OUR NETWORK

Masa Depan Manchester United yang Semakin Suram

Pekan ke-12 Premier League ditutup Manchester United dengan berada di urutan kedelapan klasemen sementara dengan koleksi 20 poin. Mereka mengumpulkan enam kemenangan, dua hasil imbang, dan empat kali kalah. Posisi ini adalah yang terburuk sepanjang kiprah mereka di Liga Primer dalam 12 pertandingan.

Dari segi perolehan poin, 20 poin bukanlah catatan buruk jika dibandingkan musim 2004/2005 (18 poin), 2014/2015 (19 poin), dan 2016/2017 (19 poin). Akan tetapi, selisih poin yang sangat jauh dengan pemuncak klasemen menjadi masalah. Setan Merah kini sudah tertinggal 12 poin dari Manchester City. Bahkan dari Liverpool pun, United sudah ketinggalan 10 angka.

Yang menarik, selisih poin United dengan tim yang berada di urutan ke-18, Cardiff City, juga sama yaitu 12 poin. Selama dua pekan mendatang, United berada di ambang batas antara menanjak ke papan atas atau terjun ke papan bawah.

Kompetisi liga memang masih menyediakan 78 poin untuk diraih. Namun melihat permainan United saat ini, plus pesaing yang semakin kuat, maka gelar juara memang sudah tidak layak untuk diincar Setan Merah. Toh, Jose Mourinho tampak sudah menyerah untuk bersaing memperebutkan posisi puncak.

“Kami tidak akan terdegradasi,” tuturnya selepas pertandingan.

Ucapannya menandakan kalau musim ini jauh lebih sulit ketimbang musim pertama dan kedua. Entah apa yang membuat segalanya berjalan sulit pada musim ini, karena penulis sendiri bukan orang yang percaya terhadap kutukan musim ketiga Mourinho yang terkenal itu.

Jelang Premier League 2018/2019 dimulai, Mourinho mengungkapkan kalau ia harus menunggu perjalanan tim pada pertengahan November hingga akhir Desember untuk melihat apakah United layak mengincar gelar juara. Ucapannya tersebut kembali dipertegas sebelum laga derby kemarin. Akan tetapi, kekalahan melawan City mengikis rasa optimis Mourinho dan secara tidak langsung menyimpulkan kalau United akan memasuki tahun keenam tanpa gelar Premier League.

Jangankan bersaing untuk gelar, dengan selisih gol minus satu saja sudah menandakan kalau United lebih layak berada di 10 peringkat terbawah alih-alih masuk 10 teratas. Beruntung, Dewi Fortuna kerap muncul melalui pertolongannya dalam bentuk comeback istimewa. Kemenangan dramatis yang sering terjadi membuat tim ini berada dalam bayang-bayang apakah memang masih punya mental juara atau karena tim lawan yang kualitasnya lebih katro ketimbang United.

Kini, para penggemar tampaknya tidak lagi berharap apakah United mau meraih kemenangan atau tidak di akhir pertandingan. Kebanyakan dari mereka kini lebih menginginkan United bisa memulai laga dengan baik dan mengakhirinya dengan baik pula.

Dalam beberapa kemenangan terakhir yang diraih, United selalu mengawalinya dengan buruk meski mengakhirinya dengan baik (comeback). Comeback memang menarik. Ada mood dan gairah yang terangkat setelah melihat tim kesayangan kita bisa membalikkan keadaan. Akan tetapi, comeback tidak datang sewaktu-waktu. Sebaliknya, gol ke gawang sendiri yang lebih sering datang ke gawang United.

United sebenarnya beruntung bisa mendapatkan pelatih sekaliber Mourinho yang jago dalam permainan bertahan. Namun aneh rasanya melihat gawang De Gea justru lebih sering kebobolan. Hanya satu kali Clean sheet membuat lini belakang tim ini sejajar dengan Fulham, Huddersfield, dan Cardiff City.

Apakah para pemain belakang tidak paham keinginan Mourinho? Atau memang kualitas pemain belakang United yang katro? Atau jangan-jangan para pemain tidak serius berlatih di Carrington? Entahlah, hanya Tuhan, pemain, dan pelatih saja yang tahu. Toh, saya juga sudah pernah menggugat lini belakang dan nampaknya belum ada tanda-tanda perbaikan hingga derby kemarin.

Ada dua pekan waktu yang bisa digunakan Mourinho untuk memperbaiki kelemahan timnya. Semoga saja dalam kurun waktu tersebut, ada perbaikan yang signifikan di semua lini dengan prioritas utama adalah lini belakang. Apabila hingga akhir Desember United mengalami perkembangan, maka ujian berikutnya adalah mencari pemain yang tepat pada jeda paruh musim mengingat manajemen berjanji mengeluarkan uang ratusan juta paun untuk belanja.

Namun apabila United tidak mengalami peningkatan yang signifikan di sisa pertandingan, saya hanya berpesan agar para pendukung ikhlas dan sabar dalam menghadapi musim ini. Anggap saja ini ujian kesetiaan kita sebagai penggemar (layar kaca) Setan Merah. Ujian kesetiaan yang datang dari keruwetan manajemen, miskinnya taktik pelatih, hingga para pemain United yang tidak konsisten.

Comments

Loading...