OUR NETWORK

Kebijakan Transfer Premier League yang Dikritik Solksjaer

Bursa transfer Premier League yang ditutup pada tanggal 8 Agustus nanti dinilai Solskjaer sebagai sebuah kebijakan yang tidak adil.

***

Sejak musim panas lalu, bursa transfer Premier League ditutup lebih cepat dari biasanya. Jika sebelumnya 31 Agustus-1 September menjadi batas akhir pembelian pemain, maka mulai musim 2018/2019 bursa transfer Premier League ditutup satu hari sebelum pekan pertama Premier League dimulai. Untuk musim 2019/2020, 8 Agustus menjadi batas akhir pembelian pemain bagi 20 peserta klub-klub Premier League.

Perubahan jadwal ini dikritik oleh manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer. Ia yang baru merasakan bursa transfer musim panas Premier League ini merasa kalau kebijakan ini tidak adil bagi klub-klub Inggris.

“Saya pikir kita memiliki bursa transfer yang pendek agar adil. Namun ketika liga kami (Premier League) dimulai, masih ada tiga minggu lagi bagi klub-klub lain (di luar Inggris) bebas berkeliaran di sekitar para pemain kami. Kurasa itu tidak baik untuk kita bukan,” tuturnya kepada Sky Sports.

Ada kekhawatiran tersendiri bagi Solskjaer. Meski bursa transfer Premier League berakhir pada 8 Agustus, namun bursa transfer keluar masih berlangsung hingga 31 Agustus. Hal ini berarti, para pemain Premier League masih bisa pindah hingga akhir bursa transfer dengan catatan mereka harus keluar Inggris.

Hal ini yang mungkin sedang dirasakan oleh mantan pelatih dari Molde tersebut. Dua pemain mereka, Paul Pogba dan Romelu Lukaku bisa pindah meski Premier League sudah dimulai pada minggu depan.

Hasil buruk Real Madrid di pra-musim menimbulkan isu kalau Zidane mendesak Florentino Perez untuk segera merekrut Pogba. Sementara itu, Romelu Lukaku sedang dalam incaran Inter Milan dan Juventus. Lukaku sendiri santer diberitakan akan dibarter dengan Paulo Dybala. Hal ini sudah pasti membuat kubu Inter meradang karena striker Belgia ini menjadi rekrutan utamanya.

Ketakutan Solskjaer tidak sampai di situ saja. Akan lebih mengkhawatirkan lagi bagi dirinya jika Pogba dan Lukaku pindah setelah 8 Agustus, namun United tidak segera mendapatkan penggantinya dari awal. Patut diingat kalau bursa transfer Premier League hanya menyisakan waktu kurang dari sepekan saja setelah tulisan ini ditulis.

United sendiri sedang dibuat pusing oleh tiga incarannya yang belum menemui titik terang. Harry Maguire hanya ingin dilepas dengan nilai 90 juta paun. Bahkan United mulai mencoba untuk memberi ultimatum kepada kubu Leicester berupa penawaran sebesar 80 juta paun. Jika ditolak, maka United akan mundur dan mencari target lain yaitu bek Napoli, Kalidou Koulibaly.

Hal serupa juga dialami dalam negosiasi Bruno Fernandes. Kubu Sporting belum memberikan lampu hijau meski ia dirumorkan akan menjalani pertandingan terakhirnya pada akhir pekan nanti dalam Piala Super Portugal. Kubu United masih bertahan di angka 55 juta paun untuk Bruno disaat Sporting menginginkan 62 juta paun.

Kasus Dybala jauh lebih unik lagi. Trequartista Argentina ini masih tarik ulur dengan masa depannya. Ia kini sedang kesulitan memilih masa depannya. Ia ingin bertahan di Juventus namun konsekuensinya adalah tidak dimainkan di posisi terbaik, atau hijrah ke United dengan catatan manajemen Setan Merah menyetujui permintaan gajinya yang mencapai 10 juta paun per tahun. Permintaan ini yang membuat kubu United sedikit mengendur karena mereka tidak ingin mengulangi kejadian yang sama seperti ketika mereka mengontrak Sanchez. Dikontrak mahal, tapi tidak sebanding dengan performa di atas lapangan.

***

Ketika kebijakan transfer ini digagas pada September 2017 lalu, ada lima kesebelasan yang menolak kalau bursa transfer Inggris ditutup lebih cepat. Yang menarik, dua diantaranya adalah klub asal Manchester, yaitu City dan United. Tiga lainnya adalah Swansea City, Crystal Palace, dan Watford. Hanya Burnley yang memilih tidak memberikan suara.

Munculnya nama United sebagai tim yang menolak tergolong mengejutkan. Hal ini disebabkan manajer United saat itu, Jose Mourinho, yang menginginkan timnya bisa langsung bekerja dengan para pemain yang sudah direkrut dan tidak diganggu lagi oleh masalah negosiasi pemain.

“Sebagai pelatih dan orang yang ingin bekerja dengan tim dan pemain, saya lebih memilih bursa transfer musim panas ditutup secepatnya,” tutur Mourinho saat itu.

Siapa yang menyangka kalau harapan Mourinho saat itu seolah menjadi boomerang bagi dirinya. Pada musim panas 2018, United justru kesulitan mendapatkan pemain incarannya. Setelah menyegel Fred dan Diogo Dalot, United tidak lagi mendapatkan satu pemain lagi hingga bursa transfer ditutup. Bahkan karena bursa transfer yang ditutup lebih cepat tersebut, Mourinho sempat berseteru dengan Ed Woodward soal pembelian pemain belakang anyar.

Comments

Loading...