OUR NETWORK

Carlos Tevez di Tengah Dua Kutub Manchester

Musim 2007/2008 merupakan salah satu musim terbaik dari sekian banyak tahun-tahun terbaik Manchester United di Inggris maupun di Eropa. Mereka meraih dua gelar prestisius yaitu Premier League dan Liga Champions. Mereka sebenarnya bisa mengulang pencapaian 1998/1999 jika berhasil mengalahkan Portsmouth pada perempat final Piala FA.

Salah satu resep kesuksesan United saat itu adalah lini depan. Mereka punya tiga striker yang begitu berbahaya bagi lawan dalam diri Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, dan Carlos Tevez. Total ada 79 gol yang dibuat ketiganya di semua kompetisi yang diikuti.

Perekrutan El Apache saat itu menjadi perekrutan krusial. Kehilangan Louis Saha yang sering cedera dan Ole Gunnar Solskjaer yang pensiun, membuat United butuh tambahan satu pemain depan yang lincah dan mempunyai naluri gol yang baik. Tevez kemudian direkrut dengan status pinjaman selama dua musim.

Sayangnya, penyerang Argentina ini tidak berjodoh dengan United. Ia hanya menjalani kariernya di United sebagai pemain pinjaman. Tidak ada kelanjutan ia direkrut permanen. Sebaliknya, ia memutuskan untuk menerima tawaran besar Manchester City. Inilah yang membuat hubungan Tevez dengan penggemar United menjadi memanas. Ditambah dengan kasus Billboard yang bertuliskan “Welcome to Manchester”.

Keadaan diperparah dengan aksi Tevez yang mengangkat papan bertuliskan ‘RIP Fergie’ ketika City merayakan gelar Premier League pertama atau gelar ketiga Tevez selama di Inggris. Meski Tevez sudah meminta maaf, namun ia sudah kehilangan hormat dari pendukung United sejak memilih untuk memperkuat City.

Gary Neville adalah salah satu orang yang cukup kecewa dengan keputusan Tevez. Namun, bau-bau goyahnya hubungan si pemain dengan klub sebenarnya sudah terjadi pada musim keduanya bersama United. Tevez saat itu mulai berulah dan tidak lagi menunjukkan profesionalitas dia di tempat latihan. Ditambah dengan hasutan orang-orang di dekatnya.

“Apa yang mengganggu saya adalah Tevez berulah di musim keduanya. Saya kecewa karena dia bertindak tidak benar. Ia mulai duduk di bangku perawatan, kerap terlambat dalam sesi latihan dan mulai suka main-main. Saya tidak tahan karena saya ada di situ, orang United yang ganas, yang hanya memikirkan United setiap harinya,” kata Gary kepada Sky Sports.

“Saya paham situasinya, dan orang-orang selalu memengaruhinya setiap saat dan ia juga dikendalikan oleh orang-orang dia. Ini akan selalu berakhi seperti ini. Saya merasa kecewa, sebagai profesional, dia tidak bersikap dengan benar. Urusan dia pergi ke City bukan masalah saya. Masalahnya sikap dia dalam beberapa bulan terakhir, saya tidak suka itu,” katanya menambahkan.

Balasan Dari Kia Joorabchian

Sindiran Gary mengundang orang-orang di lingkungan Tevez untuk membalas ucapannya tersebut. Kia Joorabchian, sang agen, langsung pasang badan melindungi klien-nya. Kia balik bertanya apakah Gary dekat dengan Tevez selama di United. Sebaliknya, Kia menyebut kalau Tevez memang sudah tidak betah main untuk United.

“Sikap Tevez tidak ada yang salah. Dia hanya putus asa untuk bermain. Justru Gary yang harus ditanyakan karena tidak menjawab ketika ditanya mengapa Tevez tidak profesional. Dia tidak pernah menghubungi lewat telepon dan bertanya apa yang terjadi. Tiba-tiba dia berkata seperti itu,” ujar Kia. “Perkataannya mencoreng apa yang dilakukan Tevez terhadap dua sampai tiga piala yang diraih tim.”

