OUR NETWORK

Memaklumi Kekesalan Sir Alex Ferguson

Wine tidak hanya menjadi sebatas hobi yang disukai oleh Sir Alex Ferguson, tetapi juga sebagai bentuk pelarian ketika ia sedang merasa tertekan.

Siapa yang tidak marah ketika melihat kesebelasan yang dulu pernah berjaya tiba-tiba hancur lebur di kandangnya sendiri. Itulah yang terjadi dengan Manchester United ketika dikalahkan Manchester City dengan skor 1-3 pada semifinal Piala Liga beberapa waktu lalu. Tidak hanya kalah dari skor, United juga kalah dari segi permainan.

Ini yang membuat Sir Alex Ferguson merasa kesal dan terpukul. Menurut penuturan beberapa media luar, Fergie merasa malu melihat penampilan timnya pada babak pertama. Menurut penuturan orang dalam klub, Fergie kesal dan tidak ingin berbicara kepada semua orang. Biasanya, para orang-orang yang terkait dengan klub tersebut akan saling ngobrol di lounge khusus sembari menanti babak kedua dimulai.

Namun, rasa marah Fergie sukses menguasai pikirannya. Si orang dalam tersebut berkata wajahnya merah seperti orang menahan marah dan memilih minum anggur seorang diri.

“Berada di lounge itu bukan tempat yang bagus dari sudut pandang United. Sir Alex memilih menuju kantornya. Dia tidak tahan bertemu orang-orang dan butuh tempat menyendiri, sementara Woodward hanya bisa memegang kepalanya,” kata sumber tersebut.

Sir Alex mungkin ingin menghardik para pemain United yang bermain saat itu. Apalagi jika dia tahu komentar Kevin de Bruyne yang menyebut timnya hanya berlatih 15 menit saja soal taktik tanpa striker. Kekesalannya mungkin semakin meningkat karena komentar tersebut bernada seperti penghinaan.

Ia sudah gatal ingin mengeluarkan hair dryer treatment yang sudah enam tahun lebih tidak ia keluarkan. Meski penggemar United juga yakin ingin melihat Fergie datang dan mengolok-olok pemain United, namun ia sadar kalau ia sekarang tidak punya kapasitas apa pun untuk ikut campur dengan Ole Gunnar Solskjaer soal internal klub. Status dia hanya sebatas dewan kehormatan dan sebagai seorang duta klub, jadilah dia hanya bisa menyendiri sambil memegang minumannya.

Memaklumi Kekesalan Ferguson

Setiap penggemar United yang kesal dengan permainan klubnya, pasti akan dituduh tidak loyal dan hanya mau mendukung saat menang saja. Namun, semua orang yang berada dalam situasi sedang bertanding pasti mereka semua ingin menang. Tidak ada yang mau mengalami kekalahan. Apalagi dengan permainan yang seburuk ditampilkan Setan Merah pada babak pertama.

Fergie bukannya tidak paham proses. Ia jelas paling tahu yang namanya proses. Nyaris tujuh musim ia butuhkan ketika pertama kali ditunjuk menggantikan Ron Atkinson pada November 1986. Dalam benaknya, dia mungkin memaklumi kalau United tidak akan menjuarai liga Inggris atau Liga Champions dalam jangka waktu yang lama.

Akan tetapi, ia juga tidak ingin melihat timnya harus menjalani proses seburuk apa yang ia lihat dalam tujuh musim terakhir yang sulit masuk empat besar, hanya main di Liga Europa, bahkan menghadapi tim papan bawah saja sulitnya setengah mati. Apalagi didominasi oleh tetangga dan sekarang rival abadinya mulai mendekati mereka. Ferguson mungkin berharap United paling tidak mentok di top four saja setelah dia pensiun karena ia sudah memasang standar yang tinggi untuk United selama lebih dua dekade.

Sambil memegang gelas anggurnya, Fergie kemungkinan sedang merenung dan mengembalikan ingatannya saat ia terakhir kali melangkah di bawah lapangan Old Trafford sebagai manajer United. Mungkin ada penyesalan juga kenapa ia tidak membuat persiapan dan perencanaan yang jelas sebelum dia mengakhiri jabatannya.

Pensiunnya Ferguson memang bersifat mendadak. Pihak klub tidak ada yang mengetahui sampai kemudian pada awal bulan Mei, kabar pensiunnya Ferguson muncul di media. Sepanjang musim 2012/2013, kabar mundurnya David Gill jauh lebih santer terdengar dibanding Ferguson. Usut punya usut, Ferguson tidak mau membuat timnya terbeban jika mengumumkan pensiun sejak awal musim. Ia tidak mau mengulang musim 2001/2002 saat timnya bermain buruk setelah ia mengumumkan akan pensiun sejak awal musim.

