OUR NETWORK

Hantu Karier Pemain Muda: Ketidakjelasan Kontrak

Terdapat empat pemain Manchester United yang kontraknya berakhir pada akhir pekan lalu, seiringan dengan tanggal 1 Juli yang sudah datang ke permukaan. Maka tak heran jika masa depan karier mereka pun sekarang berada di tepi jurang.

Di atas kertas, 1 Juli adalah tanggal besar dalam kalender sepakbola. Karena di tanggal tersebut adalah hari di mana jendela transfer internasional dibuka. Meski biasanya pemain-pemain yang sudah direkrut sebelum tanggal ini, akan tetap secara resmi pindah ke klub baru mereka. Selain itu, adapun pemain-pemain yang kontraknya berakhir, akan mengalami hal yang serupa. Tapi berbeda nasib. Karena mereka langsung menjadi pemain free agent di tanggal tersebut.

Tetapi, ada sedikit kenyataan yang berbeda untuk beberapa pemain berseragam Manchester United. Anda hanya perlu melihat apa yang terjadi di Old Trafford dalam beberapa pekan terakhir. Pasti semua hal yang belum diketahui bisa terjawab dengan mudah. Bulan lalu saja, United telah merilis daftar pemain yang akan dipertahankan klub, dan juga memastikan daftar delapan pemain yang akan meninggalkan klub serta tujuh pemain yang akan ditawari perpanjangan kontrak baru.

Untuk sebagian besar dari mereka yang berada di kelompok terakhir (pemain yang akan ditawari kontrak baru), tawaran kontrak telah ada di ‘meja’ untuk beberapa waktu karena biasanya pemain akan mempertimbangkan faktor-faktor penting seperti bermain di tim pertama, panjang durasi kontrak, dan ketentuan tambahan yang lain.

Dean Henderson, misalnya. Ia memutuskan untuk tetap bertahan di Manchester United. Padahal, usianya masih 21 tahun. Kariernya masih panjang. Pilihannya adalah meninggalkan United atau memperpanjang kontrak tetapi dipinjamkan ke klub Divisi Championship. Maka, sangat wajar masa depan kariernya pun menjadi abu-abu ketika melihat bagaimana situasi penjaga gawang muda tersebut.

Baca juga: Kontrak Baru Dean Henderson di Manchester United

Hal-hal lain soal perpanjangan kontrak ini juga dialami pemain United lain seperti Marouane Fellaini. Meski situasinya berbeda, akan tetapi nasibnya sama-sama berada ujung jurang. Pemain asal Belgia itu, tidak diragukan lagi, menjadi pemain kesayangan berharga Jose Mourinho.

Namun ia terancam meninggalkan klub karena tak kunjung mendapatkan kesepakatan kontrak baru selama beberapa bulan terakhir. United pun terlihat kocar-kacir menyikapi hal ini. Meski pada akhirnya, MU memperpanjang kontrak Fellaini selama dua tahun.

Baca juga: Problematikan Perpanjangan Kontrak Marouane Fellaini

Maka sangat masuk di akal jika situasi semacam itu dapat menyebabkan banyak kecemasan bagi para pemain muda. Banyak dari mereka yang telah menghabiskan sebagian besar hidup mereka memimpikan bermain bersama United. Bahkan pemain-pemain seperti Indy Boonen, Tosin Kehinde, Ethan Hamilton, Callum Whelan, dan Zak Dearnley, mereka semuanya tahu akan hal itu.

Contohnya Indy Boonen, pemain yang pertama kali mengalami musim ‘frustrasi’ bersama United sebagai pemain cadangan dan harus memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya setelah kontraknya berakhir. Kala itu ia langsung mendapat peluang bergabung dan masuk ke tim utama klub bernama KV Oostende. Kemudian, situasi lain juga dialami pemain seperti Hamilton, Kehinde, Dearnley dan Whelan, yang habis kontraknya tapi diam saja meski telah menjadi pemain free agent berdurasi panjang.

Situasi-situasi soal kontrak pemain ini memang telah banyak memakan ‘korban’. Tapi setelah ditelaah, ternyata, ada satu hal yang harus diketahui oleh para calon pemain muda United. Secara potensial, sebenarnya mereka tidak perlu bingung untuk menyelamatkan karier saat berada di bawah usia 24 tahun seperti yang mereka alami ketika masih terikat kontrak dengan United. Meski memang semua hal tersebut akan memunculkan beberapa keputusan sulit setelahnya.

Baca juga: Sam Johnstone yang Akhirnya Lelah Menunggu

Tapi, situasi sulit itu akan berakhir dengan kebebasan jika mereka berani untuk memutuskan hengkang dari Old Trafford. Karena secara logika, para pemain muda biasanya lebih menginginkan masa depan yang jelas ketimbang kejelasan kontrak yang belum tentu dapat menjadi jaminan bahwa mereka akan bermain untuk tim pertama.

Situasi inilah yang seharusnya dipikirkan para pemain muda United yang kariernya berada di ujung jurang. Mereka harus lebih visioner. Bahkan persoalan ini tampak pas untuk menggambarkan keadaan Tosin Kehinde, pemain yang telah bersama United selama tujuh tahun dan menarik minat klub-klub Eropa seperti Barcelona B, Fenerbahce, Anderlecht, Amiens, Red Bull Salzburg dan SK Brann. Namun ia masih belum berani memutuskan masa depan meski kariernya di United berada di ujung tanduk.

Bahkan, salah satu kerabat dekat Tosin yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan jika problematika kejelasan kontrak ataupun masa depan yang ditawarkan United kepada Tosin bisa mudah berubah menjadi situasi yang anti-klimaks.

“Situasi seperti ini sedikit berubah menjadi anti-klimaks. Padahal, seluruh kontrak dengan United sudah kadaluwarsa. Namun, Tosin sekarang butuh fokus untuk berbicara dengan semua klub yang memiliki minat padanya tanpa campur tangan dari United,” tutur seorang narasumber yang dekat dengan Tosin Kehinde dikutip dari Manchester Evening News.

“Tapi ketika waktu itu tiba, bisa jadi Tosin mencapai kesepakatan dengan satu klub, dan lalu memberi taunya kepada United. Pada saat itu pula, keputusan besar ada dalam kendali mereka. Ini membingungkan. Tapi jelas akan sangat sulit bagi mereka untuk meyakinkan Tosin agar tetap tinggal di Old Trafford. Karena jelas kontraknya akan habis di akhir jendela transfer. Setelah semua itu selesai, Tosin akan merasa dirinya bebas dari ketidakjelasan kontrak tersebut.”

Ketidakjelasan memang sejatinya menjadi hal yang mengganggu bagi sebagian orang. Dan jika menyikapi persoalan-persoalan ini, tampaknya United harus memperbaharui sistematika perpanjangan kontrak para pemain, khususnya para pemain muda, agar ketidakjelasan tidak lagi menjadi ‘hantu’ bagi karier para pemain. Terlebih lagi, pembaharuan sitematika perpanjangan kontrak tersebut juga diperuntukkan supaya kualitas klub dan manajemen pemain bisa saling berkontribusi untuk merealisasikan visi misi klub ke depannya.

 

Sumber: Manchester Evening News

Comments