OUR NETWORK

Menutup Mulut Jose Mourinho

Federasi Sepakbola Inggris, FA, memang sudah memberikan ultimatum kepada manajer untuk tidak mengomentari apapun soal wasit yang berkaitan dengan pertandingan. Mayoritas manajer memilih bungkam saat ditanya soal wasit. Di sisi lain, seorang Jose Mourinho seolah kelewat sulit untuk menutup mulutnya barang sebentar saja.

FA kemungkinan besar menjatuhkan hukuman bagi Mourinho dengan tidak bisa mendampingi tim dari pinggir lapangan untuk satu atau dua pertandingan. Hukuman ini sendiri berasal dari dua kasus yang hanya berjarak beberapa hari. Pertama, saat Mou mengomentari Anthony Taylor yang akan memimpin laga North West Derby antara United dengan Liverpool. Kedua, dugaan serangan secara verbal kepada Mark Clattenburg, yang membuat Mou memimpin dari tribun penonton pada babak kedua.

Berdasarkan BBC ini memang bukan kasus pertama Mourinho yang berkaitan dengan ucapannya terhadap wasit. Pada November tahun lalu, ia dihukum sekali stadium-ban dan denda 40 ribu paun setelah Mou didakwa mengumpat pada wasit dan enggan keluar dari ruangan wasit kala Chelsea kalah dari West Ham.

Sebelumnya, Mou pun didenda 50 ribu paun setelah berkomentar bahwa wasit takut memberikan penalti untuk timnya kala Chelsea kalah 1-3 dari Southampton pada Oktober tahun lalu.

Munculnya Ketakutan Awal

Mourinho memang pelatih hebat. Meraih gelar juara Liga Champions bersama FC Porto, sampai membawa Inter Milan meraih treble pertama mereka. Capaian-capaian ini mengangkat Mou sebagai pelatih yang paling diinginkan oleh para pemilik klub.

Saat resmi menjabat sebagai manajer anyar United, opini publik terbagi tiga. Ada yang jelas menerima; ada yang menolak; dan ada yang menerima tapi dengan kekhawatiran besar. Rasa khawatir tersebut tak lain adalah Mou mungkin saja membawa United menjadi kesebelasan yang menyebalkan lewat perkataan dan perilakunya. Mou mungkin saja akan sulit menyesuaikan dengan nama besar klub.

“Bahaya dari mendatangkan sang Portugis, seperti yang biasa didengungkan, adalah dia menjadi cerita atas apa yang dikorbankan klub. Ini yang kelihatannya sedang terjadi di Old Trafford,” tulis kolumnis The Guardian, Paul Wilson.

Dalam artikel yang berjudul “Jose Mourinho Behaving at Manchester United Exactly as Ciritcs Said He Would”, Paul menyatakan bahwa keputusan Mou untuk tidak hadir di konferensi pers seusai laga melawan Burnley, bisa jadi merupakan alasan agar situasi di United tidak bertambah buruk.

“Amat mungkin kalau setelah hasil seri atas Burnley, Mourinho memiliki kesempatan untuk melihat kembali dari sisi lain tentang klaim penalti yang ia buat. Dia mungkin melihat Matteo Darmian jatuh secara dramatis setelah kontak yang amat minim dari Jon Flanagam dan dia mungkin juga melihat kalau kontak itu terjadi di luar kotak penalti.

“Dengan kata lain, keputusan Mark Clattenburg dibenarkan dan Mourinho mungkin akan merasa sedikit bodoh dengan mesti menjelaskan mengapa ia bereaksi begitu marah,” tulis Paul.

Dengan apa yang terjadi saat ini, agaknya benar perkataan buruk para pencela terkait dengan efek negatif mendatangkan Mourinho.

“Darmian saja tidak membuat argumen saat Clattenburg mengabaikan permohonannya, jadi sungguh aneh untuk melihat manajernya kehilangan akal,” tulis Paul.

Mengubah Nilai Klub

Manchester United memiliki nilai tawar yang luar biasa besar terutama kepada sponsor. Berhasil mendapatkan kontrak 70 juta pounds setiap musim khusus dari apparel jelas merupakan sebuah prestasi luar biasa. Pendapatan United setiap musimnya pun merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Beberapa musim lalu, Samsung memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama dengan Chelsea. Alasan resminya karena Samsung menganggap dengan menjadi sponsor Chelsea bisa mengganggu brand mereka secara global.

Dari sini bisa terlihat kalau sponsor pun tidak asal menentukan kesebelasan yang akan mereka sponsori. Prestasi kesebelasan saja tidak menjamin sponsor akan berdatangan. Terkadang, nama besar pun menjadi berpengaruh.

Manchester United memang punya nama besar. The Red Devils adalah kesebelasan tersukses di era Premier League. Namun, dalam empat musim terakhir, yang tersisa hanyalah nama besar, karena prestasi tak lagi hadir. United lebih sering menjadi bahan olok-olok para penggemar lawan.

Dengan kondisi seperti ini, apa yang mesti dilakukan manajemen? Apa perlu menunggu United dijuluki sebagai kesebelasan yang sering mengungkit-ungkit sejarah saking sudah lama tak pernah menjadi juara? Atau manajemen hanya perlu meminta Mourinho untuk menutup mulutnya barang sebentar saja agar tak terjadi kekacauan yang lebih parah?

Comments

Loading...