OUR NETWORK

Mengulik Kebijakan Transfer Sir Alex Ferguson

Manchester United masih kesulitan untuk meraih titel juara Premier League yang terakhir kali mereka dapatkan pada musim 2012/2013. Tercatat, mereka sudah memasuki musim ketujuh tanpa trofi yang sudah mereka rebut sebanyak 13 kali tersebut. Prestasi terbaik mereka setelah 2013 hanya menempati peringkat dua pada musim 2017/2018. Namun itu juga dianggap bukan prestasi bagi sebagian kalangan karena mereka berselisih 19 poin dari Manchester City.

Banyak faktor yang menjadi alasan kegagalan United meraih gelar Liga Inggris ke-21. Ketiadaan Sir Alex Ferguson adalah salah satunya. Kehilangan manajer yang lebih dari seperempat abad menangani klub membuat siapa pun manajer yang menggantikannya akan terasa sangat sulit karena dituntut untuk bisa memberikan prestasi yang serupa.

Faktor lainnya adalah bursa transfer. Setelah Sir Alex pensiun, Setan Merah berubah menjadi kesebelasan yang begitu boros dalam mengeluarkan anggaran. Dalam rentang tujuh musim, mereka bahkan tiga kali memecahkan rekor transfer klub (Juan Mata, Angel Di Maria, Paul Pogba). Akan tetapi, tiga rekor tersebut tetap tidak mampu membawa mereka mencapai puncak.

Baru-baru ini, Gary Neville bercerita kepada Sky Sports tentang resep Sir Alex Ferguson dalam mencari pemain incaran. Ia menjelaskan beberapa kriteria yang dimiliki Ferguson ketika memilih dan membentuk pemain yang dia inginkan berada di dalam skuatnya.

Muda, Premier League, dan Internasional

Kriteria pertama yang disebut Gary Neville adalah pemain muda. Sudah kita ketahui bersama kalau Sir Alex Ferguson begitu rajin dalam mengorbitkan pemain-pemain muda. Yang paling sukses tentu saja Class of 92. Setelah itu, ada Darren Fletcher, John O’Shea, dan Wes Brown yang menjadi penggawa utama United setelah lulus dari akademi.

“Kategori pertama adalah dia bakal mengoptimalkan permain muda di tim sebelum melirik ke pasar luar,” kata Gary.

Jika kriteria pertama dirasa sudah cukup, maka Ferguson akan beralih pada kriteria berikutnya. Yang kedua adalah mengincari talenta-talenta terbaik yang bermain di Premier League. Ini menjadi prioritas pertama sebelum kemudian beralih ke pasa pemain-pemain yang berkiprah di luar Inggris.

“Yang kedua adalah melihat talenta-talenta terbaik di Premier League. Syarat untuk opsi kedua ini, ia harus bisa memercayai pemain tersebut untuk bisa bertahan dan bertumbuh dalam jangka waktu yang panjang seperti Gary Pallister, Steve Bruce, Wayne Rooney, Rio Ferdinand, dan Robin van Persie. Inilah contoh dari kriteria yang kedua,” tutur Gary.

Kriteria terakhir adalah mencari pemain di luar Inggris. Meski begitu, pemain yang diincar ini juga bukan pemain yang sembarangan. Setidaknya mereka yang datang dari luar Inggris ini memiliki dua kriteria yang disebutkan sebelumnya yaitu muda atau bisa diberdayakan dalam jangka waktu yang panjang.

“Baru setelah itu ia akan membidik talenta dari luar. Dia selalu ingin talenta muda internasional yang bisa bergabung ke United dan bekerja serta berkembang bersama untuk menjadi pemain hebat. Nemanja Vidic, Peter Schmeichel, Patrice Evra, Cristiano Ronaldo, dan Ole Gunnar Solskjaer adalah contohnya.”

“Dia jarang pergi keliling dunia untuk membeli pemain bintang yang sudah jadi. Langkah ini mirip dengan apa yang dilakukan Pep Guardiola bersama Manchester City,” sambung Gary.

Terkait penjualan, kapten United sejak 2005 ini menyebut kalau Fergie tidak mau bertele-tele ketika melepas pemain. Siapa yang dianggap tidak cukup baik atau yang bermasalah dengan dirinya, maka dia akan ditendang keluar jauh-jauh. Lebih lanjut lagi, Gary juga menekankan kalau penjualan yang dilakukan Fergie bergerak secara bertahap dan tidak jor-joran. Tujuannya adalah agar stabilitas tim tidak terganggu.

