in

Hal-Hal yang Bisa Dipelajari Mourinho dari Conte (Bagian 2)

Conte Tidak Ingin Media Memengaruhi Pemainnya

Selain kepemimpinan manajer, kesuksesan sebuah klub juga bergantung pada performa pemain di atas lapangan dan sudah menjadi tugas seorang manajer untuk memastikan hal itu. Performa pemain tak hanya didukung oleh kualitas teknikn fisik, dan taktik, tapi juga ada aspek moral yang harus diperhatikan.

Moral seorang pemain dapat dipengaruhi dari berbagai hal. Pada sepakbola modern ini, media berpengaruh cukup besar terhadap banyak hal di sepakbola, termasuk moral pemain. Jika manajer tidak mampu mengendalikan jawaban dari pertanyaan yang ‘menjebak’ dari media, tentu akan mempengaruhi moral seorang pemain.

Mourinho pernah beberapa kali mengkritik pemain lewat media. Pemain-pemain seperti Luke Shaw, Anthony Martial, hingga Marcus Rashford pernah menjadi korbannya karena penampilan yang kurang baik. Hasilnya memang bermacam-macam, jika pemain tersebut memiliki moral yang baik, maka dengan kritikan di depan media akan membuatnya menjadi lebih baik. Tapi bukan tidak mungkin terjadi hal yang berlawanan.

Sementara itu, Conte memiliki cara berbeda dalam mengatasi masalah serupa. Diego Costa pernah dikabarkan cekcok dengan Conte dan akan segera hengkang ke Tiongkok pada pertengahan Januari. Ketika ditanya media tentang spekulasi Costa, jawaban Conte sangat berbeda dengan Mourinho.

“Saya membaca banyak spekulasi tentang topik ini dan saya beri tahu Anda jika ada masalah dengan pemain saya, saya akan menyelesaikannya di ruang ganti, bukan di luar, bukan di konferensi pers,” ujar Conte.

Hasilnya? Costa tetap berada di London dan terus memberikan kontribusi bagi Chelsea hingga keluar sebagai juara Liga Primer. Media tidak mengetahui secara pasti apa yang dilakukan Conte, namun media tahu bahwa Conte berhasil menyelesaikan masalah tersebut.

Intinya, Conte lebih memilih untuk tidak melibatkan media pada masalah dengan pemain. Karena sedikit atau banyak, media pasti berpengaruh. Yang pasti, manajer tidak bisa mengatur media sehingga dampak negatif yang mungkin timbul tidak terelakan.

Mourinho Harus Mau Menjadi Bukan Sepenuhnya Mourinho

Dalam bidang bisnis, inovasi adalah salah satu hal penting yang harus diperhatikan sebuah perusahaan. Karena dengan inovasi yang tidak pernah berhenti, sebuah perusahan akan tetap stabil di atas. Sepakbola sebenarnya tidak jauh berbeda. Orang-orang yang berkecimpung dalam sepakbola perlu berinovasi, mereka butuh perubahan demi tetap stabil di atas.

Sebenarnya, semua perbandingan Mourinho dan Conte yang telah disebutkan bisa dijawab dengan kalimat ‘Itu kan Conte, kalau Mourinho ya beda lagi’. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar jika harapannya adalah meraih gelar juara. Seperti yang sudah disebutkan, sepakbola itu dinamis dan tidak bisa melakukan hal itu-itu saja dari musim ke musim.

Jika ingin mendapatkan contoh, lihat manajer si tetangga berisik itu. Guardiola tak mampu meraih satu pun gelar di musim pertamanya di Inggris. Padahal filosofi tiki taka yang ia terapkan mampu membaut Barcelona menjadi momok menakutkan.

Mourinho sendiri sebenarnya bukanlah manajer yang fleksibel. Seuasi mengkritik Shaw dan Martial, Mourinho tidak ingin berpikir konsekuensi tersebut. Karena ia sendiri yang mengungkapkan bahwa dia ingin menjadi dirinya sendiri.

“Saya tidak peduli. Saya bahkan tidak memikirkannya. Saya hanya mencoba untuk menjadi diri saya. Saya anya mencoba untuk jujur dan langsung, dan saya tidak memikirkan konsekuensinya,” ungkap Mourinho.

Bentuk pemikiran seperti itu bisa saja memenangkan gelar bagi klubnya, namun tidak dalam waktu yang lama. Perlahan lawan akan mengetahui kekuatan dan kelemahannya sehingga bisa mengeksploitasi kelemahan tersebut. Untuk Conte sendiri, masih terlalu dini mengingat karir kepelatihannya terbilang belum lama.

*

Dalam kehidupan, kita tentu harus terus belajar dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Dalam bidang sepakbola, meski kerap membesar-besarkan klub kebanggaan, namun adalah sebuah hal yang penting untuk melihat sisi positif dari klub lain yang mendapat trofi lebih banyak. Dalam kasus ini, Mourinho pun bisa belajar dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki Conte.

Facebook Comments