OUR NETWORK

Jesse Lingard dan Masalah Pelik yang Ia Derita

Rasa yang lama dipendam tersebut akhirnya keluar juga. Jesse Lingard nampak tidak tahan dengan situasi ini hingga membuatnya harus berbicara jujur kepada khalayak, khususnya penggemar United, tepat sehari sebelum ulang tahunnya ke-27.

***

Tidak sedikit penggemar United yang tidak menyukai Jesse Lingard. Alasannya sederhana, setiap dia dimainkan mereka yang tidak suka tersebut merasa kalau pemain bernomor punggung 14 ini tidak memberi kontribusi yang berarti. Sebelum mencetak gol melawan Astana, ia menjadi bulan-bulanan penggemar ketika tidak bisa mencetak gol selama hampir satu tahun.

Meski sudah beberapa kali dijelaskan kalau peran Lingard tidak semata-mata membuat gol atau asis, namun tidak banyak yang berusaha untuk mengerti. Bagi mereka, Lingard harus membuat gol atau asis karena dia bermain di lini depan. Ketika kontribusi itu tidak ada, maka dia tidak layak menjadi pemain inti. Sesuatu harapan yang bertentangan dengan pola pikir Solskjaer sehingga tiap kali membahas pemain ini maka perdebatan akan terus muncul.

Masalah Yang Menimpa Orang Tersayang

Mereka yang berprofesi sebagai atlet akan selalu dituntut untuk bersikap profesional. Salah satu sikap profesional yang harus dimiliki adalah memisahkan permasalahan di dalam maupun di luar arena. Seburuk apa pun masalah yang dihadapi, maka sebisa mungkin jangan dibawa ketika si atlet sudah siap untuk bertanding.

Atlet wushu Indonesia, Edgar Xavier Marvelo menunjukkan apa makna profesionalisme tersebut. Jelang ia tampil untuk memperebutkan medali emas pada ajang Sea Games, sang ayah meninggal dunia. Meski begitu, kabar tersebut tidak mempengaruhinya untuk berjuang dan memberikan medali emas bagi kontingen Indonesia saat itu. Tangisnya (mungkin) pecah setelah medali itu dikalungkan.

Akan tetapi, tidak semua atlet memiliki mental sebaik Edgar. Jesse Lingard adalah salah satunya. Meski ia sudah berusaha keras untuk menutupi segala permasalahannya, namun tetap saja masalah tersebut terus mempengaruhi performanya di atas lapangan. Ketika masalah itu tidak bisa lagi dibendung, maka curhat adalah jalan keluar agar bisa membuat orang lain mengerti akan kondisi dirinya yang sekarang.

Kehidupan Lingard ternyata dihantui masalah yang bertumpuk. Pada awal musim 2019, ibunya yang bernama Kirsty menderita sebuah penyakit. Hal ini yang membuatnya harus berperan sebagai pemimpin dalam rumahnya. Ia juga harus merawat dua adiknya yaitu Jasper dan Daisy-Boo yang masing-masing baru beranjak remaja.

Sakitnya Kirsty membuat Lingard meminta Jasper untuk bersekolah di rumah demi merawat ibunya. Ketika ia disibukan dengan agenda menjadi pemain Manchester United, dengan tekanan di sana sini, ia juga harus memanta hasil belajar adik-adiknya. Belum lagi perannya sebagai seorang ayah mengingat ia mempunyai anak perempuan berusia satu tahun. Ini yang membuat Lingard nampak stres menjalani masalah tersebut.

“Saya biasanya orang yang ceria dan ingin tersenyum pada orang-orang tapi orang-orang melihat ada perubahan dalam diri saya. Saya jatuh dan merasa sangat muram. Aku merasa semua orang memberikan beban yang luar biasa kepadaku untuk diselesaikan sendiri,” kata Lingard kepada Daily Mail.

“Ibu saya sakit bertahun-tahun tapi tidak pernah mendapatkan bantuan. Beruntung sekarang ada adik-adik saya yang menjaga. Sekarang, saya merawat adik laki-laki dan perempuan saya. Sulit melihat orang yang saya cintai berjuang sementara saya harus menjalani tugas dan pekerjaan saya.”

Salah jika berpikir masalah Lingard hanya berhenti sampai di situ. Sebelumnya, kakek Lingard menderita kanker prostat. Ini mungkin menjadi kabar yang membuatnya terpukul mengingat kakeknya adalah sosok yang berpengaruh terhadap kariernya. Selain itu, bibinya juga harus menjalani operasi amputasi kaki.

