in

Bagaimana Manchester United Mengubah Jose Mourinho

Di era keduanya bersama Chelsea, Jose Mourinho terkenal karena skema bertahan atau “parkir bus”-nya. Faktanya, skema ini juga sudah dilakukan Mourinho sejak pertama kali melatih Chelsea pada 2004/2005. Setidaknya itu yang diceritakan oleh Petr Cech.

Beberapa waktu lalu, Cech membangingkan Mourinho dengan pelatihnya di Arsenal, Arsene Wenger. Salah satu hal yang amat berbeda adalah bagaimana cara keduanya berpikir tentang pertandingan. Wenger lebih mementingkan proses, sementara Mou lebih mementingkan hasil. Wenger ingin bermain indah, sementara Mou asal menang.

Sialnya, banyak orang yang tidak setuju dengan proses. Sebagus apapun Anda bermain, itu tak berpengaruh apa-apa kalau Anda kalah. Salah satu bukti konkretnya adalah bagaimana orang-orang sering menganggap Arsenal sebagai bahan lelucon karena selalu duduk di peringkat keempat. Arsenal diingat sebagai lelucon, bukan karena sepakbola indahnya.

Di sisi lain, Mou sejatinya tak bisa juga dibilang mementingkan hasil akhir. Di Manchester United, seolah ada beban psikologis buat Mourinho untuk bermain indah, seperti yang biasa dilakukan oleh Sir Alex Ferguson. Lagipula, Mou punya amunisi yang cukup untuk melakukan itu di United.

Hal ini terbukti dari bagaimana The Red Devils bermain kala menghadapi FC Basel di pertandingan pertama Liga Champions musim 2017/2018. Setelah unggul 1-0 lewat gol Marouane Fellaini, United tak sedikitpun mengendurkan serangannya. Bahkan, setiap Basel melakukan tendangan gawang, tiga pemain United ada di area depan kotak penalti, yang membuat kiper Basel harus melambungkan bola jauh ke tengah.

Setelah unggul 2-0 lewat gol Romelu Lukaku pada menit ke-53, Mou pun tak memasukkan gelandang atau pemain bertahan. Mou malah memasukkan Jesse Lingard pada menit ke-69 menggantikan Anthony Martial, serta Marcus Rashford pada menit ke-77 menggantikan Juan Mata. Ketiganya pun diplot saling menggantikan. Bedanya, Rashford ditempatkan di kiri, sementara Lingard di kanan.

Dua pergantian ini pun membuahkan hasil. Pada menit ke-84, berawal dari serangan di sisi kanan, Fellaini mengirimkan umpan tarik ke dalam kotak penalti. Bola sempat memantul kaki bek Basel, untuk kemudian disapu Mkhitaryan yang meleset. Bola kemudian bergulir ke arah Rashford yang melepaskan tendangan dengan indah.

Setelah unggul 3-0, United sama sekali tak mengurangi intensitas serangan. Bahkan, berkali-kali Lingard melakukan pressing ketat untuk membuat para pemain Basel tidak nyaman saat menguasai bola.

Alhasil, serangan Basel pun menjadi kacau balau. Banayak umpan yang diarahkan dengan tidak sempurna, yang berakibat pada minimnya ancaman buat gawang United yang dikawal David De Gea.

Total, Basel hanya mencatatkan 78 persen umpan sukses berbanding 87 persen milik Manchester United. Basel juga tercatat tujuh kali kehilangan bola karena direbut oleh para pemain Setan Merah.

Apa yang ditunjukkan Jose Mourinho dalam pertandingan melawan FC Basel agaknya menunjukkan kalau ada perubahan yang cukup signifikan pada Mourinho. Kini, cara pandang Mou terhadap hasil akhir pertandingan berbeda. Ia seolah berpikir, kalau bisa menang 3-0, untuk apa bertahan saat baru menang 1-0.

Kalau Anda menjadi Mourinho, pilihan apa yang akan Anda ambil? Bermain indah atau asal menang?

Facebook Comments