in

[Duel Klasik] Ketika Filosofi Louis van Gaal Tidak Berjalan Baik

Jelang pertandingan Manchester United menghadapi Swansea City, ingatan penulis dibawa kembali pada tiga tahun silam. Ketika itu di musim 2014/2015, Iblis Merah bertemu dengan Si Angsa dalam partai pertama sekaligus pembuka di Premier League.

Pada 16 Agustus 2014, Louis van Gaal melangkah dengan percaya diri di Teater Impian. Ia siap melihat filosofi 3-5-2 nya akan berjalan dengan baik layaknya pra musim di mana mereka mampu memenangi seluruh laga uji coba. Mereka hanya akan bertemu Swansea yang belum menemukan kestabilan di bawah Gary Monk.

LVG menurunkan tiga pemain yang berstatus debutan. Ander Herrera, Tyler Blackett, dan Jesse Lingard, diturunkan sejak menit awal. Wayne Rooney dan Hernandez diturunkan sebagai duet penyerang. Sementara Swansea bisa menurunkan kembali Ki Sung Yueng yang sebelumnya dipinjamkan ke Sunderland.

Akan tetapi, permainan Setan Merah ketika itu tidak sesuai seperti dengan apa yang mereka lakukan di pramusim. United tidak bisa menguasai bola dengan baik. Lingard dan Young yang diturunkan sebagai wingback justru lebih banyak bertugas untuk mengamankan lini pertahanan.

Lingard bahkan hanya 24 menit saja merasakan kerasnya Liga Inggris. Ia mengalami cedera dan harus digantikan oleh Adnan Januzaj. Peluang yang didapat United bahkan tidak membahayakan gawang Fabianzki sekalipun.

Empat menit setelah kehilangan Lingard, United pun kebobolan. Gylfi Sigurdsson yang menerima bola dari Nathan Dyer mengacak-ngacak pertahanan United sebelum memberikan bola kepada Ki Sung Yueng yang tidak terkawal di luar kotak pinalti. Pemain Korea Selatan tersebut kemudian melepaskan tendangan yang tidak bisa dijangkau oleh David De Gea.

Di babak kedua, Wayne Rooney terus memborbardir lini pertahanan Swansea. Upaya mereka kemudian merubah papan skor. Sepak pojok yang dilakukan Juan Mata mengarah ke kepala Phil Jones. Bola yang bergerak ke belakang kemudian langsung dimanfaatkan oleh Wayne Rooney melalui tendangan salto tepat di mulut gawang Swansea. Menit ke-66, Wazza yang berstatus kapten United tersebut melepaskan tendangan bebas yang masih membentur mistar.

Keasyikan menyerang, gawang De Gea kembali kebobolan. Di sisi kiri penyerangan Swansea, Jefferson Montero berhasil mengelabui Ashley Young sebelum melepaskan umpan ke sisi kanan. Routledge yang tidak dikawal dengan baik oleh Phil Jones kemudian melepaskan tembakan yang diteruskan dengan baik oleh Gylfi Sigurdsson. Proses gol yang mirip-mirip dengan gol pertama memanfaatkan kesalahan para pemain belakang Setan Merah.

United terus menekan, termasuk dari tendangan Rooney yang justru diblok Hernandez di depan gawang The Swans. Di menit terakhir umpan Januzaj membentur tangan dari Angel Rangel namun wasit Mike Dean tidak memberikan penalti. Sampai akhir pertandingan skor tetap 1-2 untuk Swansea yang meraih kemenangan pertamanya atas United di Old Trafford sekaligus membuat United takluk di pertandingan pertama di rumahnya sendiri sejak 1972.

Setelah pertandingan Van Gaal mengungkapkan, “Ini bukan level permainan kami. Kami tidak bermain sebagai sebuah tim karena memberikan ruang yang cukup banyak untuk mereka di babak kedua. Kami bermain lebih menekan namun mereka mencetak satu gol lagi.”

Ia menambahkan, “Fans lebih kecewa. Mereka berekspektasi tinggi karena di uji coba kami selalu menang. Ketika Anda kalah di laga pertama, maka semua yang terlibat seperti saya, pemain, dan fans sangat kecewa. Hari yang buruk bagi kami.”

Sementara manajer Swansea Gary Monk mengatakan, “Kunci dari kemenangan ini adalah kebersamaan dan kolektivitas antar tim. Kami punya rencana di laga ini dan mereka menjalankannya dengan sangat baik.

LVG merasa bahwa laga ini bukanlah penentu gelar juara karena masih ada 37 laga lagi setelah itu. Akan tetapi laga ini benar-benar mengubah rasa optimisme para penggemar Setan Merah berubah menjadi rasa pesimis. Terbukti dalam enam laga setelahnya United hanya menang satu kali dan mengalami dua kekalahan yang terbilang memalukan. Salah satunya dibantai 0-4 atas MK Dons.

Facebook Comments

Written by Ajie Rahmansyah

Ajie Rahmansyah

Penulis yang seumur hidupnya mencintai Manchester United dan Sepakbola