in

Fakta di Balik Pemecatan Louis van Gaal

Sesaat setelah Piala Dunia 2014 berakhir, Manchester United menunjuk Louis van Gaal sebagai manajer anyar menggantikan David Moyes. Kehadiran Si Tulip Besi ketika itu diharapkan mampu membuat Iblis Merah keluar dari bayang-bayang kelam ketika mereka masih diasuh David Moyes. Saat itu, LVG diberikan kontrak tiga musim sampai 2017. Namun, ia hanya bertahan dua tahun untuk kemudian mendapatkan pemecatan.

Meski meraih Piala FA 2016, namun beberapa penggemar United sudah kadung tidak menyukai Van Gaal. Penguasaan bola yang membosankan serta beberapa kali meraih kekalahan dari lawan yang lebih lemah menjadi alasan pemecatan pria 66 tahun tersebut.

Baru-baru ini, pria kelahiran Amsterdam tersebut menceritakan kronologi pemecatan yang diterimanya pada akhir musim 2015/2016. Ketika itu Van Gaal mengungkapkan bahwa manajemen United sebenarnya sudah menginginkan dirinya untuk dipecat sejak Januari 2016. Faktor Jose Mourinho yang juga dipecat oleh Chelsea sebulan sebelumnya menjadi alasan bahwa masa depan LVG ketika itu hampir berakhir.

“Tekanannya sangat besar dengan kepala saya seperti terikat dan mereka (manajemen United) berjalan tepat di belakang saya. Saya pikir itu semua (pemecatan) sudah direncanakan dan sudah dilakukan jauh sejak bulan Januari,” ujarnya kepada harian Belanda, Algemeen Dagblad.

Ia menambahkan, “Saya mengerti bahwa United sudah menginginkan Mourinho. Tiba-tiba Mourinho keluar setelah satu setengah musim dan saya tahu bahwa United menginginkan mereka suatu hari nanti.”

Manajer yang membawa Ajax juara Liga Champions 1995 tersebut sebenarnya cukup yakin bahwa dirinya tidak akan mengalami pemecatan dan menghabiskan tiga musim bersama United. Akan tetapi ia justru dipecat dua hari setelah United meraih Piala FA yang ke-11-nya. Pemutusan hubungan kerja secara mendadak inilah yang membuat Van Gaal masih menyimpan rasa sakit hati kepada manajemen Iblis Merah.

“Mereka berbicara kepada saya (mengenai pemecatan saya) setelah beberapa berita pemecatan bocor di media. Itulah salah satu kekecewaan terbesar dalam hidup saya. United tidak membicarakan hal ini kepada saya,” tuturnya menambahkan.

“Jika mereka datang kepada saya dengan mengatakan bahwa Mourinho akan datang maka saya bisa mengatakan ‘baiklah, ayo berikan semuanya selama enam bulan terakhir. Mari berkomitmen satu sama lain untuk tim dan kemudian Jose Mourinho mengambil alih. Mereka bisa menyimpan gaji di tahun terakhir saya tapi setelah kejadian itu, saya memuat mereka membayar setiap sennya.”

Selain itu alasan komersial juga disebut-sebut menjadi faktor mengapa United merekrut Mou. Menurut LVG, CEO United, Ed Woodward, lebih menyukai nama besar seorang Jose Mourinho ketimbang dirinya.

Ia mengatakan, “Di Manchester United, keseimbangan keuangan berujung pada sisi komersial. Apakah mereka tidak senang dengan penampilan tim di bawah manajemen saya? Tidak.”

“Tapi tiba-tiba mereka mendapatkan Mourinho untuk jangka waktu yang panjang. Seorang manajer dengan nilai komersial terbesar di dunia. Apa yang saya katakan ini persis dikeluarkan oleh Ed Woodward sehari setelah final Piala FA,” ujarnya.

Di sisi lain, Jose Mourinho menyebut bahwa United menjalani periode yang kelam ketika diasuh oleh kedua pendahulunya tersebut. The Special One bahkan menyindir bahwa sebelum kedatangannya Manchester United seperti sebuah kesebelasan yang tanpa perubahan.

“Ada evolusi di klub lain, tapi tidak di klub ini.  Itu adalah periode kosong dalam sebuah klub yang tanpa evolusi di beberapa tempat. Itu adalah beban yang ditangung oleh pemain, manajer, bahkan dewan hingga ke pemilik. Karena ketika Anda terbiasa menang, menang, dan menang, lalu tiba-tiba berhenti, maka itu seperti beban berat,” ujarnya kepada Sunday Times.

Ia menambahkan, “Hari ini, kami memiliki kondisi pekerjaan yang lebih baik. Departemen medis yang lebih baik, departemen analisis yang lebih baik, departemen pencarian bakat yang lebih baik hinga departemen media yang lebih baik. Dan dalam banyak kasus, kami melakukannya tanpa mengubah orang-orang penting.”

Sumber: Daily Mail, ESPN, Sunday Times, Mirror

Facebook Comments

Written by Ajie Rahmansyah

Ajie Rahmansyah

Penulis yang seumur hidupnya mencintai Manchester United dan Sepakbola