OUR NETWORK

Alasan Mengapa Kita Harus Merelakan Kepergian Schneiderlin

Nama Morgan Schneiderlin semakin jarang terlihat di skuat United musim ini. Sekalinya terdengar, kini dikabarkan ia sudah meminta izin untuk pindah klub kepada Jose Mourinho. Menanggapi permintaan tersebut Mou pun mengatakan sudah merelakan Schneiderlin untuk pergi mencari klub lain. Dilansir dari laman resmi Manchester United, Mou mengatakan bahwa dirinya tak berhak untuk menahan Schneiderlin pergi.

“Jujur, sudah beberapa kali ia membuka diri kepada aku soal ini. Jawaban saya sederhana saja, jika dia (Schneiderlin) bermain secara reguler saya punya hak untuk mengatakan tidak. Jadi jika penawarannya tepat untuk pemain berkualitas seperti Morgan, saya tidak akan menghalanginya,” jelas Mou.

Dikabarkan West Bromwich Albion adalah klub yang terdepan soal isu kepindahan Schneiderlin. Mereka menyiapkan tawaran sekitar 13 juta pounds pada Jumat lalu. Sedang klub lain yang juga ikut dalam perlombaan ini adalah Everton yang ditukangi mantan manajer Schneiderlin di Southampton dahulu, Ronald Koeman.

Terlepas dari klub mana yang nanti akan meminang jasa Schneiderlin, tampaknya kita perlu mengulas alasan di balik mengapa Schneiderlin ingin pindah dan kenapa United membelinya pada tahun 2015 lalu. Padahal belum genap dua musim Schneiderlin berseragam United. Berikut ulasannya.

Mengapa Schneiderlin Dibeli Pertama Kali?

Seperti pepatah mengatakan, setiap ada asap pasti ada apinya. Tak mungkin Schneiderlin diboyong tanpa maksud, atau untuk penghias bangku cadangan saja. Pria asal Perancis ini tepatnya diboyong ke Manchester United pada Juli 2015 lalu, dengan banderol 24 juta paun serta klausul penambahan nilai tiga juta pound.

Kedatangannya digadang-gadang menjadi jawaban atas persoalan lini tengah Manchester United yang mendapat sorotan tajam kala itu. Pada musim 2014/2015, di bawah Louis van Gaal, posisi gelandang tengah United diisi oleh Marouane Fellaini, Michael Carrick, Daley Blind, Ander Herrera, Tom Cleverley, dan Juan Mata. Meski berhasil mengembalikan derajat United ke empat besar, Van Gaal merasa belum cukup dengan lini tengahnya. Kehadiran Herrera dan Blind belum bisa memuaskan, apalagi Blind sesekali di plot sebagai bek pada musim itu. Belum lagi usia Michael Carrick yang terbilang tak muda dan cedera makin sering menghampirinya.

Schneiderlin merupakan tipe gelandang bertahan dengan catatan tiga tekel perpertandingan pada musim 2014/2015 bersama Southampton. Jika dibandingkan dengan Carrick yang memiliki posisi serupa, hanya satu tekel per pertandingan yang berhasil disumbang untuk United. Tidak hanya urusan sapuan di lapangan, Schneiderlin juga unggul dari Carrick dari segi kesuksesan operan, dengan catatan 52,85 poin. Unggul 0,02 poin dibandingkan Carrick pada musim 2014/2015. Sehingga Schneiderlin dirasa cocok untuk menjadi “jangkar” United masa depan. Selain aktif dalam hal sapuan, Schneiderlin juga mampu menjadi mandor dalam urusan operan laiknya Carrick di masa jayanya.

Performa Southampton semenjak promosi ke tingkat teratas Liga Inggris memang tak bisa dianggap remeh. Schneiderlin bersama Rickie Lambert, Luke Shaw, dan Adam Lallana, berhasil membawa The Saints sebagai salah satu klub 10 besar di Liga Primer Inggris semenjak promosi pada 2012.

Pelatih The Saints saat itu, Ronald Koeman, menyanjung tinggi performa pria dengan tinggi 181 cm tersebut. Dengan mengatakan bahwa kualitas Schneiderlin sudah tak perlu dipertanyakan lagi.

“Semua orang tahu kualitas yang dimiliki oleh Schneiderlin. Jika mereka (klub-klub yang mengincar Schneiderlin) mencari pemain dengan posisi yang biasa dimainkan Schneiderlin, maka itulah yang terbaik untuknya. Apalagi ia masih muda, sudah memiliki caps internasional, dan dia akan terus berkembang daripada sebelum-belumnya,” sebut Koeman pada The Guardian.

Salah satu faktor lain yang membuatnya diboyong ke United adalah Kevin Strootman. Tadinya, Strootman merupakan target paling atas United untuk lini tengah. Namun naas, cedera ligamen yang dialami Strootman membuat Van Gaal ragu untuk memboyongnya.

Performa United dan Schneiderlin di Musim 2015-2016

Musim 2015/2016 merupakan musim terakhir Van Gaal berada di United. Meski menjuarai Piala FA, tampaknya manajemen United terlalu sakit hati The Red Devils keluar dari zona Liga Champions akibat cuma bertengger di peringkat kelima. United akhirnya mendepak eks pelatih Barcelona dan Ajax tersebut pada bulan Mei lalu.

