OUR NETWORK

Fenomena “Sayang Ole” Yang Tidak Hanya Sekadar Lelucon

Para penggemar Manchester United, khususnya di Indonesia, pasti pernah mendengar atau membaca kalimat seperti ini: “Kami sayang Ole”, “Semua sayang Ole”, hingga “Satu kecamatan sayang Ole”. Mayoritas kalimat ini kerap kita temui pada kolom komentar berita-berita di akun Fanpage penggemar Setan Merah.

Reaksi beragam muncul dari para penggemar United. Ada yang merasa lucu dan menganggapnya sebagai sebuah lelucon, namun tidak sedikit pula yang merasa muak karena mereka bisa melihat lebih dari sepuluh kalimat serupa yang dikeluarkan oleh orang yang berbeda-beda. Entah siapa yang pertama kali membuat dan memperkenalkan kalimat tersebut, namun yang pasti kalimat ini begitu identik dengan sosok Ole Gunnar Solskjaer.

Sebenarnya, kalimat ini seutuhnya tidak memiliki arti yang sesuai harfiah. Ketika pertama kali dibuat, ada kesan satire pada kalimat tersebut. Ya, kalimat “Semua sayang Ole” di sini lebih bermakna sebagai sindiran bagi pahlawan United pada final Liga Champions 1998/99 tersebut.

Hal ini disebabkan status Solskjaer yang seolah untouchable alias tidak tersentuh dengan hal-hal yang berbau negatif. Contoh paling sederhana adalah soal kritik. Mantan manajer Molde ini nampak tidak boleh mendapat kritik tajam dari para penggemarnya. Mereka yang mengkritik, maka siap-siap dihajar oleh penggemar yang lain dengan panggilan suporter karbitan.

Ketika mendapat hasil yang kurang baik, maka Solskjaer sebisa mungkin tidak akan mengkritik kinerja timnya. Meski di atas lapangan penampilan timnya amburadul, namun ia lebih memilih untuk menyebut kalau timnya kurang beruntung atau ketika ia berkata kalau United kalah karena tidak mendapat bantuan yang sifatnya magis.

Kesan “sayang Ole” juga terlihat dari aktivitas para pundit yang sedikit melunak ketika Solskjaer memegang kursi kepelatihan Setan Merah. Paul Scholes adalah salah satu contoh pundit yang sedikit mengatur tata kalimatnya ketika ia sedang mengomentari Solskjaer. Tidak ada kalimat tajam dan ketus layaknya saat ia mengkritisi penampilan United bersama Louis van Gaal dan Jose Mourinho.

“Performa buruk United ini tidak akan diterima oleh Solskjaer dan para stafnya. Jika Ole ingin membangun klub ini, maka dia harus memberi hasil. Anda tidak bisa kehilangan poin terus. Dia harus menunjukkan perkembangan tim ini. Kini mereka tertinggal beberapa poin daari tim empat besar yang terlihat lebih baik ketimbang United sekarang,”

Ucapan Scholes memang terdengar masih mengkritik kinerja rekan setimnya tersebut. Namun isi kalimatnya jelas lebih enak didengar ketimbang saat ia menyebut filosofi Van Gaal tidak ada guna atau ketika menyebut Jose Mourinho sebagai sosok yang memalukan dan merekayasa kepergiannya dari United.

Fenomena “Sayang Ole” Yang Benar-Benar Ada

Meski begitu, fenomena “Sayang Ole” ini nampak benar-benar terjadi dalam tubuh Manchester United. Hal ini tidak lepas dari situasi yang terjadi pada klub ini dalam sepekan terakhir. Sebelum Solskjaer bersiap menyambut dua laga besar melawan Tottenham Hotspur dan Manchester City, aura-aura pemecatan nampak sudah muncul. Hal ini tidak lepas dari hasil buruk yang diterima klub dalam tiga laga terakhir melawan Sheffield United, Astana, dan Aston Villa.

