OUR NETWORK

Perjalanan Karier Paul Rachubka di Manchester United (1)

Berniat ingin pindah dan sudah laporan ke Sir Alex Ferguson, Paul Rachubka justru mendapat durian runtuh yaitu satu tiket ke Brasil untuk menjadi anggota skuat Manchester United pada Piala Dunia Antarklub edisi pertama.

Selain kerja keras, latihan ekstra dan tampil baik bersama tim cadangan, pemain muda yang berasal dari akademi juga butuh keberuntungan apabila dia ingin mendapat kesempatan bermain bersama tim utama. Apabila ada salah satu dari tiga aspek ini tidak bisa tercapai, maka besar kemungkinan pemain tersebut akan memilih kesebelasan lain. Kesebelasan yang bisa memberinya kesempatan main lebih sering.

Itulah yang sempat dirasakan oleh Paul Rachubka dua dekade lalu. Tidak adanya kesempatan main di tim utama Manchester United membuatnya gelisah dan berniat ingin pindah. Sejak usia sembilan tahun ia berharap bisa bermain bersama David Beckham, Roy Keane, dan Gary Neville suatu hari nanti. Namun hingga usianya 18 ia belum mendapat kesempatan itu.

Posisi Rachubka adalah sebagai seorang penjaga gawang. Inilah yang membuat kesempatan itu sulit didapat. Jangankan bermain untuk tim utama, tenaganya saja tidak terpakai di tim B. Kembali pulang ke tanah kelahirannya, California, menjadi pilihan realistis yang bisa ia pilih saat itu.

“Rencana darurat saya adalah saya akan pergi dan belajar serta mendapat beasiswa di Amerika karena tidak ada kesempatan saya bisa menjadi seorang pemain profesional di United. Di depan saya ada Peter Schmeichel, Raimond van der Gouw, Kevin Pilkington, Paul Gibson, Nick Culkin, dan Adam Sadler. Hanya satu kiper yang bisa bermain di tim-B dan itu bahkan bukan saya. Saya tidak akan pernah bermain,” kata Rachubka.

Bayangkan berapa anak tangga yang harus ia lewati hanya untuk menjadi kiper ketiga. Bahkan ketika Schmeichel pindah, Fergie memilih membeli Mark Bosnich dan Massimo Taibi. Hilang satu pemain, yang datang justru dua pemain. Disinilah tekadnya untuk pindah semakin besar. Ia datang ke ruangan Sir Alex dan mengaku kalau dia ingin pindah. Alih-alih mengizinkannya pergi, Fergie justru membuatnya terkejut.

“Dia hanya mengatakan jika saya berlatih, maka saya akan mulai bermain secara teratur di tim cadangan, dan dia akan menjaga saya,” katanya.

Pikiran untuk pulang kampung dan tidak lagi bermain sepakbola perlahan-lahan mulai dihilangkan. Rutinitasnya kembali lagi seperti sebelumnya yaitu berlatih pada Senin pagi di The Cliff. Pada sore harinya, ia kembali ke sekolah. Selain untuk belajar, kembalinya ia ke sekolah juga untuk meyakinkan teman-temannya kalau dia adalah pemain Manchester United.

“Anda bisa memberi tahu teman Anda bahwa Anda sedang berlatih bersama Peter Schmeichel, namun mereka tidak akan pernah mempercayai Anda karena Anda tidak bisa membuktikannya,” kata Rachubka.

Rutinitas yang dijalani Rachubka sangat melelahkan. Pernah suatu ketika Rachubka datang ke sekolah dengan kondisi capek karena pada pagi harinya ia diminta untuk berlatih bersama tim utama dan menjadi pemain sayap dalam sesi game. Salah satu momen tergila yang pernah ia rasakan selama menjadi pemain pro di United.

“Skuat utama dikenal karena mereka sering mengadakan latihan ekstra. Mereka tidak ingin meninggalkan lapangan latihan cepat-cepat. Mereka butuh penjaga gawang karena Peter (Schmeichel) dan Raimond (Van der Gouw) tidak mau menambah latihan mereka. Jadi saya akan berdiri di gawang untuk melawan orang seperti Yorke, Cole, Ole, dan Teddy Sheringham. Beckham dan Giggs akan memberikan umpan. Kemudian Anda berpikir untuk jangan menahannya karena Roy Keane dan Scholes akan marah kepada Anda.”

Pengalaman itu sebenarnya cukup berkesan bagi Rachubka. Jarang ada pemain muda yang dimintai tolong oleh pemain tim utama untuk membantu kebugaran mereka. Akan tetapi, itu semua jelas tidak cukup. Yang ia inginkan adalah kesempatan main. Dengan bermain, setidaknya ada harapan kalau karier sepakbolanya tidak akan sia-sia. Beruntung, kesabarannya perlahan mulai membuahkan hasil ketika kalender siap berganti ke tahun 2000.

Pagi hari tanggal 31 Desember 1999, Rachubka sedang menghabiskan masa liburan Natal yang diberikan pihak klub. Saat ia sedang santai, tiba-tiba telepon masuk dari pelatih kiper United, Tony Coton. Dalam pembicaraan tersebut, Tony hanya bilang kalau United butuh kiper dan Rachubka diminta untuk datang ke The Cliff secepatnya.

Rachubka kaget bukan main. Menurut penuturannya, jika ia ditelepon pada setengah sembilan pagi, maka sesi latihan baru akan dimulai satu jam kemudian atau setengah 10. Ia baru akan berangkat 20 menit sebelum sesi latihan dimulai. Namun kali ini, ia ditelepon pukul setengah sembilan untuk persiapan latihan setengah jam kemudian. Tentu hal yang ia tidak inginkan terjadi. Rachubka datang terlambat.

“Saya menjadi pemain terakhir yang masuk ke lapangan. Tony kemudian meminta saya untuk minta maaf kepada manajer karena saya terlambat, dan dia berdiri di sudut lapangan. Dengan malu saya berjalan ke arahnya disaat pemain lain berlarian di sekitar saya.”

Foto: Ebay

Alih-alih mendapat hair dryer treatment, Fergie hanya bilang kalau Rachubka akan ikut bersama tim utama. Ucapan yang saat itu tidak ia mengerti. Ia kembali tidak paham ketika Fergie bilang kalau ia harus membawa teh dan roti panggang. Barulah ketika Fergie berkata kalau Rachubka akan ikut tim utama ke Brasil, ia langsung kaget.

“Saya mencoba mencari tahu kenapa saya yang dipilih, tetapi saya merasa kalau para pemain telah dijual atau dipinjamkan. Jadi tiba-tiba saya berada di pesawat bersama Mark Bosnich dan Raimond sebagai penjaga gawang pilihan ketiga,” kata Rachubka.

Dipinjamkannya Taibi, dan hengkangnya Gibson, Pilkington, dan Sadler langsung membuatnya naik tingkat menjadi kiper ketiga saat itu juga. Mulai ada tanda-tanda kalau karier sepakbolanya akan selamat dan itu dimulai dari petualangan Manchester United di Brasil.

Segala kutipan diambil dari tulisan Paul Rachubka di United Unscripted dalam laman resmi Manchester United.

Comments

Loading...