Masalah yang membuatnya enggan menceritakan hal tersebut. Bisa dimaklumi mengingat ia mungkin tidak ingin orang lain merasakan kesedihan yang sama atau ia tidak berani melakukannya karena masalah ini cenderung sensitif. Namun menanggung beban sendiri membuat ia kehilangan sesuatu yang berharga yaitu kepercayaan dari para penggemar dan tempat di tim nasional Inggris. Perlu diingat kalau ia sudah tidak dibawa dalam beberapa pertandingan internasional tim Tiga Singa. Staf United juga tidak tahu kalau Lingard memiliki masalah yang besar. Mereka hanya tahu kalau ia kini sedang dalam performa yang menurun.

Masalah tersebut merembet ke dalam lapangan. Ia terpapar kritik yang sangat deras. Penggemar, legenda, orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan Setan Merah juga ikut mencercanya. Ia dicap tidak fokus kepada sepakbola dan memilih mengembangkan brand pribadinya sekaligus aktif sebagai YouTuber. Tidak banyak yang percaya kalau ia berjanji untuk mengutamakan sepakbola.

Pada akhirnya Lingard tidak sanggup menyimpan beban itu sendiri. Dia butuh seseorang yang bisa menjadi pendengar yang baik. Dengan bercerita kepada orang lain, maka hati dan perasaan kita bisa semakin tenang dan melunak. Dengan cerita, maka seseorang bisa menyadari kalau dia tidak sendiri.

“Saya adalah orang yang lebih baik menyelesaikan segala masalah sendiri. Saya selalu menggunakan ungkapan “Jadilah dirimu sendiri” tapi ada waktu ketika saya sadar kalau ada saat Anda tidak bisa menjadi diri sendiri. Meski Ayah dan kakak tertua saya memberi banyak dukungan, namun hati saya sudah sangat hancur,” katanya.

Peran Penting Ole Gunnar Solskjaer

Ketika United masih dipimpin Sir Alex Ferguson, banyak sekali pemain yang sering curhat kepadanya untuk menceritakan segala permasalahan yang ada. Bahkan tidak jarang persoalan di luar tim kerap dibicarakan secara langsung. Fergie nantinya bertugas sebagai pemberi saran dan motivator untuk membantu anak-anak didiknya keluar dari permasalahan tersebut. Hal ini yang membuatnya begitu dihormati. Bahkan Cristiano Ronaldo masih sering curhat kepada Fergie meski ia sudah bermain untuk Real Madrid.

Lingard punya Solskjaer sebagai orang yang mau mendengar keluh kesahnya. Beruntung pria Norwegia tersebut dikenal sebagai sosok yang ramah dan mau menyesuaikan diri dengan sikap para pemainnya yang kerap labil karena usia muda. Ketika Lingard mendapat masalah soal video yang heboh pada musim panas lalu, Solskjaer memilih untuk tenang dan memaklumi. Sikap santai yang membuat Lingard akhirnya meminta maaf. Beruntung, hal itu tidak membuatnya kehilangan tempat di tim utama bahkan sempat mendapat ban kapten.

“Ketika masalah video itu muncul, saya langsung merasa kalau United tidak akan lagi memakai jasa saya. Ole hebat dalam manajemen manusia. Ia memberikan saya ban kapten lalu memainkan saya melawan Spurs dan City. Ia hanya berkata untuk bermain dengan senyum karena saya dilahirkan untuk sepakbola.”

“Segala masalah itu tidak membuatnya marah. Dia berkata kalau semuanya baik-baik saja dan mungkin Solskjaer paham akan masalah saya ini dan mungkin saja hanya butuh orang yang bisa mengerti saya. Dia hanya ingin Jesse yang lama kembali dan mungkin aku bisa memberikannya sekarang.”

Tidak ada kata terlambat untuk menjadi dewasa dan Jesse Lingard sedang berusaha untuk bergerak ke arah sana. Apa yang dia alami selama musim panas menjadi bahan refleksi untuk kariernya yang lebih baik lagi. Ia sudah berjanji untuk mengurangi aktivitasnya di media sosial dan mulai selektif untuk memilih mana konten yang tepat untuk diunggah dan mana yang tidak serta waktu yang tepat untuk mengunggah konten tersebut.

Sejatinya, Lingard hanya butuh dukungan dari orang-orang disekitarnya. Termasuk kita semua selaku penggemar Manchester United.

Comments

Loading...