yang kemudian diberikan kepada penerusnya saat ia memutuskan pensiun pada 2013.

Akan tetapi, United justru mengalami penurunan drastis sepeninggal dirinya. Beberapa manajer tidak sanggup mengemban tugas mempertahankan hegemoni United di Eropa dan dunia. David Moyes, Louis van Gaal, dan Jose Mourinho belum mampu memberikan prestasi berarti. Paling mentok hanya piala domestik dan Europa League. Sedangkan di Premier League, United tiga kali finis di luar empat besar dan baru sekali berada di posisi dua besar.

Kegagalan tiga pelatih tadi diiringi dengan para penggemar United yang masih susah keluar dari bayang-bayang Sir Alex. Tidak sedikit yang menginginkan Sir Alex kembali turun menangani United meski kesehatannya sudah tidak memungkinkan untuk mengurus hal-hal berat. Beberapa penggemar bahkan semakin ketar-ketir ketika melihat Liverpool sejauh ini berada di peringkat pertama liga Inggris. Mereka khawatir tidak bisa lagi mengolok Si Merah yang kerap diidentikkan dengan klub yang sampai tulisa ini dibuat belum bisa juara liga Inggris.

Meniru Liverpool dalam Mengurangi Pengaruh Ferguson

Setiap kegagalan yang dialami United akan selalu diidentikkan oleh Fergie. Jika United meraih hasil seri ataupun kalah, maka Fergie akan hadir sebagai pembanding. Begitu juga ketika membahas pemilihan skuad, motivasi kepada pemain, pemilihan kapten, cara menghadapi media dan pemain, menangani bursa transfer, komersil, dan lainnya. Seolah-olah United hanya akan membaik jika Fergie yang memegang klub ini.

Penulis yang tumbuh di era Fergie Wonderland justru kaget ketika klub masih mempersilahkan Fergie wara-wiri di lingkungan Old Trafford. Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat, kehadiran Fergie secara tidak langsung menjadi alasan mengapa United tidak bisa keluar dari kesuksesan masa lalu. Ini yang membuat penulis sempat berpikir, apakah pihak klub tidak berani menghilangkan pengaruh Fergie yang terlalu sulit untuk dilepaskan?

Menghilangkan pengaruh Fergie tidak harus dengan mencampakkan dan mengabaikannya. Fergie boleh saja beraktivitas yang berkaitan dengan United, namun segala aktivitas tersebut hanya berkaitan dengan perannya sebagai duta klub. Singkirkan Fergie dengan cara tidak mengizinkannya menonton United di Old Trafford. Bukan tidak mungkin cara ini perlahan-lahan mengurangi pengaruhnya di kubu Setan Merah.

Hal inilah yang dilakukan Liverpool saat mengurangi pengaruh seorang Bill Shankly yang begitu suksesa bersama mereka dalam rentang 1959 hingga 1974. Keputusan mengejutkan Shankly yang memilih pensiun saat itu membuat dewan klub kecewa. Shankly yang merasa lelah memilih untuk mencoba peran baru sebagai dewan eksekutif klub. Sayangnya, pihak The Reds tidak mau memberikan jabatan tersebut. Sebaliknya, Shankly tidak diperbolehkan hadir melihat latihan Liverpool di Melwood dan menyaksikan mereka bertanding di Anfield.

Keputusan itu bukan karena Liverpool membenci Shankly. Jika dibenci, maka patungnya serta nama gerbang tidak akan diidentikan dengan namanya. Namun Liverpool tahu, kalau Bill Shankly masih berada di lingkungan Liverpool maka penerusnya akan selalu berada di bawah pandangannya.

Tindakan yang dilakukan Liverpool ternyata berhasil. Bob Paisley, selaku pengganti Shankly, berhasil membangun sejarahnya sendiri di Anfield. Sembilan gelar domestik dan empat trofi kompetisi Eropa berhasil diraih. Prestasinya bahkan melebihi apa yang dibuat Shankly selama 15 tahun.

Hal ini yang sepatutnya dicoba oleh United. Beberapa klub lain pun sudah melakukannya. Arsene Wenger sudah tidak terlihat lagi di Emirates, Jurgen Klopp melarang pemain menyentuh tulisan “This Is Anfield” karena itu adalah warisan Shankly. Pengecualian mungkin terjadi kepada tim-tim yang mengandalkan kekuatan finansial seperti Chelsea dan Manchester City. Sementara United masih bingung mencari pelatih yang kriterianya harus seperti Ferguson.

Para Penggemar Juga Harus Move On

Tiga pelatih yang menangani United setelah Fergie tidak bisa bebas membuat sejarahnya di United karena selalu diperhatikan oleh Ferguson dari tribun penonton. Moyes yang menggunakan kolektivitas tim hanya diberi 10 bulan dari kontrak enam tahun. Permainan era Van Gaal dianggap membosankan. Sedangkan Mourinho, yang statistik menyerangnya sudah jauh lebih baik dari LVG, juga belum memuaskan. Semuanya dianggap sama oleh para penggemar yaitu tidak ada yang sebagus Fergie.

Situasi saat ini yang mungkin mendera United saat Busby pensiun pada 1969. Para penggantinya seperti Wilf McGuiness, Frank O’Farrel, Tommy Docherty, Dave Sexton, dan Ron Atkinson tidak sesuai dengan United karena selalu dibanding-bandingkan dengan Matt Busby yang kerap muncul di tribun. Alex Ferguson bisa dibilang beruntung karena di saat ia mengambil alih United, Busby sudah mulai mengurangi aktivitasnya menonton klub karena masalah kesehatan sehingga membangun klub dengan versinya sendiri.

Para penggemar juga harus mulai move on dengan tidak sering mengungkit-ngungkit kesuksesan Ferguson sebagai pembanding. Secara tidak langsung, hal itu akan memberi tekanan kepada para pelatih yang memegang Manchester United kedepannya. Biarkan mereka membangun United versi mereka sendiri karena tujuannya pun sama yaitu membawa United menuju kearah yang lebih baik.

Jika para pengganti Mourinho kedepannya tidak bisa sesukses era Fergie, maka bukan tidak mungkin United hanya akan menjadi klub yang sibuk mencari sosok Sir Alex Ferguson jilid II daripada memikirkan prestasi klub.

Move on adalah sebuah risiko ketika kita sudah menyukai orang lain. Move on adalah bagian dari proses kehidupan. Dalam kasus Manchester United, para penggemar setidaknya harus berdamai dengan keadaan. Para penggemar harus segera sadar kalau United tidak akan sama lagi seperti ketika dulu ditangani Fergie. Karena pelatih yang bisa membawa Manchester United bermain sebagus layaknya era Ferguson hanyalah Alex Ferguson itu sendiri.

Comments