OUR NETWORK

Kisah Kegagalan Henrikh Mkhitaryan di Manchester United

Masuknya Jose Mourinho sebagai manajer Manchester United pada musim 2016/2017 seketika membuat United dijagokan untuk kembali ke perburuan gelar juara Premier League. Tidak hanya kedatangan manajer berpengalaman dengan raihan segudang trofi, namun hadirnya Mourinho juga diiringi penguatan di setiap lini dengan mendatangkan pemain bintang.

Satu yang membuat United dijagokan menjadi juara adalah kualitas lini tengah mereka. Saat itu, United punya Bastian Schweinsteiger, Michael Carrick, Ander Herrera, Juan Mata, Jesse Lingard, dan dua penggawa anyar yaitu Paul Pogba dan Henrikh Mkhitaryan.

Masuknya nama terakhir saat itu membangkitkan keyakinan penggemar United untuk melihat timnya kembali ke papan atas. Jika pembelian Pogba dianggap terlalu mahal dan sosoknya tidak diharapkan untuk datang karena persoalan di masa lalu, maka lain halnya dengan Miki. Pemain timnas Armenia ini datang dengan status sebagai raja asis dan pemain terbaik Bundesliga. Kehadirannya di lapangan tengah jelas diharapkan mampu meningkatkan kreativitas United.

“Henrikh adalah pemain dengan kemampuan dan visi sepakbola yang bagus. Selain itu, dia juga bisa mencetak gol. Saya senang dia memilih United. Saya percaya dia bisa memberikan dampak sangat cepat bagi tim karena gaya permainannya cocok dengan Premier League,” kata Jose Mourinho.

Sayangnya, hubungan Miki dengan United berlangsung singkat yaitu hanya satu setengah musim. Pada Januari 2018, ia menjalani pertukaran dengan Alexis Sanchez menuju Arsenal. Total ia hanya bermain 63 laga dan membuat 13 gol serta 11 asis.

Padahal, musim pertama Miki di United berlangsung sangat indah. Dia menjadi bintang klub ketika Setan Merah menjadi juara Europa League musim 2016/2017. Pada laga puncak melawan Ajax, ia mencetak satu gol dalam kemenangan United 2-0. Ia juga terpilih dalam skuat terbaik Europa League pada musim yang sama serta mendapat penghargaan gol terbaik Premier League bulan Desember.

Namun, romansa indah tersebut tidak berlanjut pada musim kedua. Meski mengawali musim dengan sangat baik dengan berkontribusi dalam lima gol United dari tiga laga, penampilan Miki lambat laun merosot yang membuat Mourinho kecewa dan memutuskan untuk melepasnya ke Arsenal.

“Saya tidak senang dengan performanya. Saya tidak bicara tentang satu atau dua laga, tapi saya bicara tiga, empat, sampai lima laga. Dia memulainya dengan sangat bagus, tapi lama kelamaan dia menghilang. Performanya di atas lapangan seperti mencetak gol, asis, melindungi bola, menekan lawan, dan performa lainnya sebagai pemain nomor 10 mulai menghilang,” kata Mourinho.

“Pantas rasanya untuk mencadangkannya karena pemain yang lain bekerja lebih keras dibanding lainnya. Semuanya bekerja untuk mendapatkan tempat di dalam tim, sesederhana itu.”

Mourinho adalah manajer yang menekankan pentingnya kerja keras. Sayangnya, itu tidak ada dalam diri Mkhitaryan sehingga membuatnya mencadangkannya dalam beberapa pertandingan. Keputusan yang saat itu menimbulkan polemik karena Miki adalah idola di kalangan penggemar United. Sayangnya, performanya saat itu memang tidak terlalu menjanjikan meski bermain baik pada awal musim.

Mourinho Manajer yang Penuntut

Kepada Yevgeniy Savin, seorang YouTuber asal Rusia, Mkhitaryan menceritakan tentang situasi sulit yang ia alami pada musim terakhirnya bersama United. Ia menganggap kalau Mourinho memiliki pendekatan yang berbeda dibanding manajer dia sebelumnya, Jurgen Klopp. Jika Jurgen dianggap sebagai ayah dan saudara, maka Mourinho dianggap sebagai manajer yang penuntut. Inilah yang membuatnya tidak bisa bekerja sama di atas lapangan.

“Mourinho adalah pelatih paling sulit dalam karier saya. Dia sangat menuntut. Sulit bagi semua orang untuk bekerja dengan Mourinho karena ada perselisihan dan konflik, tetapi hal itu tidak memberikan pengaruh karena kami masih mendapat tiga piala. Saya mulai berpikir untuk pergi dari United ketika Mourinho tidak puas dengan kinerja saya,” tuturnya.

Suatu ketika Miki sedang sarapan sebelum ia didatangi oleh Mourinho. Mou saat itu berkata kalau kritikan yang ia dapat disebabkan karena Miki. Miki pun heran dan merasa ia tidak melakukan apa pun yang membuat Mourinho dikritik.

“Dia meminta saya untuk berlatih lebih banyak dan itu memang benar. Semuanya diawali dari sana. Tapi saya merasa saya tidak perlu menambah apa-apa lagi karena saya membantu tim, mencetak gol, dan bekerja keras, tapi seseorang (Mourinho) masih tidak puas dan saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya tidak mau membuang banyak waktu dan saya hanya ingin bermain sepakbola.”

Meski berakhir mengecewakan, namun Miki tidak menyesal telah memperkuat United. Setidaknya ia sudah memberikan tiga gelar yang menjadi gelar terakhir United sebelum puasa gelar dua musim beruntun. Ia juga senang bisa berkontribusi bersama pemain-pemain kelas dunia meski ia tidak sejalan dengan manajernya.

“Mourinho menginginkan saya dan menelepon Mino saat itu. Saya saat itu berada di antara memperpanjang kontrak dengan Dortmund atau pindah ke klub lain. Saya akhirnya memilih pindah ke United karena Anda pasti ingin merasakan bermain dengan Ibrahimovic, Pogba, dan Juan Mata, sekali seumur hidup. Saya tidak pernah menyesal telah hijrah ke Old Trafford,” tuturnya.

Miki pun tidak bertahan lama di Arsenal. Pada musim 2019/2020, ia dipinjamkan ke AS Roma dan bertemu dengan mantan rekannya di United, Chris Smalling. Sejauh ini, ia sudah membuat enam gol dan empat asis di semua kompetisi. Empat (dua gol dan dua asis) diantaranya bahkan dicetak pada dua pertandingan terakhir.

Comments

Loading...