Bahkan penampilan berantakan ketika melawan Aston Villa membuahkan hasil berupa tanda pagar #OleOut yang berada dalam jajaran trending topic worldwide. Situasi ini kemudian semakin panas setelah muncul kutipan Ed Woodward dalam majalah United We Stand ketika menyebut bisa saja ia memecat pelatih jika hal itu memang benar-benar dibutuhkan.

“Memecat manajer bukan perbuatan yang menyenangkan untuk dilakukan. Anda tentu berharap untuk tidak lagi melakukannya. Namun saat Anda perlu melakukannya, maka Anda harus melakukan pemecatan tersebut. Namun hal itu bukan pengalaman yang menyenangkan untuk semua pihak,” ujarnya.

Woodward sendiri disebut-sebut sudah bertatap muka dengan Solskjaer dan memberi batas berupa dua laga melawan Spurs dan City sebagai penentu nasib mantan juru taktik Molde tersebut. Kalah, maka Solskjaer akan out dari klub yang membesarkan namanya tersebut.

Hal ini kemudian memantik para pemain United untuk bersikap. Dilansir dari Daily Star, segelintir pemain mulai menemui Ed Woodward dan memohon untuk tidak membuat langkah yang ceroboh untuk memecat Solskjaer. “Memang tidak diragukan kalau beberapa anggota tim mulai frustrasi dengan cara mereka bekerja untuk manajer. Namun ada perasaan kuat antara keduanya untuk membuat masalah ini cepat selesai,” tutur salah satu sumber dalam klub tersebut.

Setelah isu tersebut muncul, permainan United mendadak membaik. Lawan yang dianggap berat tersebut justru bisa dikalahkan dengan skor 2-1. Bahkan kemenangan melawan City terasa spesial karena terjadi di kandang lawan dan dalam atmosfer derby.

Salah satu penggawa United, Scott McTominay tidak menutupi adanya fakta kalau mereka memang bermain sepenuh hati untuk Solskjaer karena para pemain menyukai dan mencintai mantan pelatih tim cadangan United tersebut.

“Tugas kami sebagai pemain adalah melakukan yang terbaik untuknya dan semoga kami bisa tampil baik untuknya. Karena kami sangat mencintainya. Kami juga sangat mencintainya sebagai kelompok. Mudah-mudahan kami dapat mulai menampilkan permainan terbaik yang pantas kami dapatkan,” Katanya.

Ucapan McTominay bisa tercermin dari dua laga melawan Spurs dan City. Tidak hanya dari segi hasil, permainan United juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Dimulai dari laga melawan Spurs ketika mereka sukses tampil dominan dan penampilan antar lini cukup baik. Ketika melawan Manchester City, Solskjaer menghukum tuan rumah dengan strategi serangan balik yang cerdik meski sepanjang laga mereka bermain menunggu. Enam poin yang menyelamatkan Solskjaer untuk sementara.

***

Munculnya rasa sayang para pemain kepada Solskjaer mungkin tidak lepas dari kepribadian sang manajer sendiri yang menonjolkan citra dirinya sebagai orang yang baik, optimis, dan murah senyum. Hal ini yang mungkin membuat para pemain senang dan tidak tertekan ketika berada di atas lapangan. Akan sangat berbeda mungkin apabila United masih dipimpin oleh Louis van Gaal atau Jose Mourinho.

Sebuah anomali mengingat di bulan yang sama setahun sebelumnya, muncul isu kalau para pemain United bekerja sama untuk bermain seadanya agar klub bisa dengan cepat melengserkan Jose Mourinho. Misi tersebut berhasil dengan dipecatnya Mourinho sehari setelah United dikalahkan Liverpool di Anfield.

Kini, tugas Solskjaer tinggal memaksimalkan rasa sayang yang diberikan kepadanya dari penggemar, pemain, manajemen, dan para pundit yang merupakan mantan rekan setimnya, Caranya adalah dengan terus memberikan kemenangan bagi United dan mendatangkan satu atau dua gelar pada musim penuh pertamanya. Jika itu bisa dilakukan, maka bukan tidak mungkin Solskjaer mendapatkan cinta murni 100 persen dari seluruh penggemar United layaknya yang mereka berikan kepada Sir Matt Busby dan Sir Alex Ferguson.

Comments

Loading...