OUR NETWORK

Main Jelek tapi Menang, atau Main Cantik tapi Kalah?

Jika sebuah tim gagal meraih poin ataupun trofi, maka beban terbesar ada di pundak manajer atau pelatih klub tersebut. Para pemain atau anak asuhnya mungkin jua terkena semprot atau kritik jua, tapi yang sering kita lihat adalah manajer yang dipecat. Baik di tengah musim maupun di akhir musim.

Oleh karena itu, seringkali manajer mengabaikan permainan cantik untuk mengamankan sebuah poin atau bahkan sekadar selisih gol. Mungkin kita masih ingat dengan taktik Jose Mourinho untuk “memarkir bus” sewaktu di Chelsea beberapa musim silam. Taktik tersebut mengundang banyak kritik dari berbagai pihak, karena mematikan seni sepakbola.

Namun jika kita berpikir logis mengenai tuntutan pekerjaan yang diemban oleh Mou, hal tersebut wajar dilakukan. Inilah jua yang dilakukan oleh Mou dalam laga melawan Arsenal yang berakhir dengan kekalahan United 0-2.

Taktik yang digunakan oleh Mou adalah mengistirahatkan sejumlah pemain pentingnya demi target mencapai final Europa League. Akhirnya kritik pun datang usai laga ini digelar. Di antaranya adalah eks pemain Liverpool, Jamie Carragher dan eks pemain United, Phillip Neville.

Dilansir dari Mirror, Carragher yang kini berprofesi sebagai komentator sepakbola tersebut menganggap United punya rekor memalukan dalam hal gol tandang ketika melawan enam klub besar di Liga Primer Inggris.

Berdasarkan statistik, dalam empat pertandingan tandang terakhir, anak asuh Mourinho gagal untuk mencetak satu gol pun. Bahkan membuat United tertinggal dibandingkan West Brom (1), Hull (2), Sunderland (2) dan Middlesbrough (2).

“Hal ini sangat membahayakan dan tidak benar untuk klub sebesar Manchester United, untuk tidak mencetak gol di pertandingan-pertandingan besar.”

“Karena mengingat manajer yang mereka punya, pemain-pemain yang mereka punya, dan semua uang yang telah mereka gunakan. Jadi sangat memalukan bagi saya mereka tak bisa mencetak gol di laga-laga tersebut,” kata Carragher.

Menurut Carragher kritiknya ini tak berlebihan. Lantaran menurutnya untuk manajer sekelas Mourinho, seseorang harus memilih apakah akan mendukung sepenuhnya taktik Mou atau tidak sama sekali. Dalam hal ini Carragher memilih untuk tak mendukung sama sekali.

“Kamu entah harus mendukung penuh Mou atau tidak sama sekali, tak tergantung dari hasilnya.”

“Hal ini tidak membuat saya terkejut. Karena dia (Mou) telah melakukan ini selama 10 atau 15 tahun ke belakang.”

“Contoh saja awal musim ini, dia melakukan hal yang serupa. Formasinya menjadi seperti 6-3-1.” terang Carragher.

Lebih lanjut lagi Carragher mengatakan bahwa manajer berusia 54 tahun tersebut tak akan melepas taktik sepakbola negatif, jika sedang berhadapan dengan tim yang berat.”

“Jose Mourinho, kapanpun ia merasa pertandingan punya peluang 50:50 atau unggul lebih sedikit, langkah pertamanya adalah mematikan permainan.”

“Pikiran pertamanya pasti menghentikan permainan lawan. Itu yang ia lakukan di pertandingan besar, terlepas tim mana yang ia latih, taktik itu tak akan berubah,” kata Carragher.

‘Tak Ada Lagi yang Peduli’

Jaman memang selalu berubah. Kadang inilah yang membuat sulit seseorang untuk melupakan masa lalu. Rasa nyaman yang diciptakan oleh masa lalu, membuat orang tersebut tak kerasan di masa kini.

Hal inilah yang terjadi pada eks pemain United, Phillip Neville. Pria berusia 40 tahun tersebut jua mengungkapkan kekecewaanya terhadap laga Arsenal vs United hari Minggu lalu.

Jika Carragher mengkritik daya gedor United ketika melawan tim besar, Neville justru merasa tensi antara kedua tim tak lagi sebesar ketika dirinya masih bermain.

Dilansir dari BBC, Neville menumpahkan isi hatinya melalui sebuah artikel yang berjudul “Mengapa Arsenal Mengalahkan United, Tetapi Tak Ada Lagi yang Peduli.”

“Ketika saya bermain untuk United, Arsenal selalu jadi laga terbesar kami musim itu. Menjelang laga semuanya sangat tegang dan seakan kami akan masuk arena pertarungan melawan rival terbesar kami,” tulis Neville di paragraf pembuka artikelnya.

Neville kemudian menjelaskan bahwa ia sadar bahwa Mou memang tak menargetkan masuk posisi empat. Alih-alih untuk mendapatkan pemain segar di laga leg kedua Europa League.

Namun dirinya sebagai eks pemain tak menampik bahwa ia ingin melihat pertandingan tersebut berlangsung dengan menggairahkan, laiknya dahulu.

“Dulu laga itu (Arsenal vs United) seperti hidup mati bagi saya. Sekarang tak ada lagi tensi itu, dan laga berlangsung sangat biasa-biasa saja,” lanjut Neville.

Laiknya jurnalis yang melakukan proses verifikasi, Neville pun kemudian menanyakan kepada eks pemain Arsenal, Martin Keown, apakah dia merasakan hal yang sama. Kebetulan mereka berdua sedang menjadi komentator untuk pertandingan tersebut di sebuah stasiun televisi.

“Dia (Keown) setuju bahwa pertandingan tersebut kehilangan atmosfernya dan intensitas yang biasa-biasa saja adalah hal yang paling mengecewakan.”

“Bahkan sebelum laga dimulai, kita melihat mereka (pemain United dan Arsenal sekarang) saling berpelukan dan bertukar senyum. Kedua hal itu tak terjadi di waktu saya dan Keown masih bermain.” kata Neville.

Sumber : mirror.co.uk dan BBC.co.uk

Comments

Loading...