in

Pandangan Ferguson terhadap Penggawa Class of ’92: David Beckham

Menjadi salah satu dari enam nama Class of ’92 tentu membuat David Beckham bangga. Generasi tersebut menjadi tulang punggung Manchester United dalam meraih kesuksesan lebih dari satu dekade setelahnya.

Perjudian Sir Alex Ferguson pada awal karirnya terbayar sudah. Namun Beckham bukanlah dua orang yang menemani Ferguson hingga akhir karirnya. Ia hijrah ke Real Madrid pada busa transfer musim panas 2003.

Tak dapat dipungkiri bahwa Beckham adalah pesepakbola yang luar biasa. David Beckham sempat dimpinjamkan ke Preston North End dan tampil amat menawan. Setelah kembali ke Old Trafford, Beckham yang masih berusia 20 tahun, ia sudah menjadi andalan Fergie. Pemain asal Inggris ini meraih 13 trofi dalam 11 tahun karirnya bersama United yang juga dihiasi dengan 394 penampilan dan 85 gol, termasuk gol spektakulernya ke gawang Wimbledon yang membuat ia semakin terkenal.

Meski begitu, Ferguson tidak benar-benar melihat Beckham sebagai pesepakbola yang luar biasa. Secara permainan di atas lapangan, Ferguson memang mengagumi sosok Beckham. Namun, pria asal Skotlandia tersebut tidak menyukai beberapa hal yang ada pada diri Beckham. Hal tersebut membuat Beckham akhirnya mengakhiri karirnya di United.

“Yang paling penting dalam pekerjaan saya adalah kendali. Kalau mereka sudah mengancam kendali saya, saya singkirkan mereka,” begitulah yang ada dalam pikiran Ferguson sepanjang karirnya. Sehingga tidak aneh jika melihat nama-nama seperti Beckham, Roy Keane, dan Ruud van Nistelrooy akhirnya hengkang dari United meski sempat menjadi idola disana.

Ferguson memang merasa Beckham mengganggu otoritasnya di United. David Beckham bukan seperti Keane, yang pengaruhnya di ruang ganti sangat besar. Namun Beckham pernah melawan Ferguson yang mengkritik permainannya. Ferguson memang memandang Beckham sebagai orang yang tidak terpengaruh terhadap kesalahan.

Bechkam bisa menjalani pertandingan yang buruk, namun ia tidak akan merasa demikian. Ia akan tetap merasa dirinya telah melakukan hal yang benar dalam sebuah pertandingan. Beckham sangat protektif dan tidak akan mengakui jika bermain buruk dan membuat kesalahan. Hal tersebut awalnya membuat Ferguson kagum, karena artinya David Beckham tak akan mengalami krisis kepercayaan diri. Tapi sifat tersebut rupanya menjadi awal dari keretakan hubungan keduanya.

Pada pertandingan babak kelima Piala FA pada Februari 2003, United tampil buruk dan Arsenal menghajar mereka dua gol tanpa balas di Old Trafford. Seusai pertandingan, Ferguson mengkritik permainan Beckham yang jarang turun membantu pertahanan dan akhirnya berbuah gol kedua Arsenal yang dicetak Sylvain Wiltord. Beckham hanya berlari santai dan tidak bisa mengejar WIltord. Seperti biasa, Beckham membela dirinya.

Ferguson benar-benar marah dengan performa tim saat itu, ditambah dengan ulah Beckham yang selalu merasa benar. Di ruang ganti, Ferguson berjalan mendekati Beckham yang berjarak 3,5 meter darinya. Tak mampu menahan emosi, Ferguson menendang sepatu yang tergeletak di lantai dan mengenai alis Beckham. Tentu David Beckham marah dan sempat ingin menerjang Ferguson, namun pemain lain segera menghentikan dan Ferguson memarahinya.

“Duduk. Kamu sudah mengecewakan tim. Silakan bikin alasan semaumu,” ujar Ferguson.

Hari berikutnya, masalah kian membesar. Beckham dipanggil Ferguson untk membahas video pertandingan dan Beckham tetap tidak mengakui kesalahannya. Dia tidak bicara sepatah kata pun. Keesokannya, media meliput alis Beckham yang diplester. Tak lama kemudian, Ferguson memberi tahu petinggi klub bahwa Bekcham harus pergi.

Hal negatif lain pada diri Beckham yang tidak disukai Ferguson adalah status selebritasnya. Ferguson kecewa dengan Beckham yang sangat mementingkan gaya. Pada suatu ketika, Ferguson pernah memarahi Beckham yang memakai kupluk saat makan malam tim dan pemanasan sebelum pertandingan. Ferguson semakin marah ketika mengetahui alasan Beckham memakai kupluk adalah model rambutnya yang botak.

Ferguson sangat menyayangkan pilihan Beckham. Ferguson merasa Beckham membuat keputusan yang menyulitkan dirinya sendiri ketika berusia 22 tahun, yaitu dengan mengubah gaya hidupnya menjadi artis. Padahal Ferguson tahu benar bagaimana Beckham muda sangat rajin dalam berlatih.

Di sisi lain, Fergsuon sangat mengagumi kinerja Beckham. Etos kerja tinggi yang diperlihatkan Beckham selama karirnya membuat Ferguson terkesima. Beckham benar-benar serius menjaga staminanya. Itulah yang membuat ia dapat berlari ke seluruh penjuru lapangan saat pertandingan. Bahkan Beckham juga masih bisa bermain hingga 38 tahun. Penampilannya di LA Galaxy, AC Milan, dan PSG pun membuat Ferguson merasa bahwa Beckham memang memiliki kualitas.

Kegigihannya juga dipuji oleh Ferguson, baik dalam sepakbola atau dalam hal lain yang ia kerjakan. “Dia memukai saya dan semua orang di Manchester United. Apa pun yang dia kejar dalam hidupnya, akan terus dia kejar,” ungkap Ferguson dalam buku otobiografinya.

Editor: Frasetya Vady Aditya
Sumber: buku otobiografi Alex Ferguson "My Autobiography"
Facebook Comments