Ucapan Gary sebenarnya diiyakan oleh Sir Alex ketika dalam buku autobiografinya ia menyinggung masalah Tevez yang selalu ingin istirahat dalam latihan dengan alasan betisnya pegal. Meski begitu, Fergie memaklumi Tevez karena dia mengimbanginya dengan hasrat dan antusiasme di atas lapangan.

Ferguson yang Dibikin Ruwet Oleh Tevez

Sebelum bermain untuk City, kesebelasan milik Sheikh Mansour tersebut adalah tim terakhir yang gawangnya ia bobol untuk membawa United meraih kemenangan. Gol tersebut memancing suporter untuk mengeluarkan chant “Fergie, sign him up” untuk meminta Tevez benar-benar dipermanenkan. Fergie sendiri menolak membahas masa depan si pemain dan menyebut kalau Tevez adalah pemain United.

Ketika merekrut Tevez, Fergie sudah mendapat firasat kalau status Tevez yang hanya dipegang oleh orang ketiga, dan bukan agen, akan membuatnya berada dalam masalah sulit. Meski begitu, Fergie mencoba berpikir positif dan melihat dampak yang akan diberikan si pemain di atas lapangan saja.

Nasib Tevez pelan-pelan berubah dari andalan menjadi terbuang mengingat United juga merekrut Dimitar Berbatov setelah meraih Liga Champions. Disinilah Fergie mulai ragu apakah ingin mempertahankan Tevez atau melepasnya mengingat ia tidak punya kewajiban untuk membelinya secara permanen jika membaca dalam bukunya. Namun David Gill ditekan oleh pihak Tevez untuk memberi jawaban secepatnya.

“Bilang saja ke mereka, saya mencoba memberi dia kesempatan agar kami bisa menilainya dengan baik. Ini juga dikarenakan Dimitar Berbatov mulai sering kami mainkan,” tutur Fergie dalam bukunya.

Setelah final Liga Champions, Tevez berbicara kepada Ferguson dan berkata kalau United tidak punya keinginan untuk mempermanenkan dia. Fergie sendiri membalas ucapan Tevez dengan menyebut kalau dia harus melihat dulu kiprah si pemain selama 2008/2009 sebelum mengambil keputusan final. Gill sendiri sudah menyiapkan 25 juta paun meski kubu Tevez tidak setuju dengan nilai tersebut.

“David (Gill) menawarkan 25 juta paun untuk dia, tapi sepengetahuan saya David seperti bicara dengan tembok. Kami kemudian berpikir kalau dia sudah memikirkan untuk pindah klub,” kata Fergie.

Momen inilah yang dimanfaatkan City untuk masuk ke perburuan Tevez. Dengan kekuatan uang Uni Emirat Arab, mereka berhasil membawa Tevez balik arah ke sisi biru dengan nilai 47 juta paun. Ferguson sendiri juga berkata kalau Chelsea siap membeli Tevez dengan nilai 35 juta paun. Dua tawaran tersebut jelas jauh lebih besar dari tawaran United. Ini yang kemudian membuat Fergie pasrah kehilangan Tevez.

“Status Tevez yang dipegang pihak ketiga membuat kami bingung untuk negosiasi. Jika harganya hanya 25,5 juta paun, saya mungkin sudah membelinya. Sayangnya, City mengalahkan kami. Sekalipun dia pemain yang bagus, saya tidak sanggup untuk membelinya dengan harga setinggi itu,” kata Fergie.

***

Musim panas 2009 memang menjadi musim yang sulit bagi United. Selain kehilangan Tevez, mereka juga kehilangan Cristiano Ronaldo. Trio maut yang menurut Gary Neville terbaik di dunia melebih trio Liverpool (Mane, Salah, dan Firmino) dan City (Sterling, Sane, Aguero) itu akhirnya berakhir.

Comments

Loading...