OUR NETWORK

Memanfaatkan Kesempatan ala Luca Ercolani

Nama Luca Ercolani mungkin tidak setenar kawan-kawannya sesama jebolan akademi Manchester United. Ia tidak punya kesempatan besar seperti yang dirasakan Axel Tuanzebe, Tahith Chong, atau bahkan Mason Greenwood. Akan tetapi, aktivitas yang ia lakukan baru-baru ini membuatnya banyak mendapat pujian.

Ercolani baru berusia 21 tahun. Akan tetapi, ia sudah memiliki sesuatu yang mungkin tidak banyak diiliki oleh pemain seusianya yaitu lisensi kepelatihan. Pria kelahiran Ravenna ini sudah memiliki lisensi kepelatihan UEFA B yang membuatnya sudah bisa melatih kesebelasan kelompok usia dan bahkan sudah membuatnya bisa menjadi seorang asisten pelatih.

Betapa cepatnya Ercolani mendapat lisensi kepelatihan tidak lepas dari perjalanan karier sepakbolanya yang tidak berjalan dengan baik. Dia mengalami cedera ACL serius pada tahun lalu yang membuat menit mainnya di tim akademi menjadi terbatas. Sebelum meninggalkan United awal tahun ini, dia hanya bermain lima kali. Total, ia hanya punya 24 caps bersama tim U-23. Selama melakukan pemulihan cedera, Ia mencoba untuk mengambil lisesnsi kepelatihan.

“Segera setelah rehabilitasi, pikiran utama saya adalah bagaimana caranya membuat saya tetap sibuk dan termotivasi sepanjang hari. Biasanya, saya tidak punya aktivitas lain setelah menjalani rehabilitasi,” kata Ercolani.

“Fokus saya adalah kembali bermain secepat mungkin. Tapi saya sadar kalau saya perlu untuk mencari alternatif lain. Saya berbicara dengan staf, lalu Chris Mccready, dan memutuskan untuk merekomendasikan saya untuk bisa mengambil lisensi kepelatihan,” ujarnya.

Keputusan Ercolani mendapat banyak dukungan. Salah satunya adalah Kieran McKenna yang pernah melatihnya pada tim junior dulu. Pria yang sekarang menjadi asisten tim utama United memang sudah mengendus kalau Ercolani memiliki bakat sebagai seorang pelatih ke depannya. Apalagi ia kemudian mendapat banyak saran dari Michael Carrick dan Lee Grant. United juga memberinya wadah untuk melihat sesi latihan dan membandingkan dengan ilmu yang ia dapat.

“Kieran mendorong saya untuk memulai karier ini. Saya juga bertemu Michael Carrick dan Lee Grant tahun lalu. Saya menyaksikan beberapa sesi Lee di lapangan dan Michael juga membantu saya bersama Neil Bailey, instruktur dari PFA. Saya dikelilingi banyak orang baik.”

Selama menjalani sesi langsung bersama Manchester United, Ercolani banyak sekali mendapat jawaban dari segala pertanyaan yang pernah ia pendam. Salah satunya adalah mengenai betapa pentingnya menjalani sesi latihan tersebut secara berulang. Selain itu, ia juga mendapat wawasan dan pemahaman yang lebih baik mengenai taktik.

“Pada pertandingan, saya merasa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang taktik. Saya mulai bisa melihat pola permainan dan membaca permainan dengan baik. Saya merasakan betul manfaat setiap kali saya berada di pinggir lapangan. Saya juga lebih percaya diri dan siap membantu rekan satu tim saya,” tuturnya menambahkan.

Saat masih menjadi pemain, Ercolani merasa terpukul. Bagaimana tidak, saat rekan satu angkatannya seperti Teden Mengi mulai sering berlatih bersama tim utama, waktu Ercolani habis hanya untuk melakukan pemulihan. Inilah yang membuatnya merasa kalau kariernya di United sudah habis dan bertahan bersama mereka hanya membuang-buang waktu.

“Pada akhir musim panas, setelah mulai pulih dari cedera lutut, saya sadar kalau saya tidak punya masa depan lagi di sini. Tinggal lagi di sini selama enam bulan, itu sama saja saya membuang-buang waktu.” Atas dasar ini, Ercolani memilih kembali ke Italia untuk memperkuat tim Serie C, Carpi.

Ercolani belum mengumumkan diri akan pensiun sebagai pemain sepakbola. Namun ia sudah mengambil ancang-ancang kalau ternyata kariernya memang benar-benar tidak bagus sebagai seorang pemain. Kesempatan yang ada ia manfaatkan dengan baik. Jika ia gagal nanti, bukan tidak mungkin ia akan langsung terjun dengan menjadi pelatih dan berdiri di pinggir lapangan.

Lagipula, banyak sekali pelatih-pelatih di dunia ini yang mengawali karier kepelatihannya di usia muda. Jose Mourinho memulainya pada usia 29 tahun. Lalu Julian Nagelsmann mengawali karier kepelatihannya pada usia 28 tahun. Semua karena kariernya tidak bagus ketika menjadi pemain. Pada usia 31 tahun, Hansi Flick menjadi pelatih di Victoria Bammental. Bukan tidak mungkin, Ercolani akan mengikuti jejak ketiganya suatu saat nanti.

Comments

Loading...