Tujuan yang sangat bagus karena perjalanan tim saat itu sedang konsisten meraih kemenangan demi kemenangan. Namun manajemen yang merasa segalanya baik-baik saja jelas berpikir kalau Fergie kemungkinan tidak akan berkata akan pensiun saat itu. Sayangnya, hal itu tidak terjadi dan Fergie benar-benar pensiun di akhir musim.

Manajemen kelimpungan mencari pengganti. Sampai-sampai Sir Alex Ferguson yang harus turun tangan melakukan pendekatan ke beberapa manajemen. Sayangnya, nama-nama yang dianggap layak memimpin United seperti Pep Guardiola, Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, tidak ada yang nyangkut di pangkuan United. Jadilah, manajemen United menujuk manajer pengganti atas dasar emosional tanpa melihat apakah kandidat tersebut layak atau tidak.

David Moyes ditunjuk karena tidak ada kandidat lain, Louis van Gaal dan Jose Mourinho hanya menangani tim dalam tempo yang singkat meski sudah memberi gelar. Sekarang, mereka mau tidak mau harus menikmati masa-masa bersama Ole Gunnar Solskjaer yang tertolong statusnya sebagai legenda meski pengalaman menangani sebuah kesebelasan masih sangat minim. Semuanya terbebani dengan prestasi Sir Alex selama masih berada di kursi manajer.

Masa Transisi yang Membuatnya Pusing

Dulu, Sir Alex Ferguson menetapkan standar yang cukup tinggi bagi tim. Pekerjaannya mencakup banyak sekali ruang lingkup. Mulai dari mengatur gizi, pemulihan cedera, memperbaiki psikologis pemain, pemantauan pemain yang siap diincar, hingga perekrutan, semua ia jalani sendiri.

Ia juga yang membuat seluruh pemain United saat itu bermain mati-matian meski kualitasnya tidak sebanding dengan klub-klub lain. Dengan tujuh pemain belakang, timnya masih bisa menang. Meski bermain tanpa bek tengah, timnya masih konsisten di papan atas. Ketika gelontoran uang mulai mengambil alih dunia sepakbola, ia masih bisa menunjukkan persaingan memperebutkan gelar juara.

Soal transfer pun Ferguson punya pakemnya sendiri. Ia tidak akan membeli pemain di atas usia 27 tahun kecuali statusnya hanya pinjaman. Selain itu, ia baru akan merekrut pemain berusia 27 tahun jika posisinya adalah penjaga gawang. Hanya dua kali prinsipnya ini dilanggar yaitu ketika membeli Michael Owen pada 2009 dan Robin van Persie pada 2012.

Sekarang, ia dipaksa melihat timnya beberapa kali melakukan transfer kurang baik yang justru merugikan United sendiri. Dan ketika transfer ini mulai kembali dijalankan oleh Solskjaer, hal ini tidak didukung dengan pengembangan pemain yang sebelumnya sudah memperkuat United.

Ferguson juga pasti mengharapkan siapapun manajer yang menggantikannya maka dia harus terus melakukan peremajaan. Sayangnya, hingga Ole Gunnar Solskjaer menangani tim ini, hal itu belum terlihat. Pemain seperti Ashley Young masih disimpan. Nama-nama seperti Jesse Lingard, Phil Jones, dan Marcos Rojo juga masih diandalkan meski permainannya tidak sematang usianya.

Ketika United ingin menjual pemain-pemain tersebut, mereka terbentur soal gaji si pemain yang sangat tinggi sehingga klub peminat enggan untuk merekrutnya. Si pemain jelas menolak untuk menurunkan nilai uangnya karena di United saja dia bisa digaji sebesar itu. Jadilah, mereka tetap menyimpan pemain-pemain medioker ini hingga peremajaan tampak sulit dilakukan. Permasalahan ini belum ditambah dengan ruwetnya pola manajemen United yang sekarang dalam mengatur klub, terutama sejak posisi David Gill diisi oleh Ed Woodward.

Sir Alex Ferguson sudah semakin tua. Usianya kini 78 tahun. Fisiknya mulai renta dan segala penyakit sudah mulai datang menghampiri. Ia tentu berharap, selagi masih diberi umur oleh yang maha kuasa maka ia masih menyimpan harapan untuk melihat Manchester United bangkit seperti saat ia masih berada di pinggir lapangan yaitu sukses menguasai liga dan menancapkan kuku di sepakbola Eropa.

Ia tentu berharap aksi minum wine sambil menahan marah pada jeda babak melawan Manchester City menjadi momen terakhirnya. Ia tentu menginginkan yang lebih baik dari itu seperti minum wine dengan manajer United sembari mengelus trofi Premier League yang baru saja mereka raih. Sayangnya, hal itu masih sebatas harapan Fergie yang belum jelas kapan terealisasi.

Comments

Loading...