Urusan mencetak gol memang menjadi kritikan pedas untuk United kala itu. Rooney yang tetiba terserang paceklik, Anthony Martial yang angin-anginan, dan Marcus Rashford yang masih perlu jam terbang. Javier Hernandez dipinjamkan dan pendulang gol United dua musim sebelumnya, Robin van Persie, dilego ke Fenerbache. Namun, lini tengah United pun tidak bisa dibilang sembuh juga dari musim-musim sebelumnya.

Padahal selain kedatangan Schneiderlin, United telah mendapat tenaga berpengalaman dari Bayern Munich, Bastian Schweinsteiger. Walau pada pertengahan musim, cedera harus membuat Schweinsteiger menepi cukup lama.

Dilansir dari laman analis sepakbola, Squawka, pada musim 2015/2016 perolehan akurasi operan United adalah 83 persen dengan perolehan penguasaan bola (possession) selama satu musim 55 persen. Jika dibandingkan dengan musim sebelumnya, United justru memperoleh hasil yang lebih baik yaitu 86 persen akurasi operan dan 57 persen pada possession.

Schneiderlin sendiri pada musim ini mencatatkan diri sebagai salah satu pemain utama Manchester United. Dari total 30 pertandingan yang dilakoninya untuk United, hanya lima pertandingan sebagai pemain pengganti. Hal ini berbanding lurus jua dengan presentase keberhasilan operannya pada musim ini yang mencapai angka 89 persen, walau dari segi jumlah tekel turun menjadi dua tekel saja per pertandingan. Secara keseluruhan media analis sepakbola whoscored.com menilai performa Schneiderlin turun jika dibandingkan dirinya sewaktu membela Southampton.

Kehadiran Paul Pogba dan Kembalinya Kepercayaan Pada Carrick  

Tak bisa dipungkiri, kehadiran manajer baru bisa menjadi batu loncatan atau justru lubang bagi para pemain. Ditambah lagi, biasanya manajer baru datang dengan sejumlah daftar pemain incaran. Mungkin ini juga yang terjadi pada Schneiderlin pada musim 2016/2017. Total baru lima pertandingan dirinya dipercaya Mou untuk mengisi lini tengah United, dengan tiga di antaranya berangkat dari bangku cadangan.

Skema 4-3-2-1 atau 4-3-3 yang biasa diterapkan Mou dalam beberapa pertandingan sebenarnya tidak menghapus peran yang biasa dimainkan oleh Schneiderlin. Bahkan ada dua slot tempat untuk pemain dengan tugas gelandang “jangkar”. Namun apa daya, pilihan pemain yang lebih dipercaya Mou mungkin menjadi alasan yang paling kuat untuk membangku cadangkan Schneiderlin.

Salah satunya jelas kedatangan pemain termahal dunia saat ini, Paul Pogba dari Juventus pada Agustus lalu. Pogba yang bisa beroperasi baik sebagai gelandang “jangkar” maupun gelandang serang, jelas mengancam posisi Schneiderlin. Dengan banderol 89 juta pounds, tidak mungkin United atau Mourinho hanya berencana untuk membangku cadangkan Pogba.

Faktor lain yang kemudian makin mengikis peluang posisi Schneiderlin adalah kembalinya gelandang gaek United, Michael Carrick. Sempat absen pada awal musim, kini Carrick menunjukkan bahwa dirinya belum habis. Total hingga kini, Carrick telah 13 kali tampil untuk United dengan 12 kali sebagai starter. Dari tujuh pertandingannya di Liga Primer, Carrick sukses melancarkan 58 operan per pertandingan, dengan tingkat kesuksesan mencapai angka 89 persen.

Selain itu ada faktor konsistennya permainan Ander Herrera di lini tengah sebagai pengoyak alur permainan lawan. Dalam beberapa pertandingan terakhir, publik United bisa melihat agresivitas eks pemain Athletic Bilbao ini dalam mengusik permainan lawan. Berlari dari satu sisi ke sisi lainnya. Tak cuma mengganggu, pemain mungil ini juga terbukti pandai memanfaatkan peluang. Tentu masih kita ingat assist briliannya kepada gol perdana Henrik Mkhitaryan saat melawan Tottenham Hotspur 11 Desember lalu.

Mourinho jua lebih memilih menurunkan Fellaini sebagai pemain pengganti untuk gelandang inti United. Walau sempat blunder melawan Everton, Mou tak ragu untuk menurunkan pemain jangkung itu di babak akhir melawan Tottenham menggantikan Herrera.

Dengan sejumlah alasan di atas, tampaknya curahan hati Schneiderlin kepada Mou untuk izin pindah klub adalah hal yang wajar. Toh, usianya yang masih 27 tahun belum terlalu terlambat untuk bisa menunjukkan kebolehannya di klub lain. Semoga keputusan apapun yang diambil adalah yang terbaik untuk Schneiderlin!

Sumber : TheSun.co.uk, whoscored.com, Manutd.com, premierleague.com, dan squawka.com.

Comments

Loading...