Foto: The42

Jika pemilik klub yang bebal macam George Gillet dan Tom Hicks saja bisa ditumbangkan melalui tekanan dari para suporternya, maka hal serupa juga bisa terjadi kepada rezim kelurga Glazer.

***

Oktober 2009, Liverpool bersiap menjamu tamu abadinya Manchester United di Anfield. Namun sebelum mereka mengumandakan chant penyemangat di tribun penonton, mereka ingin mengeluarkan amarahnya kepada sang pemilik klub terkait nasib kesebelasan kesayangan mereka.

Sebuah grup bernama The Spirit of Shankly (SOS) melakukan long march dari wilayah Breck Road menuju Anfield. Mereka menuntut duet Gillet dan Hicks segera menjual sahamnya kepada orang lain demi menyelamatkan Liverpool yang terus mengalami keterpurukan. Sepanjang long march, mereka membentang beberapa spanduk yang mayoritas berisi kecaman kepada keduanya.

Liverpool penuh dengan utang. Janji-janji yang diumbar Gillet dan Hicks seperti stadion baru di kawasan Stanley Park juga tidak terealisasi. Perekrutan pemain hanya menyasar pemain-pemain kelas menengah. Manajer yang membawa mereka menjuarai Liga Champions kelima, Rafael Benitez, dipecat karena dianggap tidak bisa memberikan prestasi meski kenyataannya Benitez dipecat karena tidak suka dengan dua sosok itu.

Pada Oktober 2010, Gillet, Hicks, serta tiga orang dewan direksi lainnya yaitu Ian Ayre, Christian Purslow, dan Martin Broughton menggelar rapat tertutup. Kecuali Hicks dan Gillet, ketiganya setuju untuk menjual Liverpool karena tidak kuasa terhadap tekanan suporter. Kalah suara, Hicks dan Gillet terpaksa keluar dari Anfield dan digantikan oleh John W. Henry melalui Fenway Sports Group. Sembilan tahun kemudian, The Reds kembali mengangkat trofi Liga Champions.

Utang-Utang yang Tidak Kunjung Lunas

Tiga Minggu setelah Jordan Henderson mengangkat Si Kuping Besar, beberapa pendukung Manchester United berniat untuk melakukan gerakan serupa. Gerakan untuk menjatuhkan rezim keluarga Glazer yang sudah tidak pantas lagi menjadi pemilik klub ini. Beberapa starter pack seperti syal kuning-hijau dan tulisan Love United Hate Glazer kembali disiapkan untuk musim depan. Di media sosial, hashtag #GlazersOut menjadi topik yang paling sering dibicarakan di UK dan sempat masuk trending topic dunia.

Jika melihat perolehan trofi United di era kepemilikan Glazer, United sebenarnya masih jauh lebih bagus dibandingkan Liverpool era Gillett dan Hicks atau bahkan Henry. Mereka memenangi lima trofi Premier League, serta masing-masing menjuarai Liga Champions, Liga Europa, dan Piala FA, serta dua kali masuk final Liga Champions. Namun alih-alih menilai pencapaian tersebut berkat keluarga Glazer, para suporter jelas lebih senang kalau menyebut pencapaian tadi berkat kehebatan seorang Alex Ferguson dan David Gill. Ada senyum yang sulit untuk dideskripsikan ketika melihat prestasi United di bawah Glazer. Entah senyum bahagia, kecut, pilu, atau bahkan penuh dengan kebencian.

Upaya menjatuhkan keluarga Glazer bukan kali ini saja terjadi. Sejak Malcolm Glazer datang pada 2005, para pendukung United sudah melakukan penolakan. Apalagi ketika mereka tahu kalau United dibeli dengan modal yang dipinjam dari bank dan menjadikan aset klub sebagai jaminan sehingga membuka peluang untuk Manchester United memiliki utang yang menumpuk.

Dan itulah yang terjadi. Setan Merah yang sebelumnya tidak punya utang, kini memiliki utang yang nilainya ratusan juta paun. Bahkan utang mereka sempat menyentuh hingga 1 miliar dolar (14 triliun rupiah jika memakai kurs saat ini). 13 tahun setelah kedatangannya, utang itu tidak kunjung lunas. Dilansir dari Guardian, hingga September 2018 lalu utang United masih menyentuh angka 487 juta paun (8 triliun rupiah).

Hal ini yang kemudian membuat United lambat laun menjadi kesebelasan yang gemar mencari sponsor ketimbang fokus mencari prestasi. Sisi komersial terus ditingkatkan sementara performa tim di atas lapangan menjadi prioritas kesekian. Nasib manajer United tidak ubah layaknya kondisi Benitez di Liverpool. Dipecat karena mengkritik kebijakan mereka.