“Strategi United ini seperti ban yang jalannya lambat. Beberapa akan masuk, dan beberapa akan pergi. Tidak pernah belebihan setiap musim sehingga adaptasi yang dilakukan skuat menjadi besar-besaran. Ada kontrol di situ. Ia akan membangun tim dengan enam-sampai tujuh pemain muda, 10 pemain di usia tengah-tengah, dan tiga sampai empat pemain berusia 30-an. Setiap klub memiliki dinasti untuk stabilitas pemain,” kata Gary.

Strategi Jitu Sir Alex Ferguson

Apa yang diucapkan Gary Neville memang sesuai dengan apa yang dilakukan Sir Alex Ferguson selama lebih dari 25 tahun menangani United. Ia jauh lebih tertarik untuk mengandalkan pemain muda. Seperti yang sudah disebutkan, Class of 92 adalah contoh paling jelas dalam keberhasilannya menggunakan jasa pemain muda. Ia juga berhasil merekrut Rooney, Pallister, Cole, Yorke, Cantona, Sheringham, Carrick, Young, dan Valencia, yang sebelumnya menjadi andalan di Premier League bersama klub lamanya.

Demikian dengan nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Shinji Kagawa, David de Gea, Nani, dan banyak lagi pemain yang datang ke Old Trafford dengan label bertalenta dan masih berusia sangat muda.

Akan tetapi, kriteria tersebut tidak bisa dipenuhi oleh sembarangan pemain. Dari tiga kriteria itu, ia akan melihat mana pemain yang cocok dan mana yang tidak. Hal ini Ferguson ceritakan dalam bukunya yang berjudul ‘Leading’.

“Saya akan selalu menilai pemain yang akan saya beli harus memiliki kecepatan, keseimbangan, dan teknik. Saya juga mau melihat kalau pemain itu bisa diandalkan. Membeli satu pemain yang bisa dipilih setiap minggu adalah satu hal. Beda lagi kalau mengeluarkan uang untuk pemain yang selalu cedera setiap tiga pertandingan,” kata Sir Alex dalam bukunya.

Ferguson juga menjelaskan betapa pentingnya hemat dalam membeli pemain. Ia tidak mau membuat United menjadi kesebelasan yang enteng mengeluakan uang. Ada kalanya, ia mengeluarkan banyak uang, namun tidak selalu ia lakukan setiap musim.

Nemanja Vidic, Patrice Evra, Edwin van der Sar, adalah nama-nama yang direkrut United dengan harga yang sangat murah. Namun, ketiga pemain ini membuktikan kalau kualitas mereka tidak murahan. Bahkan ketiganya menjadi legenda di Old Trafford.

“Kami selalu mencari pemain yang berharga miring. Meski begitu, pemain tersebut harus ada kualitas. Saya lebih cenderung membangun daripada membeli,” ujarnya.

Meski begitu, Ferguson juga memiliki beberapa batasan yang menjadi pakemnya ketika sedang mencari pemain yang ia mau agar tidak melewati batas. Pada 10 tahun terakhir kariernya, United tidak akan membeli pemain berusia di atas 27 tahun kecuali jika pemain tersebut direkrut dengan status pinjaman. Inilah yang membuat Fergie mengalihkan target dari Franck Ribery ke Antonio Valencia dan Gabriel Obertan setelah mereka kehilangan Cristiano Ronaldo.

Ferguson bukannya anti terhadap pemain berusia lebih dari 27 tahun. Dia akan tetap membeli pemain tersebut apabila posisinya adalah penjaga gawang. Kesulitan mencari pengganti Peter Schmeichel dalam jangka waktu yang lama mungkin menjadi alasan mengapa posisi ini diberikan pengecualian.

Tercatat Ferguson hanya dua kali melanggar regulasi yang ia buat sejak bertandem bersama David Gill. Yang pertama adalah pembelian Michael Owen pada 2009, dan yang terakhir adalah pembelian Robin van Persie pada 2012. Sebelumnya, Fergie beberapa kali membeli pemain berusia di atas 27 yaitu ketika merekrut Laurent Blanc pada 2001, dan Teddy Sheringham empat tahun sebelumnya.

Comments

Loading...