OUR NETWORK

Di Balik Performa Chelsea (Bagian 1): Awalan Sulit Antonio Conte

Chelsea berhasil memuncaki klasemen sementara Premier League dengan raihan 43 poin dari 17 laga yang sudah dimainkan. Performa gemilangnya adalah bentuk utuh dari potongan-potongan keunggulan yang menyatu dan menghasilkan sebuah prestasi hebat: memenangi 11 pertandingan liga secara beruntun. Lawan-lawan berat seperti Manchester City, Manchester United, dan Tottenham Hotspur.

Pertanyaan yang akan muncul jika suatu tim bisa se-superior itu tentunya bagaimana cara mereka melakukan itu? Apa sebenarnya keunggulan mereka? Jika dijabarkan, ada beberapa hal yang membuat The Blues bisa memuncaki klasemen dan sulit dikalahkan. Salah satu alasannya adalah kehadiran Antonio Conte.

Conte resmi dikontrak tiga tahun oleh Chelsea pada 4 April 2016. Ia menggantikan Guus Hiddink yang sebelumnya menggantikan Jose Mourinho. Kedatangannya ke Stamford Bridge diharapkan mampu menaikkan performa Chelsea yang hanya finis di peringkat ke-10. Padahal musim sebelumnya mereka meraih gelar juara. Tidak perlu dipertanyakan lagi, Conte memiliki pekerjaan rumah yang begitu banyak.

Namun, sebelum berbicara mengenai apa yang Conte lakukan kepada Chelsea dan segala kelebihannya, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu asal muasal pria Italia ini. Karena masa lalunya berperan besar dalam segala kemampuan yang dimilikinya saat ini.

Ia lahir dan tumbuh di sebuah kota bernama Lecce. Sejak kecil ia memang sudah menyukai sepakbola. Conte sering bermain sepakbola di jalanan. Jalanan memegang peran penting terhadap pembangunan karakter seorang Antonio Conte. Menghabiskan banyak waktu di jalanan membuat ia belajar hidup mandiri dan bekerja keras.

“Ketika seseorang hidup dalam kenyamanan, maka ia akan malas bekerja dan meraih sesuatu yang ia inginkan. Ketika saya hidup di jalan, saya belajar banyak hal. Mengambil bola di atas pohon, meski harus memanjat pohon tersebut, memberikan saya pelajaran bahwa jika ingin mendapatkan apa yang kita inginkan, kita harus berkorban,” ujarnya.

Soal sepakbola, Conte mengawali karier sepakbolanya bersama U.S. Lecce. Sembari bermain, Conte juga melatih tim dari saudaranya. Di sanalah pertama kali ia bermimpi menjadi pelatih. Conte menjadi pemain profesional untuk Lecce dan Juventus selama 19 tahun. Ia menjadi pemain penting bagi Juve dengan total 418 penampilan dan 43 gol dalam 13 tahun pengabdiannya pada Si Nyonya Tua. Conte juga sempat mencicipi pertandingan bersama timnas Italia dalam 20 kali kesempatan. Pada 2004, ia memutuskan untuk pensiun di usia 35 tahun.

Keinginnanya yang tinggi untuk menjadi pelatih membuat ia mengikuti kursus kepelatihan di Coverciano, sebuah pusat pelatihan ternama yang menghasilkan banyak pelatih hebat seperti Carlo Ancelotti, Marcelo Lippi, Fabio Capello, dan Maximilliano Allegri. Saat menjalani studi disana, ia juga menjadi asisten manajer di Sienna pada musim 2005/2006.

Italia memang surganya manajer yang handal dalam taktik. Coverciano apalagi. Syarat kelulusannya saja harus membuat sebuah karya ilmiah tentang taktik sepakbola. Karya Conte sendiri membahas evolusi menarik tentang pengembangan formasi 3-5-2 khas Italia, yang ia rumuskan sedemikian rupa dari formasi favoritnya, 4-2-4.

Pada Juli 2006, ia diperkenalkan sebagai manajer baru Arezzo, kesebelasan Serie B kala itu. Setelah itu, ia sempat berpindah-pindah klub ke Bari, Atlanta, dan Sienna. Sebelum akhirnya diresmikan sebagai manajer Juventus pada 2011 menggantikan Luigi Delneri. Ia sukses menjuarai Serie A di tiap musimnya hingga 2014. Conte memutuskan untuk berhenti melatih Andrea Prilo dkk., dan bergabung bersama Timnas Italia.

Namun, karier pelatih yang kini berusia 47 tahun tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat sederet lika-liku yang harus dihadapinya. Bersama Arezzo, ia dipecat setelah hanya tiga bulan diberi kesempatan. Saat menukangi Bari, ia sempat mengeluarkan pernyataan kepada publik bahwa ia ingin melatih Juventus yang kala itu baru memecat Claudio Ranieri. Tapi Juventus tidak memilihnya.

Kala menangani Atlanta, ia sempat menghadapi masa sulit yang berujung pada protes keras dari suporter. Pada Januari 2010, ia bahkan sampai dikawal polisi seusai pertandingan melawan Napoli untuk menghindari pertengkaran dengan suporter. Sehari kemudian, ia mengundurkan diri. Perjalan panjangnya itu memberi Conte banyak pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran-pelajaran yang hasilnya dapat dilihat sekarang kala membesut Chelsea.

Baca juga: Di Balik Performa Chelsea (Bagian 2): Kerja Keras dan Orientasi Akhir

Comments

Loading...