OUR NETWORK

Aaron Ramsey dan Penolakannya pada United di Masa Lalu

Dalam beberapa hari terakhir, Manchester United dirumorkan akan merekrut salah satu pemain Arsenal, Aaron Ramsey. Dilansir dari beberapa harian di Britania, Setan Merah akan mencoba mendatangkan pemain yang bisa bermain di tiga posisi di lini tengah tersebut pada Januari nanti.

Meski jarang mendapat kesempatan main dikarenakan rentan mengalami cedera, namun nama Ramsey masih menarik minat klub-klub besar Eropa. Selain United, ada Liverpool, Juventus, Inter Milan, hingga AC Milan yang tertarik menggunakan jasa jebolan akademi Cardiff tersebut. Juventus bahkan disebut-sebut sudah menawarkan pra kontrak kepada Ramsey.

Kontrak Ramsey sendiri akan berakhir pada Mei 2019 mendatang. Kerap buntunya negosiasi perpanjangan kontrak membuat Ramsey bisa bernegosiasi dengan klub lain per 1 Januari mendatang. Melihat banyaknya klub-klub besar yang tertarik kepada Ramsey, membuat United begitu ngebet untuk mendatangkannya pada Januari nanti alih-alih menunggu status Ramsey menjadi free transfer.

Bahkan ada yang menganggap kalau United melakukan keputusan konyol jika merekrut Ramsey. Selain cedera dan mulai tersingkir dari tempat utama, penampilannya pun kerap tidak luput dari kesalahan. Selain itu, United sudah terlalu banyak memiliki gelandang di lini tengah. Matic, Fred, Herrera, Fellaini, Pogba, Pereira, McTominay, Hamilton, dan James Garner adalah nama-nama dalam skuad United saat ini yang berposisi sebagai gelandang tengah.

Bagi beberapa penggemar United, nama Ramsey mungkin tidak terlalu diharapkan untuk datang ke Manchester. Namun untuk United, mendatangkan Ramsey seolah menjadi cara mereka menebus kegagalannya beberapa tahun lalu. Saat si pemain membuat seorang Alex Ferguson frustrasi.

Resmi di Website United, Memegang Jersey di Arsenal

Sebelum promosi ke Premier League pada 2013, musim terbaik Cardiff adalah pada 2007/2008. Ketika itu, mereka secara mengejutkan lolos ke final Piala FA untuk pertama kalinya sejak 1925. Meski kalah dari Portsmouth di partai puncak, namun penampilan Cardiff saat itu cukup mengundang apresiasi.

Ramsey sendiri bermain lima kali di Piala FA dengan salah satunya tampil selama 29 menit di laga final. Akan tetapi, ketertarikan United kepada Ramsey sudah muncul sejak ia bermain apik di babak keenam melawan Middlesbrough. Hal itu yang membuat Ferguson langsung menghubungi Dave Jones selaku manajer Cardiff saat itu.

United sebenarnya terlambat bernegosiasi mengenai Ramsey. Arsenal dan Everton sudah lebih dahulu memberikan penawaran kepada pemain kelahiran Caerphilly ini. Meski demikian, Fergie percaya diri kalau Ramsey akan memilih United karena Ramsey sendiri adalah penggemar Setan Merah semasa anak-anak.

“United adalah kekuatan utama sepakbola Eropa, jika bukan yang terbaik di dunia. Saya yakin, Ramsey bisa pergi ke sana dan memainkan sepakbola yang berharga di masa depan,” tutur Jones saat itu.

Ferguson tampak unggul dari dua pesaingnya tersebut. Ramsey dikabarkan sudah sepakat untuk bergabung dengan United. Ia tinggal melakukan tes medis sebelum sah dijadikan sebagai penggawa United. Mengingat mereka telah selangkah lagi mengikat Ramsey, pihak United pun membuat pengumuman resmi di situs klub mereka.

Sayangnya rasa pede United kemudian menjadi boomerang. Alih-alih melakukan tes medis di Carrington, Ramsey justru mendarat dan telah memegang jersey Arsenal yang menandakan kalau dia sah menjadi pemain the Gunners. Tawaran 5 juta paun dari juara tiga kali Premier League tersebut lebih membuat Cardiff tertarik alih-alih penawaran United.

Terry Burton, Arsene Wenger, dan Kekesalan yang Dirasakan Ferguson

Ada beberapa alasan mengapa Ramsey menolak bergabung dengan United. Salah satunya adalah isi kontrak United yang tidak mengizinkan Cardiff untuk meminjam kembali Ramsey di musim-musim berikutnya. Sebaliknya, kontrak Arsenal memperbolehkan Cardiff apabila ingin menggunakan jasa Ramsey untuk sementara.

Faktor lainnya adalah pengaruh dari Terry Burton, asisten dari Jones yang dulunya adalah pemain Arsenal. Ia meminta kepada Ramsey untuk memikirkan kembali keputusannya menerima pinangan United. Menurut Burton, gaya permainan Ramsey yang menggunakan kecepatan lebih cocok diperagakan di Emirates Stadium alih-alih Old Trafford.

Hal itu akhirnya mengubah pendirian Ramsey. Ia akhirnya menerima tawaran Arsenal. Dan setibanya ia di kota London, Ramsey merasa kalau pilihannya sangat tepat. “Segera setelah saya datang, saya melihat beberapa pemain terbesar di dunia sepakbola. Mereka membuat saya merasa diterima dan membuat saya tidak berbeda satu sama lain,” tuturnya.

“Saya mendukung United ketika anak-anak tetapi setelah saya berbicara dengan Arsene (Wenger), bagaimana cara dia membangun tim dan rencana mereka di masa depan mengesankan saya. Saya merasa ini langkah yang tepat bergabung dengan Arsenal, tempat terbaik untuk berkembang. Cara Arsene mengelola pemain muda adalah yang terbaik. Ia benar-benar cerdas.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Ramsey tersebut membuat kuping Ferguson panas. Dalam autobiografinya, Ferguson menuliskan kemarahannya ketika mendengar Ramsey menyinggung kapasitasnya dalam menangani talenta muda.

“Saya tak masalah dia menolak bergabung dengan kami. Tetapi ia membuat pilihan yan salah. Ucapannya soal Arsenal yang memproduksi pemain lebih banyak dari United membuat saya berkata “memangnya kamu selama ini ke mana saja?” Walaupun persaingan di United sulit, tapi Arsenal lebih mengembangkan pemain dan itu beda dari memproduksi pemain sendiri.”

“Mereka merekrut pemain lain dari luar lalu mereka kembangkan. Hanya Jack Wilshere yang mungkin binaan murni akademi mereka. Giggs, Neville, Scholes, Fletcher, O’Shea, Brown, dan Welbeck adalah produk asli Man United” tuturnya 2013 lalu.

Jika melihat ucapan Ferguson, maka Ramsey bisa dikatakan salah dalam memilih kesebelasan. Sejak dia bergabung di Arsenal, United telah mengumpulkan 13 trofi diantaranya adalah tiga gelar liga, satu gelar Europa League, dan satu gelar Piala Dunia Antar Klub, Sementara Ramsey baru memberikan lima gelar bagi Arsenal.

Sumber: Express, Wales Echo, Republic of Manchunia, My autobiography, Evening Standard

Comments