Prestasi Cukup, Saatnya Menjadi Mesin Uang

Meski Glazer dan Ed Woodward (Wakil Ketua Dewan Eksekutif) terus berkata manis kalau prestasi di lapangan tetap menjadi target utama, namun suporter sudah tidak percaya lagi. Ada kesan kalau apa yang sudah diraih bersama Ferguson dulu sudah cukup bagi United dan sekarang waktunya mereka mengubah klub ini menjadi sebuah entitas bisnis dengan cara mengeruk sponsor sebanyak-banyaknya.

“Tidak perlu trofi untuk menarik minat sponsor. Kalau tim mengalami kekalahan, Anda tetap akan menonton kami dan membeli jersey. Kenyataannya kan tim tidak selalu meraih kemenangan. Contoh saja Liverpool yang tetap bisa menjual jersey meski belum pernah juara liga lagi sejak 1990. Jika kami menjalani musim yang buruk, maka kami akan melawannya dengan finansial yang kuat.” Kata Woodward.

Dalam beberapa tahun terakhir, United masih menjadi yang terdepan soal kesebelasan dengan pendapatan tertinggi. Pada bursa transfer pun mereka masih gemar dan mampu membeli pemain-pemain bintang. Kesannya tidak pelit seperti Arsenal, namun rekrutan mereka haruslah pemain-pemain yang penjualan jersey­-nya bisa laris manis di pasaran. Hal ini yang kadang membuat United kerap membeli pemain-pemain yang sebenarnya tidak dibutuhkan seperti Angel Di Maria atau Paul Pogba.

Kedua pemain tersebut tidak diinginkan oleh Van Gaal dan Jose Mourinho. Saat keduanya butuh pemain yang mereka mau, manajemen United akan mengkaji ulang dengan berpatokan terhadap sisi komersil si pemain. Kalau dirasa kemahalan, maka yang dicari adalah pemain-pemain yang levelnya kelas dua atau bahkan kelas tiga dari pemain incaran si pelatih.

Sudah menumpuk utang, Malcolm Glazer jugat tidak pernah nongol di Old Trafford. Jika Roman Abramovich, John W. Henry, atau Sheikh Mansour masih beberapa kali menyempatkan diri menonton timnya bertanding, maka Malcolm hanya menyuruh anak-anaknya untuk duduk di tribun Old Trafford. Inilah yang membuat kepergiannya pada 2014 lalu tidak terlalu ditangisi oleh para penggemar klub.

“Sebagai seorang suporter, saya menyadari efek kerugian klub ini karena keluarga Glazer dan utang besar yang dibebankan kepada Manchester United,” tutur salah satu suporter United.

Melawan Sikap Bebal Keluarga Glazer

Keluarga Glazer bukan orang yang bodoh. Mereka semua adalah pengusaha yang cerdas. Saking cerdasnya, batas antara cerdas, bebal, dan licik ternyata setipis benang sutra. Selalu ada saja cara untuk membuat situasi nampak baik-baik saja meski rasa marah para pendukung United sudah mencapai taraf yang luar biasa.

Pembentukan klub tandingan seperti FC United of Manchester juga tidak terlalu berpengaruh. Faktanya, nama besar United sudah menguasai dunia sehingga orang-orang Manchester yang menolak hadir ke Old Trafford sudah bisa digantikan oleh turis-turis yang ingin datang mengenang sejarah klub ini.

Pada 2010, sekelompok penggemar United bernama Red Knights berniat membeli United dengan bantuan para penggemar, namun upaya itu gagal. Glazer memilih untuk melepas saham klub ke publik sebesar 10 persen saja sementara sisanya dikuasai sendirian. Hal ini bertujuan agar dinastinya tidak akan hancur oleh orang lain. Dan itulah yang terjadi saat ini. Ketika ia sudah meninggal, rezimnya masih tersisa yang diwakili oleh anak-anaknya.

Aksi #UnfollowUnited sempat dilakukan meski hanya berhasil beberapa saat saja. Penurunan followers media sosial United langsung mereka imbangi dengan beberapa akun robot demi menyeimbangkan popularitas mereka agar tidak turun. Pada musim depan, para suporter berjanji untuk meningkatkan kembali pergerakan mereka untuk mengusir keluarga Glazer dari kota Manchester.

Hingga pergerakan itu membuahkan hasil, United akan terus bergerak seperti sebelumnya. Sebisa mungkin menjadi klub sepakbola meski identitasnya kini sudah berubah menjadi mesin uang untuk keluarga Glazer.

Butuh usaha ekstra keras bagi para suporternya apabila mereka ingin melihat rezim Glazer tumbang. Namun jika suporter Liverpool saja bisa menghancurkan rezim Gillet dan Hicks, maka United pun bisa melakukannya. Hanya saja lawan mereka adalah orang yang punya banyak siasat. Orang-orang yang mewakili sifat bebal ala Malcolm Glazer yaitu keenam anaknya yang masing-masing memegang 15% dari 90% saham United yang mereka kuasai.